Masjid Jami Sultan Nata Warisan Kesultanan Sintang

Masjid Jami Sultan Nata Warisan Kesultanan Sintang

Di provinsi Kalimantan Barat terdapat sebuah bangunan masjid yang merupakan peninggalan sejarah.masjid tersebut berada di sebelah barat Istana Al Mukarromah Kesultanan Sintang. Tepatnya lokasi masjid ini berada di Jalan Bintara No. 22 Limgkungan 1 RT 02 RW 01 Kelurahan Kapuas Kiri HILIR, Kecamatan Sintang Kabupaten Sintang Kalimantan Barat. Masjid ini bernama masjid Jami Sultan Nata.

Masjid Jami Sultan Nata mulai dibangun pada tanggal 12 Muharram 1883 Hijriyyah atau pada tanggal 10 Mei 1672 Masehi. Saat pembangunan masjid ini bertepatan dengan penobatan Sultan Nata yang diangkat sebagai seorang Raja. Pada saat penobatan Sultan Nata, beliau masih muda yaitu masih berusia sepuluh tahun. Ketika itu juga beliau mendapatkan gelar dengan nama SultanNata  Muhammad Syamsudin Sa’adul Khairiwaddin. Beliau juga merupakan seorang Raja ke 3 dalam sejarah Kerajaan Sintang di Kalimantan Barat.

masjid jami' sultan nata sintang

Pada saat pembangunan masjid Jami Sultan Nata, masjid ini didirikan dengan Sembilan tiang penyangga utama. Hebatnya, pada saat pemasangan tiang tersebut hanya dilakukan dalam satu malam saja ketika penobatan Sang Sultan di hari yang sama. Secara keseluruhan, masjid Jami Sultan Nata telah selesai pembangunannya dalam kurun waktu dua tahun. Masjid ini juga merupakan sebuah pusat dalam penyebaran agama Islam di Kalimantan Barat khususnya di wilayah Sintang.

Dalam membangun masjid ini merupakan salah satu dari tujuh kesepakatan kerabatan kesultanan yang harus dilaksanakan oleh Sultan Nata. Kesepakatan tersebut antara lain mendirikan sebuah istana sebagai tempat tinggal sang Raja, mendirikan bangunan masjid, membuat undang-undang, menulis silsilah raja, membuat jalan di sepanjang tepian sungai, Raja bergelar Sultan dan memerintahkan seorang penghulu Luan untuk mengambil Al-Qur’an tulisan tangan ke Banjar. Semuanya harus dilakukan oleh Sultan Nata.

Sebenarnya pada saat pembangunan masjid Jami Sultan Nata termasuk mendesak karena umat muslim sudah mulai banyak berkembang di Sintang. Namun belum terdapat sebuah bangunan untuk melaksanakan shalat bagi umat muslim. Oleh karena itu pembangunan masjid tersebut dilaksanakan secepat mungkin.

Awalnya agama Islam masuk ke Sintang sekitar abad ke 16 yang dimulai oleh seorang Raja ke 17 yaitu Pangeran Agung. Beliau juga menjadi seorang Raja Islam pertama di Sintang. Sebelum memeluk pagama Islam, Pangeran Agung memiliki keyakinan agama Hindu. Penyebaran agama islam sendiri dimulai oleh seorang ulama besar yang bernama Muhammad Saman berasal dari Banjarmasin dan Erick Somad berasal Sarawak Malaysia.

interior masjid jami' sultan nata sintang

Namun Pangeran Agung wafat dan kepemerintahan di Kesultanan dilanjutkan oleh putranya yang bernama Pangeran Tunggal. Beliau juga merupakan Raja kedua yang memeluk agama islam. Raja Tunggal memiliki dua orang putra yang bernama Pangeran Purba dan Abang Itut. Pada masa itu juga pengaruh islam sangat mudah tersebar di wilayah tersebut. Namun pada saat itu masih belum ada tempat untuk melaksanakan ibadah muslim di wilayah Sintang.

Bangunan masjid Jami Sultan Nata memiliki arsitektur gaya Melayu, Jawa dan juga terdapat campuran dengan Timur Tengah. Material yang digunakan dalam pembangunan masjid ini menggunkan kayu Bulian yaitu kayu yang berasal dan tumbuh di Kalimantan. Selanjutnya pada bagian atap masjid berbentuk seperti desain masjid di Jawa. Pada atap pertama dan kedua masjid berbentuk limas sedangkan atap ketiga berbentuk kerucut persegi delapan. Ciri khas dari masjid Jami Sultan Nata yaitu seperti rumah panggung khas pesisir sungai dengan keseluruhan bangunan masjid terbuat dari kayu. Jika pengunjung memasuki masjid Jami Sultan Nata maka akan menemukan susukan penghulu atau Menteri Agama Kerajaan Sintang dari masa ke masa yang berada di dalam masjid serta sebuah buku yang berisi tentang sejarah berdirinya masjid ini.

Masjid Agung Sumenep Madura

Masjid Agung Sumenep Madura

Awalnya masjid Agung Sumenep bernama Masjid Jami’ Sumenep. Masjid tersebut berada di tengah-tengah kota dan menghadap ke taman kota. Meskipun usia masjid Agung Sumenep telah mencapai ratusan tahun, namun bangunan masjid ini masih berdiri kokoh dan masih difungsikan dengan sangat baik hingga sekarang.

Sumenep sendiri merupakan sebuah kabupaten yang berada di Madura Jawa Timur. Tepatnya Sumenep berada di ujung timur Madura dengan luas wilayah mencapai 2.093,4 km2 . Jumlah penduduk disana kurang lebih mencapai 1 juta jiwa.

masjid agung sumenep

Sejarah masuknya Islam ke Sumenep dibawa oleh seseorang yang bernama Syayyid Ahmadul Baidhawi atau dikenal juga dengan Pangeran Katandur. Seblumnya juga pada tahun 1499-an seorang ulama menyebarkan agama islam yang bernama Raden Bindara Dwiryopodho yang dikenal juga dengan nama Sunan Paddusan. Tetapi menurut sejarah ternyata ada juga beberapa orang penyebar agamaIslam di Sumenep sekitar pemerintahan Panembahan Joharsari yaitu Adipati Sumenep kelima yang telah memerintah pada than 1319 hingga tahun 1331. Konon Panembahan Joharsari merupakan Raja Sumenep yang pertama kali memeluk agama islam.

Bangunan masjid Agung Sumenep menjadikan salah satu masjid yang menjadi kebanggan warga kota Sumenep. Masjid ini juga menjadi sebagai penanda kota Sumenep. Karena telah berusia ratusan tahun masjid Agung Sumenep menjadi salah satu waarisan sejarah masa lalu. Masjid Agung Sumenep memiliki ukuran luas 100 m x 100 m serta dilengkapi dengan bangunan sekertariat, bangunan kamar mandi, parkir dan juga tempat untuk berwudhu.

interior masjid agung sumenep

Masjid Agung Sumenep didirikan setelah Keraton Sumenep selesai dibangun. Pembangunan masjid ini berdasarkan ide dari Pangeran Natakusuma yang merupakan Adipati Sumenep ke 31. Beliau juga dikenal dengan nama Panembahan Somala yang telah berkuasa dari tahun 1762 hingga tahun 1811. Beliau sengaja membangun masjid yang ukurannya besar karena bertujuan agar dapat menampung para jamaah yang kian hari semakin bertambah banyak. Tetapi pada saat itu bangunan masjid tersebut dikenal dengan nama Masjid Laju yang telah dibangun oleh Adipati Sumenep ke 21 yaitu Pangeran Anggadipa berkuasa dari tahun 1626 hingga tahun 1644 Masehi.

Dipilih seorang arsitek yang juga merupakan arsitek pembangunan Keraton Sumenep, dia adalah Lauw Piango. Dia adalah cucu dari Lauw Khun Thing merupakan orang Cina yang datang ke Sumenep dan juga menetap disana. Proses pembangunan masjid Agung Sumenep ini dimulai pada tahun 1779 Masehi dan selesai secara kesuluruhan pada tahun 1787 Masehi. Bahkan Pangeran Natakusuma berwasiat yang telah ditulis pada tahun 1896 berisi agar selalu menjaga masjid tersebut dan tidak boleh di rusak hingga dijual.

masjid agung sumenep

Dilihat dari arsitekturnya, masjid Agung Sumenep memiliki berbagai paduan dari gaya Cina, Arab, Persia, Jawa dan India. Karena dari sentuhan seni berbagai negara tersebut menghasilkan bangunan masjid yang sangat menarik dan juga unik. Pada atap masjid Agung Sumenep berbentuk dengan limas bersusun yang biasanya dimiliki oleh beberapa bangunan dari tanah Jawa. Atap ini terlihat seperti Joglo yang juga di gunakan sebagai bangunan klenteng. Pada bagian ujung tertinggi atap masjid telah dipasang sebuah mustaka yang berbentuk tiga bulatan.

Sedangkan sentuhan dari negara Cina dan India terdapat pada gerbang utama. Ketika memasuki bangunan masjid ini, ruangan didalamnya terlihat begitu megah dan besarberabgai ukiran jawa dalam pengaruh berbagai budaya menghiasi 10 jendela dan 9 pintu besar masjid Agung Sumenep. Hal yang unik dari masjid ini terdapat dua mimbar di sisi kiri dan kanan mihrab. Dengan kemegahan dan keunikan yang dimiliki masjid Agung Sumenep, menjadikan para jamaah dan pengunjung betah dan khusyuk berada di dalam masjid ini.

Masjid Agung Strasbourg – Perancis

Masjid Agung Strasbourg – Perancis

Masjid Agung Strasbourg atau biasa disebut dengan “Great Mosque of Strasbourg” atau dalam bahasa perancis disebut dengan “La Grande Mosquee de Strasbourg” merupakan masjid yang dibangun diwilayah Heyritz, berada di sebelah selatan kota Strasbourg, tepatnya di 6 Rue Averroes, 67000 Strasbourg, Perancis.

Masjid ini tetap berdiri dengan megahnya meskipun tanpa menara yang biasanya menjadi ciri khas sebuah masjid. Terletak di bagian kota Strasbourg, masjid ini menjadi tempat aktivitas umat muslim didaerah Alstianyang yang mencapai 120.000 jiwa. Rencana pembangunan masjid ini sebenarnya sudah di umumkan pada tahun 1993 lalu, namun baru dimulai pada tahun 2004. Masjid ini membutuhkan waktu pembangunan yang cukup lama yaitu sekitar 8 tahun sampai pada tahun 2012 untuk menyelesaikan seluruh pembangunannya.

masjid agung strasbourg

Sejak diumumkan rencana pembangunan masjid pada tahun 1993, para panitia pembangunan sering menghadapi hambatan dalam prosesnya, seperti sengketa dengan calon kontraktor KKF Jerman, dan keputusan dari dewan kota yang dinilai kurang bijak, karena tidak mengijinkan aliran dana donasi untuk masjid yang berasal dari luar negerinya. Rancangan arsitektur masjid ini juga sering mengalami hambatan dan beberapa kali harus di revisi, sampai pada rancangan terakhir yang menghilangkan total separuh ukuran bangunan, kemudian menghilangkan menara, serta pembangunan Auditorium dan Pusat Pembelajaran yang direncanakan sejak awal.

Setelah menyelesaikan beberapa hambatan, akhirnya pembangunan masjid ini berhasil dimulai pada tahun 2004. Para panitia bekerjasama dengan kontraktor Demathieu and Bard Designed, bersama dengan rancangan bangunan masjid yang berasal dari arsitek Paolo Portoghesi, seorang arsitek dari Italia yang berhasil memenangkan sayembara rancang bangun masjid ini. Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2004 yang dilakukan langsung oleh Walikota Strasbourg, Fabienne Keller.

Hal yang unik terjadi pada saat pemasangan kubah besar masjid tersebut, tepatny dilakukan pada hari Jum’at pada saat perayaan Hari Raya Idul Adha. Proses pengangkatan dan pemasangan kubah tersebut sangat menyita perhatian masyarakat setempat, dihadiri oleh beberapa perwakilan dari pimpinan etnis sekitar seperti, Perwakilan dari agama samawi di Perancis, kemudian dari kalangan agama Yahudi, serta perwakilan dari Agama Protestan.

Pada acara pemasangan kubah tersebut, Presiden Maroko, Said Aalla juga turut hadir dan memberikan komentarnya bahwa, pembangunan masjid dengan kubah  setinggi 24 meter yang akan dilapisi dengan tembaga tersebut merupakan suatu simbol yang akan menunjukkan kehadiran Islam di Perancis.

interior masjid prancis

Karena khawatir massa yang berkumpul ditempat tersebut semakin banyak dan akan meningkatkan resiko, maka pemasangan kubah dilaksanakan lebih awal dari jadwalnya. Sebuah Crane raksasa dengan daya angkut 500 ton disiapkan untuk mengangkut kerangka baja kubah dengan berat 29 ton dan tinggi 24 meter.

Pada saat masjid tersebut selesai dan diresmikan pada tahun 2012, bangunan Masjid Agung Stasbourg menjadi bangunan masjid yang terbesar di negara Perancis. Luasnya mencapai 1.300 meter persegi, 1,5 kali lebih besar dibandingkan masjid yang dibangun di kota paris sebelumnya, Masjid Evry.

Arsitektur yang dianut oleh masjid ini adalah arsitektur rancangan modern, dengan penampilan eksterior dan interior yang menawan. Serta penambahan 500.000 lempengan moziak pada ruangannya menjelaskan bahwa sentuhan gaya maroko sangat kental di masjid ini. Ruangan Utama untuk sholat di hiasi dengan warna-warni yang lembut dengan cahaya lampu yang membuatnya semakin indah.

Dari keindahan yang didapatkan, tidak heran jika masjid ini menghabiskan dana besar sekitar €10,5 juta atau sekitar $13,5 juta atau sekitar Rp.  168 miliar. Dana yang lumayan besar tersebut berasal dari berbagai negara, seperti Perancis, Kuwait, Maroko, Turki dan Saudi Arabia.

Masjid Agung Bangkalan Madura

Masjid Agung Bangkalan Madura

Masjid Agung Bangkalan terletak di Jalan Sultan Abdul Kadirun No. 5, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur.  Masjig Agung Bangkalan Madura ini ternyata sangat berkaitan erat dengan Robben Island / Pulau Robben, Afrika Selatan. Memang kita jarang mendengar tentang hal tersebut, karena memang kaitan ini terjadi pada saat masa penjajahan belanda.

sumber : https://situsbudaya.id

Robben Island pada zaman penjajahan Belandan sampai pada masa rezim apartheir berkuasa di Afrika Selatan merupakan pulau kecil di lepas pantai Kota Tanjung Harapan, Afrika Selatan, yang digunakan sebagai tempat pengasingan maupun penjara untuk tahanan dari negara-negara yang dijajah.

Salah satu tokoh yang menuturkan kaitan antara Madura dengan Robben Islan adalah Nelson Mandela (Alm), yaitu seorang tokoh pembebasan Afrika Selatan.

Di pulau tersebut, tepatnya didalam lingkup penjara, ada sebuah makam tokoh yang sangat di hormati, sampai-sampai makamnya dikeramatkan oleh orang-orang disana hingga saat ini. Pada makam keramat tersebut tertulis “The Grave of Shaikh Mathura”, kemudian penjelasan lain yang tertulis adalah, “Orang Pertama yang membaca Al-Qur’an di Afrika Selatan”.

Dihari pembebasan Nelson Mandela yang sudah dikurung hingga 29 tahun lamanya, dia menyempatkan diri untuk berkunjung ke makam keramat tersebut sambil menjelaskan bahwa, perjuangannya selama 29 tahun belum ada artinya dibandingkan dengan orang yang dimakamkan tersebut. Tampaknya orang yang dimakamkan di sini adalah seorang pejuang negara yang sangat dihormati, orang ini dipenjarakan oleh penjajah sampai dia mati, bahkan dia belum sempat mengunjungi negerinya.

Pastinya pertanyaan yang muncul adalah siapa sebenarnya Shaikh Mathura yang dimakamkan di Afrika Selatan tersebut?. Shaikh Mathura atau biasa dibaca dengan Shaikh Madura, biasa disebut dengan Sayyid Abdurrahman Makuto, atau biasa di lekatkan dengan julukan Pangeran Cakraningrat IV, memiliki nama asli Tumenggung Suroadiningrat. Beliau merupakan penguasa Madura Barat pada pertengahan abad ke-16.

Pada masa kekuasaan Cakraningrat IV, wilayah kerajaan Madura meluas bahkan mencapai wilayah Jawa Timur. Namun, setelah kekalahan yang dialami melawan pihak Belanda, beliau sempat melarikan diri ke Banjarmasin, dan akhirnya tertangkap disana. Cakraningrat IV lalu di buang ke Robben Island, Afrika Selatan. Beliau dipenjarakan hingga akhir hayatnya, dan dimakamkan di areal pengasingan tersebut pada tahun 1753.

Cakraningrat IV sampai di Robben Islan pada tahun 1740-an, meskipun di tempat pengasingan, beliau tidak gentar dan tidak patah semangat dalam menyebarkan agama islam di wilayah tersebut. Sampai akhirnya satu persatu orang-orang disana memeluk agama Islam kemudian beliau menjadi imam pertama di Cape Town, dan juga menjadi orang yang pertama kali membaca ayat suci Al-Qur’an di Afrika Selatan.

 

sumber : https://www.flickr.com

Masjid Agung Bangkalan terletak di tengah kota Bangkalan, tepatnya di alun-alun Kota Bangkalan sebelah baratnya. Hingga sampai saat ini, Masjid Agung Bangkalan sudah mengalami beberapa proses renovasi.

Masjid ini berdiri diatas lahan seluas 11.527 meter persegi, sedangkan bangunannya memiliki luas 3.000 meter persegi. Bangunan asli yang masih dipertahankan sampai sekarang adalah bangunan utama masjid sebagai tempat sholat utama. Memiliki atap limas bersusun tiga sangat khas dengan arsitektur asli Indonesia. Meskipun sudah 2 kali di renovasi, namun masyarakat setempat tetap mempertahankan seni arsitektur asli pada bangunan utama masjid.

Sebanyak dua buah menara yang menjulang tinggi dibangun setelah masjid tersebut berdiri, menara tersebut dibangun dengan gaya masjid Turki dengan menara yang ramping dan runcing seperti pensil. Disebelah kiri masjid terdapat fasilitas tempat wudhu dan toilet untuk pria, sedangkan disebelah kanan terdapat tempat wudhu dan toilet untuk wanita.

Arsitektur dalam bangunan utama masjid dipenuhi sekitar 16 tiang penyangga yang terbuat dari kayu, dengan ukiran tumbuhan sulur yang terdapat dibagian bawah tiang penyangga. Kemudian mihrab di buat menjorok keluar, dengan mimbar disamping ruangannya. Lampu gantung besar nan klasik juga ikut diletakkan ditengah-tengah ruang sholat sebagai penerang utama.

Masjid Agung Al-Serkal Kamboja

Masjid Agung Al-Serkal Kamboja

DI Kamboja tepatnya di ibukota Phnom Pehn telah berdiri sebuah bangunan bagi umat muslim yang begitu megah, mewah dan besar. Masjid megah ini terkanal karena memiliki gaya Turki Usmani yang menakjubkan. Penggunaan nama masjid ini diambil dari seorang pengusaha yang berasal dari Uni Emirat Arab yaitu Eisa Bin Nasser Bin Abdullatif Alserkal. Pembangunan masjid Agung Al-Serkal menghabiskan dana sebesar US$ 2.5 juta yang berasal dari pengusaha tersebut. Ditambah dengan dana yang didapatkan dari pemerintah Kamboja sendiri sebesar US$400 ribu sebagai bentuk perhatiannya dari pemerintah bagi para muslim di kamboja. Sehingga secara keseluruhan dana yang digunakan pembanguan masjid Agung Al-Serkal sebesar US$ 2.9 juta.

masjid al serkal

Namun pada awalnya jauh sebelum dibangun masjid megah ini, terdapat sebuah msjid yang berdiri pada tahun 1968 yang bernama Masjid Nurul Ikhsan. Masjid Nurul Ikhsan merupakan bangunan masjid yang melegenda dan sempat diperbaiki serta dibangun ulang pada tahun 1990. Dana yang digunakan untuk pembangunan dan renovasi masjid ini juga berasal dari Uni Emirat Arab sehingga masjid itu dikenal dengan nama Masjid Internasional Dubai Phnom Pehn. Kemudian pada tahun 2012, masjid tersebut mengalami kerusakan yang sangat parah lalu akhirnya dibangun kembali menjadi sebuah bangunan masjid yang begitu megah seperti saat ini berdiri kokoh.

Seperti awalnya, sebelum masjid Agung Al-Serkal berdiri, yaitu masjid Nurul Ikhsan, masjid ini berdiri di sebuah tepian danau Boeng Kak yang sangat terkenal. Tak sedikit dari beberapa wisatawan yang mengunjungi Kamboja selalu menyempatkan waktunya untuk datang ke tempat ini.  Masjid ini juga di danai oleh Mahmoud Abdallah Kasim dan Hisham nasir. Tak hanya mengeluarkan dana untuk membangun masjid Nurul Ikhsan, mereka juga memberangkatkan sebanyak 30 muslim untuk melaksanakan ibadah haji setiap tahunnya.

Namun pada tahub 2011 hingga 2012 terjadi sebuah keputusan yang controversial dilakukan oleh pemerintah Kamboja. Dimana danau Boeng Kak yang begitu melegenda ditimbun dengan pasir sedot dan dialirkan langsung dari Danau Tonle Sap dan sungai Mekhong menggunakan pipa besar. Berbagai protes dari para warga hingga lembaga Amnesti Internasional tidak menghentikan proyek pemerintah tersebut. Kini danau Boeng Kak sudah tidak ada melainkan terlihat lahan terbuka yang sangat luas dan sudah dibangun kawasan bisnis.

interior masjid al serkal

Kemudian masjid Nurul Ikhsan mengalami kerusakan karena sudah tidak terawatt dengan baik. Bahkan sebagian pondasi masjiod amblas dan roboh. Lalu pada tahun 2011 dilakukan pendatanganan kesepahaman antara pemerintah Kamboja dan Perwkailan dari Pemerintah Uni Emirat Arab tentang pendanaan dan pembangunan ulang masjid Nurul Ikhsan. Lalu dimulailah perobohan masjid Nurul Ikhsan secara total. Pada saat perobohan masjid tersebut, dibangun pula sebuah bangunan masjid darurat berada di halama masjid Nurul Ikhsan berdinding dan beratap seng dengan lantai semen cor. Hal tersebut bertujuan sebagai tempat untuk beribadah. Pada bagian atapnya sengaja dibangun lebih tinggi agar mengurangi suasana yang sangat panas dan ditambah juga dengan beberapa kipas angin di gantung di dalam masjid tersebut. Setelah pembangunan masjid selesai dan dibangun kembali, kini pembangunan masjid yang baru menghasilkan sebuah tempat ibadah bagi umat muslim yang sangat megah dan mewah. Masjid baru tersebut sangat berbeda dari segi arsitektur dan lainnya dibandingkan dengan masjid Nurul Ikhsan sebelumnya. Sehingga menjadikan masjid baru atau masjid Agung Al-Serkal Kamboja ini sebagai masjid terbesar dan termegah di Kamboja.

Masjid Agung Al-Serkal sekarang merupakan masjid terbesar di Kamboja. Tak hanya bangunannya saja yang besar, tetapi masjid ini memiliki daya tarik yang luar biasa. Peresmian masjid Agung Al-Serkal dilakukan oleh Perdana Menteri Kamboja yaitu Hun Sen dan dilaksanakan pada tanggal 27 Maret 2015 lalu. Ketika acara peresmian dibuka, banyak para muslim yang sengaja datang untuk ikut memeriahkan dan melihat langsung bangunan tempat ibadah yang megah tersebut. Bahkan para jamaah mencapai seribu jamaah yang ikut serta menyambut acara peresmian masjid Agung Al-Sarkal. Mereka terlihat sangat bahagia karena pada akhirnya memiliki masjid kebanggaan umat muslim di Kamboja. Tak hanya menjadi masjid terbesar di kamboja, masjid Agung Al-Serkal juga merupakan catatan penting tentang sejarah perkembangan agama Islam di Kamboja.

masjid al serkal

Pada saat upacara peresmian masjid Agung Al-Serkal, perdana menteri Hun Sen merasa bahagia dan juga bangga karena mereka dapat hidup damai berdampingan dengan beberapa agama lainnya. Perlu di ketahui bahwa muslim di Kamboja pernah mengalami masa-masa yang memilukan dimana pada saat rezim Khmer Merah berkuasa dan beraliran Ultra Maois mengakibatkan hampir separuh jumlah muslim di Kamboja menjadi korban pembantaian.

Namun saat ini muslim di Kamboja telah hidup dengan aman dan nyaman ditambah dengan hadirnya bangunan masjid yang luar biasa megah. Setelah mengikuti acara peresmian masjid Agung Al-Serkal, para jamaah dan berbagai kalangan yang turut datang mengahadiri acara tersebut melanjutkan dengan shalat Jum’at secara berjamaah. Para pengunjung juga menyempatkan belanja di beberapa kios yang berada di halaman masjid dan makan siang bersama-sama.

masjid al serkal

Dari arsitekturnya, masjid Agung Al-Serkal memiliki sentuhan dari gaya Turki Usmani yang terkenal dengan kubah besar dan menara menjulang tinggi. Namun untuk bagian menara, masjid Agung Al-Serkal berbentuk bundar dengan sebuah landasan berbentuk segi empat mengerucut. Pada setiap menara terdapat tiga balkoni dan di bagian ujung menara terdapat simbol bulan sabit namun simbol tersebut tidak seperti yang biasanya masjid Turki Usmani gunakan melainkan bentuknya sedikit berdiri.

Pada bagian luar temboknya di tutup menggunakan batuan alami yang berwarna putih gading. Yang menambah kemegahan masjid Agung Al-Serkal adalah ketika pembangunannya, landasan pada masjid ini cukup tinggi dari permukaan tanah. Ketika akan memasuki masjid ini, para jamaah atau pengunjung melewati anak tangga yang berjumlah lebih dari dua puluh untuk menuju ke pintu utama. Di masjid Agung Al-Serkal juga terdapat jendela yang berukuran sangat besar sebanyak empat buah dan juga dibagian depannya sebelah atas terdapat jendela berukuran lebih kecil.

interior masjid al serkal kamboja

Jika dilihat dari denah masjid Agung Al-Serkal, masjid ini berbentuk segi empat ditambah dengan bagian mihrab masjid yang menjorok keluar ke arah kiblat. Pada sisi utara terdapat ruangan yang biasanya digunakan untuk kantor pengelola dan kantor lembaga Islam di Kamboja. Pada bagian atap masjid, terdapat kubah utama ditambah dengan empat kubah yang ukurannya lebih kecil di setiap penjuru masjid. Lalu ditambah lagi dengan enam kubah yang lebih kecil lagi. Sehingga pada atap masjid Agung Al-Serkal penuh dengan hiasan kubah yang begitu menarik.

Masjid ini juga telah menyediakan tempat berwudhu namun terpisah dari bangunan masjid sendiri. Tempat tersebut dibuat seperti pendopo terbuka dengan atapnya terdapat kubah berwarna coklat tembaga. Dengan dibangunnya masjid Agung Al-Serkal menjadikan para kaum muslim di Kamboja semakin semangat dan merasa aman serta nyaman dalam melaksanakan ibadah shalat dan melakukan kegiatan keislaman lainnya. Selain itu, masjid Agung Al-Serkal juga merupakan titik balik bagi seluruh muslim di Kamboja secara kesuluruhan setelah mengalami kejadian yang mengerikan yang telah dilakukan oleh rezim Khmer Merah sebelumnya.

Majid Agung Tuban – Jawa Timur

Majid Agung Tuban – Jawa Timur

Di salah satu wilayah sebelah timur pulau Jawa terdapat sebuah tempat yang merupakan sunan Bonang berdakwah. Tempat ini dinamakan Tuban dan juga merupakan wilayah bawahan dari kerajaan Majapahit sekaligus bupatinya memeluk agama Islam. Seperti halnya dengan kota-kota lainnya, Tuban juga memiliki bangunan umat muslim yang menjadi kebanggan warga Tuban. Masjid tersebut dinamakan Masjid Tuban yang terkenal akan keindahan kemegahan seperti bangunan yang ada do dalam 1001 dongeng.

masjid agung tuban

Lokasi Masjid Agung Tuban tepatnya berada di Jalan Bonang, Kutorejo, Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban Jawa timur. Berada di pusat kota yaitu sebelah barat alun-alun Tuban menjadikan masjid ini selalu ramai dikunjungi oleh para jamah atau wisatawan ketika berada di Tuban. Tak hanya dekat dengan alun-alun, masjid Agung Tuban juga berdekatan dengan salah satu situs penting sejarah Tanah Jawa yaitu Komplek Makam Sunan Bonang. Komplek tersebut juga tidak pernah sepi didatangi oleh para pengunjung yang biasanya melakukan ziarah. Tak hanya dari masyarakat sekitar saja, para pengunjung berasal dari berbagai tempat khususnya di Pulau Jawa.

Dilihat dari arsitektur masjid, Masjid Agung Tuban memiliki gaya seperti Arab, Turki dan India. Bangunan masjid yang megah ini diapait oleh ke empat menara yang menjulang tinggi di setiap penjuru masjid. Ditambah dengan adanya dua menara lagi yang ukuran tingginya lebih tinggi dari ke empat menara sebelumnya. Bangunan masjid Agung Tuban juga memiliki dua serambi di bagian sisi depan iri dan kanan masjid.

masjid agung tuban

Pada kubah utama yang begitu besar layaknya bangunanmasjid di Turki, terdapat juga dua kubah lainnya yang mengapit kubah utama tersebut. Warna yang digunakan pada masjid Agung Tuban juga menggunakan warna yang sangat terang sehingga kemegahan dan keindahan dari masjid kebanggaan warga Tuban ini sangat menonjol dari beberapa bangunan lainnya yang berada di sekitar kota Tuban. Selain itu, pada kubah utama tersebut di kelilingi oleh ke enam menara yang menjulang tinggi menghasilkan sebuah bangunan masjid yang menakjubkan layaknya seperti suasana di negeri dongeng yang berada di kota Tuban.

Dikisahkan bahwa Tuban adalah kota yang memiliki hubungan erat dengan salah satu wali songo, yaitu Sunan Bonang. Meskipun sebenarnya tidak hanya di kota Tuban saja Sunan Bonang berdakwah dan menyebarkan agama islam tetapi beliau juga berdakwah di berbagai tempat lainnya di Pulau Jawa. Namun karena Sunan Bonang wafat dan dimakamkan di Tuban, maka tak jarangmereka juga menyebutnya dengan Sunan Tuban. Pada masa beliau masih hidup, Sunan Bonang mendirikan sebuah masjid yang bernama masjid Astana berada di komplek pemakaman Sunan Bonang.

interior masjid tuban

Dalam menyampaikan dakwahnya, Sunan Bonang atau memiliki nama Raden Makdum Ibrahim selalu menggunakan alat music tradisional yang disebut dengan bonang. Alat musik tersebut sejenis gamelan yang terbuat dari kuningan atau besi lalu jika di pukul menggunakan kayu maka akan menghasilkan suara yang sangat merdu. Alat itulah yang digunakan Sunan Bonang untuk menyebarkan agama Islam sembari berdakwah. Karena pada saat Sunan Bonang memuali alunan suara merdu dari alat tersebut, maka para penduduk datang dan mendengarkannya serta Sunan Bonang pun mengajarkan berbagai tembang yang berisi ajaran agama islam.

Masjid Agung Tuban sendiri telah dibangun pada tahun 1894 pada masa pemerintahan Adipati Raden Ario tedjo dan juga merupakan Bupati pertama yang memeluk agama Islam. Hingga kini, masjid Agung Tuban berdiri kokoh dan megah selalu dikunjungi oleh para jamaah terutama pada hari Jum’at dan Hari Raya, ditambah dengan lokasinya yang cukup strategis menjadikan masjid ini selalu ramai.

Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima

Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima

Pada tahun 1770 M telah dibangun tempat ibadah umat muslim di Bima yang bernama Masjid Sultan Muhammad Salahuddin dan dikenal juga dengan nama Masjid Kesultanan Bima. Pembangunan masjid ini di prakarsai oleh Sultan Abdul Kadim Zilullah Fil Allam yaitu merupakaan sultan ke 8 Bima. Sedangkan nama masjid ini dinisbatkan kepada Sultan Muhammad Salahuddin pada tahun 1920 hingga 1943.

Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima

Pada saat itu masjid ini merupakan salah satu tempat penyebaran Islam dan pendidikan Islam di Kesultanan Bima dan sekitarnya. Masjid tersebut juga merupakan saksi bisu dari perkembangan islam di wilayah Bima. Tak hanya itu saja, masjid Sultan Muhammad Salahuddin juga merupakan sebuah ikon dari kota Bima. Lokasi masjid ini terletak di Jalan Soekarno Hatta Kampung Sigi Kelurahan Pagura Kecamatan Rasanae Barat Kota Bima NTB. Tepatnya berada di sebelah tenggara Museum Asi Mbojo dan sebelah selatan alun-alun Serasuba. Sama halnya dengan berbagai tata letak bangunan masjid di tanah Jawa yang menambahkan bangunan masjid sebagai elemen terpenting di pusat kota.

Di komplek masjid Sultan Muhammad Salahuddin juga terdapat makam para petinggi dari kesultanan dan keluarga sultan termasuk makam dari Sultan Abdul Kadim Zilullah Fil Alam yang berada di sebelah barat masjid. Namun ternyata kesultanan disini redup dan kembali dimbangkitkan pada tanggal 4 Juli 2013 dengan melakukan penobatan seorang sultan ke 16 yaitu Sultan Jena Teke H. Ferry Zulkarnain.

Awal mulanya pembangunan msjid yang dilakukan oleh Sultan Abdul Kadim Zilullah Fil Alam lalu dilanjutkan oleh putranya yang bernama Sultan Abdul Hamid. Beliau mengubah bentuk atap masjid menjadi tiga susun seperti halnya masjid-masjid Tradisional yang berada di Tanah Jawa. Tetapi sayangnya masjid ini terkena bom dan hancur lebur pada saat perang dunia kedua yang dilakukan oleh pasukan sekutu di tahun 1943. Bagian masjid yang tersisa adalah mimbar masjid.

interior Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima

Lalu pada tahun 1990 putri dari mendiang Sultan Muhammad Salahuddin yaitu Hajjah Siti Maryam melakukan pemugaranmasjid Kesultanan Bima tersebut. Pemugarannya  sama seperti masjid pada awal didirikan karena merupakan sebuah upaya konservasi terhadap bangunan yang bersejarah.

Dilihat dari bagian luas, masjid Sultan Muhammad Salahuddin bercat putih dan terdapat halaman dengan hiasana tanaman yang sangat hijau dan sejuk di pandang mata. Seperti halnya masjid Tradisional Jawa, masjid ini tida ada kubah di bagian atap. Hanya terdapat ke empat menara yang berada di setiap penjuru bangunan masjid. Ketika memasuki masjid ini, interiornya pun terlihat sangat sederhana di dominasi dengan warna putih di bagian dinding masjid. Sebuah lampu gantung yang tidak terlalu besar menggantung di bagian tengah masjid sebagai penerang ruangan. Kesan sederhana dari masjid Sultan Muhammad Salahuddin ini membuat para pengunjung khususnya para jamaah lebih khusyuk dalam melaksanakan ibadah. Dan ketika malam hari tiba, masjid Sultan Muhammad Slahuddin akan terlihat terang dengan hiasan dari beberapa lampu kecil didalam dan luar masjid.

Sejarah singkat masuknya agama Islam ke Bima yaitu seorang Raja Bima ke 27 menikah dengan perempuan yang bernama Daeng Sikontu. Perempuan tersebut adalah adik ipar dari Sultan Alauddin yaitu seorang Raja Makassar Alauddin. Dengan pernikahan tersebut membuat Raja Bima ke 27 memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Abdul Kahir. Dia juga merupakan sultan pertama kali yang beragama islam dan pada abad ke 17 Bima telah menjadi sebuah kesultanan yang awalnya merupakan sebuah kerajaan.

Masjid Selimiye – Nicosia Cyprus Utara

Masjid Selimiye – Nicosia Cyprus Utara

Masjid dengan nama “Selimiye” ini merupakan salah satu masjid tua yang berada di Kota Nicosia, Negara Republik Turki Cyprus Utara / Turkish Republic of Northern Cyprus, tepatnya di Selimiye Sk, Lefkosa.

Bangunan Masjid Selimiye merupakan bangunan yang sudah sangat tua, karena memang berasal dari masa-masa kejayaan Turki Usmaniyah pada abar ke-15 hingg abad ke-19. Saking tuanya masjid ini juga dimasukkan pada cagar budaya negara Cyprus.

Masjid Selimiye

Pada awalnya bangunan masjid ini bukan merupakan bangunan asli sebuah masjid, namun merupakan bangunan sebuah Gereja Ortodok “Gereja St. Shopia” yang dibangun pada tahun 1193 dan memiliki ukuran lebih kecil dari bentuknya yang sekarang. Gereja ini dulunya juga merupakan tempat dari penobatan King Amaury pada tahun 1197. Bukti otentik dari kehadiran gereja tersebut adalah ditemukannya sisa-sisa reruntuhan disamping masjid Selimiye pada tahun 1979.

Pada awal-awalnya, bangunan masjid ini merupakan sebuah Gereja Ortodok yang digunakan oleh pemeluk katolik disana. Kemudian katedral ini juga digunakan sebagai tempat penobatan raja-raja Cyprus sampai pada tahun 1489, karena pada saat itu Cyprus dikuasai oleh Venesia.

Bangunan katedral tersebut sempat mengalami kerusakan yang lumayan parah, yaitu gempa yang terjadi pada tahun 1491, 1547 dan 1735, namun karena banyaknya penopang atap yang berada di dalam bangunan, sampai saat ini kita bisa melihat bangunan tersebut berdiri dengan sangat kokoh.

Katedral Saints Sophia / St. Sophia memang dirancang sedemikian rupa, memiliki puluhan beton penopang dinding yang diletakkan di sekeliling bangunan sehingga sempat mendapatkan sebutan “Flying Butteries”, karena beton-beton tersebut seperti membentuk sebuah sayap. Pada zaman dahulu katedral ini sempat beberapa kali berpindah kekuasaan sampai pada saat dimana islam menguasai daerah Cyprus.

Tepatnya pada tahun 1570, kekuasaan Cyprus jatuh ke tangan Emperium Usmaniyah / Turki Usmani / Ottoman, kemudian Katedral St. Sophia dialihfungsikan menjadi sebuah masjid. Pada saat itu pemimpin kekuasaan Turki Usmani adalah Sultan Selim II, maka dari itu adopsi nama masjid ini diambil dari nama Sultan Selim II, sehingga menghasilkan nama Masjid Selimiye. Nama tersebut diberikan pada tahun 1954 sebagai bentuk penghormatan kepada Sultan Selim II yang berhasil menaklukkan Cyprus.

interior Masjid Selimiye

Hampir keseluruhan bangunan Masjid Selimiye merupakan bangunan asli dari Katedral St. Shopia, kecuali ornamen-ornamen yang menyerupai makhluk hidup seperti hewan dan manusia, serta ornamen katolik lainnya dirubah menjadi ornamen islam. Kedua menara yang tidak kunjung selesai pada masanya, kemudian diselesaikan pada masa kekuasaan Emperium Usmaniyah dengan menara gaya arsitektur Turki Usmani. Sampai pada tahun 1959, menara ini digunakan muadzin sebagai tempat mengumandangkan adzan dengan berjalan menaiki 170 anak tangga.

Sampai sekarang, Masjid Selimiye menjadi Landmark bagi Kota Nicosia, karena memiliki ciri khas dua menara yang tinggi dan bisa dilihat dari kejauhan. Bahkan menara tesebut bisa dilihat dengan jelas dari Kyrenia Road.

Beberapa Interior yang menghiasai masjid juga ikut menjadi daya tarik tersendiri, seperti lampu gantung berwarna putih, merah, dan kuning. Kemudian beberapa pilar dari batu granit yang disinyalir berasal dari era bangunan Romawi / Byzantium yang sudah berumur lebih dari 800 ratus juga ikut menghiasi ruangan utama Masjid Selimiye.

Perkembangan Islam di Cyprus dengan Emperium Usmaniyah sebagai pemicunya, hampir bersamaan dengan penyebaran Islam di Nusantara Indoensia, yaitu hampir sezaman dengan masa-masa keemasan Majapahit, serta masa kejayaan kerajaan Pajajaran.

Masjid Pusaka Songak Suku Sasak

Masjid Pusaka Songak Suku Sasak

Di salah satu provinsi Indonesia memiliki sebuah bangunan masjid yang sangat berarti karena memiliki nilai sejarahnya bagio  penduduk sekitar. Masjid tersebut juga merupakan masjid yang tertua. Tepatnya di Nusa Tenggara Barat di desa Songak kabupaten Lombok Timur masjid ini bernama masjid  Pusaka Songak atau disebut juga dengan masjid Al-Falah. Masjid merupakan bangunan terpenting bagi masyarakat disana karena menurut ceritabahwa mereka merupakan keturunan dari raja Selaparang dan Bayan.

Masjid Pusaka Songak Suku Sasak

Diceritakan juga bahwasanya dahulu tempat bangunan masjid adalah sebuah tempat bertemunya para wali lalu dibangunlah masjid tersebut sebagai penanda bagi para wali untuk mengadakan pertemuan. Masjid Pusaka Songak the dibangun pada tahun 1309 Miladiyah yang telah dilakukan oleh para tokoh berjumlah Sembilan yang sangat terkenal dimasanya. Ke Sembilan tokoh terkenal itu dikenal dengan nama Ki Sanga Pati. Sebelum ke Sembilan tokoh tersbut datang, desa Songak merupakan tempat yang sangat sepi tak berpenghuni namun desa tersebut berubah ketika para Sembilan tokoh datang.

Pada tahun 1299 kesembilan took tiba di desa Songak lalu menetap disana. Mereka datang ke desa Songak karena ingin menyepi dari hiruk pikuk keramaian. Lalu setelah beberapa tahun ternyata keberadaan para Sembilan tokoh diketahui oleh para masyarakat. Kemudian secara berangsur-angsur mereka datang dan ikut tinggal di desa Songak.  Mereka juga lah ke Sembilan para tokoh yang menyebarkan agama Islam di wilayah Songak. Nama Songak sendiri diambil dari kata Sanga yang merupakan nama dari Ki ‘Sanga’ Pati.

Masyarakat sekitar juga meyakini bahwa masjid Pusaka Songak menyimpan semua kekayaan Datu Selaparang I. masjid Pusaka Songak pada dahulu kala dijadikan sebua tempat pertahanan dari musuh. Tak hanya itu saja, ketika mereka akan berangkat berperang, biasanya para prajurit melakukan doa bersama sebelum berangkat ke medan perang. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Tradisi Mangkat. Tak hanya tradisi Mangkat saja yang terkenal dai bangunan masjid tersebut, tetapi ada juga tradisi Minyak Songak atau pengesahan minyak Ki Snga Pati yang biasanya dilakukan tahunan biasanya dilaksanakan pada tanggal 12 Rabiul Awal tepatnya pada saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Ada juga tradisi Bubur Putiq yang biasanya dilaksanakan pada saat bulan Muharam dan pada bulan Safar ada juga tradisi yang disebut dengan Bubur Baek. Selanjutnya pada bulan berikutnya juga terdapat tradisi yang dikenal dengan nama Mulut Adat. Tak heran setiap bulan masjid Pusaka Songak selalu dipenuhi oleh berbagai tradisi dan acara yang telah dilaksanakan dari turun temurun.

interior Masjid Pusaka Songak Suku Sasak

Seperti halnya dengan masjid lain, masjid Pusaka Songak pernah mengalami perbaikan pada tahun 1499 tepatnya pada bagian atap masjid yang sebelumnya menggunakan daun alang-alang. Selanjutnya dilakukan lagi perbaikan masjid pada tahun 1549 disusul dengan berbagai perbaikan masjid yang dilakukan secara rutin setiap 25 tahun. Pada tahun 1719 wilayah Songak jatuh ke dalam kekuasaan kerajaan Bali yaitu kerajaan Asem. Pada saat itu juga aktivitas dan kegiatan di masjid Pusaka Songak mulai sepi.

Namun setelah peralihan penguasa, barulah kegiatan di masjid ini dimulai kembali. Lalu masjid Pusaka Songak juga dilengkapi dengan sebuah kolam pada tahun 1897-1899 tepatnya di bagian halaman masjid. Lalu pada tahun 1920 seseorang guru agam dari Lombok Tengah datang kesana dan mengajak untuk melaksanakan syariat islam. Mereka pun sangat antusias dan masjid kembali ramai dipenuhi oleh para jamaah.

Masjid Lala Mustafa Pasha – Farmagusta Cyprus

Masjid Lala Mustafa Pasha – Farmagusta Cyprus

Masjid Lala Mustafa Pasha atau dalam bahasa perancis disebut “Lala Mustafa Pasa Camisi” terletak di Mahmut Celaleddin SK, Gazimagusa, Farmagusta, Cyprus, Perancis. Sejarah bangunan masjid ini tergolong unik, karena memang tidak berasal murni dari bangunan masjid, namun berasal dari bangunan sebuah Katedral (tempat beribadah umat kristen) bernama “Katedral Santo Nicholas”. Bangunan katedral tersebut sudah ada di Famagusta sejak tahun 1298, kemudian dialihfungsikan sebagai masjid pada saat Emperium Usmaniyah berkuasa disana pada tahun 1571.

Masjid Lala Mustafa Pasha

Bangunan masjid yang dulunya merupakan bangunan katedral ini sangat berkaitan erat dengan kerajaan Cyprus di masa lalu. Konon ruangan masjid utama yang dulunya disebut dengan ruang Nave, merupakan tempat penobatan Raja-Raja Cyprus pada zaman dulu.

Cerita tutur menyebutkan bahwa pasukan tentara salib (Crusader) pada tahun 1921 mengalami kegagalan besar karena tidak berhasil merebut kota Jerussalem yang berada di Palestina. Kemudian para bangsawan kerajaan Perancis melarikan diri ke kota Cyprus untuk membentuk sebuah Kerajaan Jerussalem baru di pengasingan.

Memang kebanyakan masjid yang berada di Perancis dulunya merupakan suatu bangunan tempat peribadatan umat kristen. Selain Masjid Agung Lala Mustafa Pasha yang mengalihfungsikan Katedral Santo Nicolas, ada juga Katedral St. Sophia di Nicosia yang dialihfungsikan menjadi Masjid Selimiye. Bangunan-bangunan tersebut sangat kental dengan gaya gotik sebuah katedral, baik mulai dari arsitektur eksterior bangunannya maupun interiornya.

Pada saat Emperium Usmaniyah mengambil alih kota Famagusta di tahun 1571 dari kekuasaan Venesia yang sudah berkuasa sejak tahun 1489, beberapa bangunan katedral ini mengalami rusak parah, terutama pada bagian menara bagian atas. Kemudian setelah berhasil menguasai kota Famagusta, ditahun yang sama Katedral Santo Nicolas dialihfungsikan sebagai masjid dengan mengubah semua interior kristiani menjadi interior umat muslim, dan juga membongkar hampir semua makam-makam tua yang berada di samping Katedral.

Bangunan masjid ini beberapa kali mengalami kerusakan yang lumayan parah, seperti yang terjadi pada tahun 1735 akibat gempa besar yang melanda perancis, sehingga bangunan masjid harus ditambahkan beberapa tiang agar ketahanan dari struktur dinding penopang atap menjadi lebih kuat. Bangunan ini masih menyimpan interior bersejarah seperti Jendela james II yang tertulis dengan jelas penyataan tentang hak keningratannya pada saat menyerahkan Cyprus ke Dinasti Doge dari Venisia pada tahun 1489.

Setelah Dinasti Usmaniyah menguasai Famagusta – Cyprus pada tahun 1571, sebuah menara kemudian dibangun di sisi lain Katedral, sedangkan menara yang satu mengalami kerusakan dan hanya menyisakan bagian bawahnya saja. Beberapa bagian bangunan lainnya juga disesuaikan dengan karakteristik masjid, dimana semua interior yang menggambarkan makhluk hidup seperti patung hewan atau manusia serta jendela dengan gambaran manusia disingkirkan dan diganti dengan interior asli umat muslim.

Meskipun banya dari bagian interior yang dirubah, namun kesan gotik yang dimiliki katedral tidak dirubah sama sekali, seperti pintu masuk berkanopi dengan karakter asli sebuah katedral Perancis tetap dipertahankan sampai saat ini.

interior Masjid Lala Mustafa Pasha

Perubahan hanya dilakukan pada bagian interior masjid menjadikannya seperti ruang sholat pada masjid-masjid pada umumnya, dengan hamparan sajadah yang membalut lantai, kemudian ditambahkan ruang mihrab serta mimbar disampingnya.

Ruangan sholat utama yang dimiliki masjid ini memiiki panjang 55 meter dan lebar 23 meter, dengan tetap mempertahankan bagian-bagian bangunan lainnya, seperti atap yang rat, serta fasad-fasad yang terbuat dari batuan berwarna madu tua. Sehingga, kesan yang didapatkan pada saat mengunjungi masjid ini adalah kesan klasik karena memang bangunan tersebut sudah berumur ratusan tahun.