Masjid Imam Ali Bin Abi Thalib di Lakemba Australia

Masjid Imam Ali Bin Abi Thalib di Lakemba Australia

Terdapat salah satu bangunan tempat ibadah bagi umat mulslim di Australia yang sangat terkenal, tepatnya di Lakemba, yaitu masjid Imam Ali Bin Abi Thalib. Karena berada di Lakemba,atau kawasan Lakemba New South Wales tak jarang juga disebut dengan Masjid Lakemba. Masjid Lakemba juga merupakan salah satu masjid terbesar yang ada di Negara Australia.

Masjid Lakemba telah dibangun oleh Muslim Australia yang merupakan keturunan dari Lebanon. Mereka juga yang mengelola masjid Imam Ali Bin Abi Thalib. Mereka juga dikenal dengan istilah Lebanese Australians. Para jamaah masjid ini sebagian besar adalah mereka yang keturunan Lebanon dibawah organisasi Lebanese Moslems Association.

masjid di australia

Beberapa tokoh yang terkenal dalam kepengurusan masjid Imam Ali Bin Abi Thalib ini adalah Sheikh Yahya yang juga merupakan seorang imam di Lebanon sebelumm kemudian tiba di Australia dan beliau juga menjadi seorang imam di masjid tersebut pada tahun 1996. Tak hanya dikenal sebagai seorang imam, beliau juga pernah mendapatkan gelar master dalam bidang penterjemahan Al-Qur’an pada tahun 2002. Selain itu, ada juga ada Sheikh Shady Alsulaiman adalah seorang wakil dari pemuda islam. Ada juga Faisal Kasir yang merupakan memiliki sebuah jabatan kepala departemen pendidikan di masjid Imam Ali Bin Abi Thalib.

Pada tahun 2005 pernah terjadi kerusuhan besar di Australia dan memicu umat muslim disana untuk mengantisipasi issue serangan terhadap masjid Ali Biin Abi Thalib. Namun akhirnya kerumunan massa tersebut dapat reda dan dibubarkan setelah kehadiran para aparat disana dan beberapa tokoh muslim setempat.

Dilihat dari arsitektur masjid, masjid Imam Ali Bin Abi Thalib memiliki dua lantai. Lantai pertama yaitu sebuah lantai yang diperuntukan bagi jamaah laki-laki melaksanakan shalat dan ruangan tersebut merupakan ruangan utama. Sedangkan lantai dua adalah tempat yang dikhususkan bagi jamaah wanita. Bangunan masjid Imam Ali Bin Ai Thalib juga dilengkapi dengan tempat parkir yang berada di lantai sub basement.

Tak hanya itu saja, masjid Imam Ali Bin Abi Thalib dilengkapi dengan fasilitas Al-Qur’an ditambah dengan berbagai cermah yang menggunakan bahasa Arab serta kajian tentang keislaman. Ketika waktu ibadah tiba, terdapat lebih dari 1000 jamaah melaksakan shalat berjamaah setiap harinya disana. Bahkan pada shalat Jum’at para jamaah tersebut akan bertambah hinggga 5000 jamaah. Apalagi ketika Hari Raya tiba, para jamaah memenuhi tiap bangunnan masjid Ali Bin Abi Thalib bahkan hingga memadati jalan raya karena masjid tersebut tidak memiliki kapasitas dalam menampung para jamaah yang bertambah pada saat Hari Raya tiba.

Di bagian interior masjid terlihat begiu luas dan megah karena dihiasi dengan ornamen-ornamen yang sangat menarik. Ditambah dengat dindingnya menggunakan cat warna terang, menjadikan masjid ini terkesan sangat luas, besar dan modern. Apalagi dengan adanya lampu menarik yang menggantung di ruangan utama masjid. Di sekitar lampu hias tersebut semakin terlihat mempesona karena terdapat ukiran yang sangat indah dengan di dominasi warna biru cerah.

interior masjid imam ali nin abi thalib

Namun sayangnya, masjid Imam Ali Bin Abi Thalib pernah menjadi sorotan tajam dari Dinas Rahasia Amerika Serikat atau CIA. Mereka menyatakan bahwa pimpinan Al-Qaida Anwar Al-Awlaki yang melakukan kuliah jarak jauh dari Yaman. Kuliah tersebut dilakukan pada malam hari dan dipimpin oleh Sheikh Shady Alsulaiman. Mereka menduga sebagai perekrutan tokoh teroris. Karena hal tersebut, menyebabkan kegiatan pengajian malam hari dilarang serta materi ceramah yang dilaksanakan di masjid tersebut harus mendapatkan persetujuan dari Asosiasi terlebih dahulu.

Namun saat ini, masjid Imam Ali Bin Abi Thalib terus berjalan seperti biasanya dan selalu dipenuhi oleh jamaah di Australia. Terutama pada hari Jum’at ketika akan melaksanakan shalat Jum’at dan pada saat Hari raya Idul Fitri da Hari Raya Idul Adha.

Masjid Dar-As-Salam – Masjid Pertama di P.E.I Kanada

Masjid Dar-As-Salam – Masjid Pertama di P.E.I Kanada

Masjid Dar-As-Salam terletak di P.E.I atau Prince Edward Island, tepatnya di 15 MacAleer Drive, Charlotte Town, PE C1E 2A1, Kanada. P.E.I merupakan salah satu provinsi di negara Kanada dengan jumlah penduduk dan luas yang terkecil dibandingkan provinsi lainnya.

P.E.I menjadi satu-satunya provinsi di Kanada dengan bagian daerah kepulauan, atau terdiri dari beberapa jejeran pulau-pulau. Salah satu pulau terbesarnya adalah Prince Edward Island atau Pulau Pangeran Edward, sedangkan 231 pulau lain berukuran lebih kecil. Keseluruhan luas daratan provinsi dari kepulauan tersebut, jika dijumlahkan akan menghasilkan luas 5.685 kilometer persegi, sedikit lebih luas dari pulau madura yang memiliki luas 5.290 kilometer persegi atau pulau Bali yang memiliki luas 5.561 kilometer persegi.

masjid as salam

Nama Plau Pangeran Edward tersebut di adopsi sebagai  pengingat terhadap jasa yang dilakukan Pangeran Edward (1767-1820), yaitu putra keempat dari Raja George III dan Ratu Victoria. Pulau Pangeran Edward juga terhubung langsung dengan daratan besar negara Kanada melalui sebuah jembatan laut dengan panjang 13 Km, dinamakan dengan Pont De La Confederation atau Confederation Bridge, atau Jembatan Konfederasi.

Pulau Pangeran Edward tersebut ternyata memiliki sejarah yang sangat penting, dimana pulau tersebut adalah awal mula terciptanya Negara Kanada pada tahun 1867. Sampai saat ini pulau tersebut juga disebut dengan Confederation Island  atau Pulau Konfederasi. Dahulu kala, pulau ini seringkali berganti kekuasaan, mulai dari tahun 1534 dikuasai oleh Koloni Perancis, lalu pada tahun 1763 dikuasai Koloni Inggris, kemudian yang terakhir pada tahun 1867 sampai sekarang menjadi provinsi dari negara Kanada.

Provinsi P.E.I Kanada memiliki sekelompok kecil umat muslim yang mayoritas berasal dari daerah Timur Tengah. Mereka kemudian membentuk Muslim Society Of Prince Edward islam / Komunitas Muslim Pulau Pangeran Edward. Masjid Dar-As-Salam inilah yang saat ini menjadi tempat peribadatan umat muslim di P.E.I tersebut sampai sekarang.

Letak Masjid Dar-As-Salam P.E.I ini secara pasti terletak di 15 MacAleer Driva, Chalottetown, P.E.I, Kanada, berdekatan dengan Bandara Charlottetown, dan Gereja Good News Baptis Church Fundamental, yaitu hanya terpaut 100 hingga 200 meter dari kedua tempat tersebut.

Dari tampilannya saja, kita bisa dengan jelas melihat bahwa masjid ini sangatlah berbeda dengan masjid-masjid pada umumnya, yang memiliki bangunan khas, kubah setengah lingkaran, serta menara yang menjulang tinggi. Hal tersebut tidak akan kita temui di Masjid Dar-As-Salam, karena memang masjid ini didesain mirip seperti hunian penduduk sekitar.  Dengan ruang basement / bawah tanah, yang bisa digunakan untuk tempat beberapa fasilitas masjid seperti, dapur, cerobong asap, tempat berwudhu dan lain sebagainya.

interior masjid as salam

Pembangunan masjid Dar-As-Salam juga dilakukan sendiri oleh The Muslim Society of P.E.I, dengan dana iuran dari jamaah yang ada disana. Pembangunan dimulai pada tahun 2008 dan selesai pada tahun 2012.

Pembangunan masjid ini pun mengalami tantangan tersendiri, karena pada awalnya, panitia pembangunan masjid hanya memiliki dana sebesar $100 ribu saja, padahal total dana yang dibutuhkan mencapai $500 ribu. Namun, berkat kerja keras dari komunitas muslim tersebut, akhirnya pembangunan masjid pun bisa diselesaikan dan diresmikan pada tanggal 12 Juli 2012.

Sebelum masjid ini berdiri, komunitas muslim P.E.I melakukan sholat jum’at dengan menumpang di aula gereja di daerah tersebut. ini menunjukkan bahwa kerukunan umat beragama juga sangat bisa dirasakan di daerah provinsi Prince Edward Island.

Masjid Agung At-Taqwa Kutacane, Aceh

Masjid Agung At-Taqwa Kutacane, Aceh

Aceh merupakan salah satu provinsi yang terkenal dengan kereligiusannya terhadap agama Islam. Bahkan di Aceh telah menerapkan hukum islam sebagai hukum disana. Sedangkan Kutacane merupakan ibukota Aceh Tenggara provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Bagian Aceh Tenggara memiliki suasana yang sangat sejuk karena berada dalam wilayah daerah pegunungan dengan ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut.

Karena Aceh merupakan provinsi yang sangat menjunjung agama Islam tak heran disana terdapat beberapa bangunan masjid. Dan salah satu masjid yang sangat populer di Ace khususnya Aceh Tengggara yaitu masjid At-Taqwa. Lokasi masjid At-Taqwa tepatnya berada di Jalan Cut Nyak Dhien, Kute Kutacane Kecamatan Babussalam Kabupaten Aceh Tenggara Provinsi Aceh.

masjid agung at taqwa

Masjid At-Taqwa telah didirikan pada tahun 1956 dan rampung pada tahun 1962. Masjid ini dibangun secara gotong royong oleh beberapa masyarakat muslim disana. Karena dibangun ketika masa terdahulu, banguan masjid pun terlihat sangat sederhana namun saat ini masjid At-Taqwa telah berdiri kokoh, modern dan sangat menarik untuk dikunjungi. Dilihat dari arsitekturnya, masjid At-Taqwa memiliki gaya Eropa tak ketinggalan dengan sentuhan dari seni islami Aceh.

Karena masjid At-Taqwa berada dilokasi yang startegis yaitu di tengah-tengah kota, masjid ini selalu ramai setiap saatnya. Terlebih pemandangan keindahan masjid At-Taqwa dapat dilihat dari dataran tinggi di pegunungan Mbarung dan puncak Gunung Pokhkisen. Keindahan dan kemegahan masjid At-Taqwa akan semakin terpancar jika dilihat pada malam hari karena masjid tersebut memiliki tata cahaya yang sangat memukau dan diatur sebaik mungkin.

masjid agung at taqwa

Masjid At-Taqwa awalnya didirikan hanya berupa bangunan yang sangat sederhana. Namun seiring dengan perkembangan zaman, akhirnya masjid At-Taqwa telah bermetamorfosis menjadi sebuah bangunan yang sangat memukau. Tapatnya pada tahunn 2009 lalu pada bulan Oktober, masjid ini dibangun ulang di atas lahan seluas 1,5 hektar pada masa pemerintahan Bupati H. Hasanuddin B. Lokasinya juga berada dekat dengan psat perkantoran Kabupaten Aceh Tenggara. Pada saat peletakkan batu pertama sebagai tanda akan dibangunnya masjid yang megah, seorang Gubernur Provinsi Nangroe  Aceh Darussalam ikut andil untuk meletakkannya. Dalam pembangunan masjid At-Taqwa dana yang dibutuhkan sebanyak Rp. 72 miliar. Jumlah yang banyak tersebut menghasilkan sebuah tempat ibadah umat muslim luar biasa megah. Dana tersebut berasal dari berbagai sumbangan salah satunya dari Gubernur Aceh, APBK dan beberpa sumbangan dari pengusaha terkenal seperti Abu Rizal Bakrie.

Lalu selama 7 tahun pembangunan masjid, akhirnya masjid At-Taqwa diresmikan pada hari jum’at 8 April 2006 dan dihadiri oleh beberapa tokoh penting dan pemerintahan disana. Peresmian masjid At-Taqwa ditandai dengan pemukulan beduk dan penandatangan prasasti disana.

Dari arsitekturnya, masjid At-Taqwa sangat kental dengan gaya Eropa. Namun sisi keislamannya juga sangat kental dan ditambah dengan ciri khas dari bangunnan masjid-masjid dinasti Usmaniyah Turki. Seperti kubah nya yang sangat besar dengan berwarna emas dan beberapa bagian dari bangunan megah serta menjulang tinggi melekat pada msjid At-Taqwa. Terdapat juga sebuah rancangan geometris kota-kotak dan beberapa jendelanya yang sangat minimalis merupakan ciri khas yang dimiliki masjid At-Taqwa. Dilihat dari denah bangunannya, masjid At-Taqwa dibuat simetris dengan empat bentuk beranda di ke empat sisinya dan dilengkapi oleh kubah kecil di bagian atapnya. Sehingga masjid ini jika keseluruhan memiliki beberapa kubah dan empat menara disetiap penjuru bangunan masjid.

interior masjid agung at atqwa

Selain itu terdapat kaca patri di bagian interior masjid ditambah dengan sebuah lampu besar nan megah berada di tengah-tengah ruangan masjid menjadikan masjid At-Taqwa lebih menakjubkan. Masjid At-Taqwa memiliki halaman dan tempat parkir yang sangat luas, maka pengunjung ataupun jamaah dapat memarkiran kendaraan mereka tanpa merasa khawatir kurangnya area lahan parkir.

Masjid Hijau (Yesil Camii) – Bursa Turki

Masjid Hijau (Yesil Camii) – Bursa Turki

Masjid Hijau (Yesil Camii) terletak di Yesil 16360 Yildirim / Bursa, Turki. Merupakan salah satu masjid tua yang berada di bekas ibukota Negara Emperium Usmaniyah.

“Yesil Camii” dalam Bahasa Indonesia berarti “Masjid Jami’ Hijau”, disebud dengan Masjid Jami’ karena masjid ini berukuran besar, sedangkan untuk penyebutan musholla dalam bahasa turki adalah “Mescid”, sedangkan dalam bahasa inggris masjid ini sering disebut dengan “Green Mosque”.

Masjid ini dinamai dengan “Yesil Camii” atau “Masjid Jami’ Hijau” adalah karena hampir seluruh eksterior dan interior masjid pada saat itu didominasi dengan warna hijau dan hijau toska. Mirip dengan masjid Sultan Ahmed Istanbul yang dikenal dengan “Blue Mosque” karena keseluruhan bangunannya didominasi oleh warna biru.

masjid hijau

Dilihat dari ukuran bangunannya, masjid Hijau atau masjid Yesil Cami tidak sebesar Masjid Agung Bursa. Kelebhian dari masjid ini yaitu keindahan tersendiri yang berasal dari peralihan seni bina bangunan dari era Seljuk Turki ke era Usmaniyah Turki. Ciri khasnya yaitu berupa kubah yang besar dan menara yang dibangun sangat tinggi pada bangunan masjid Emperium Usmaniyah. Pada masa pemerintahan Sultan Celebi Memet tepatnya di tahun 1419 masjid Yesil mulai dibangun dan rampung tahun 1421 secara keseluruhan.

Sultan Celebi Mahmet memilih arsitek Haci Ivaz Pasha untuk mendesain banguan masjid Yesil. Hasil desainnya, masjid Yesil memiliki ornamen-ornamen dibuat langsung oleh tangan para pelukis ternama seperti Haci Ali, Ilyas Ali serta Mehmet Mecnun. Mereka adalah para pelukis yang sangat terkenal dimasanya.   Terutama lukisan pada keramik yang semakin indah mencerminkan kemegahan masjid Yesil. Tak hanya banguan masjid saja yang berada dikomplek tersebut, ternyata disana terdapat Maosoleum atau disebut juga dengan bangunan makam tepatnya disebelah sebrang jalan masjid  Yesil. Selain bangunan makam, terdapat  juga Pemandian khas Turki dan Madrasah untuk belajar mengajar keagamaan.

Dijelaskan sebelumnya bahwa masjid Yesil memiliki keindahan yang luar biasa terutama pada bagian interior masjid. Karena disana ornamennya didominasi dengan warna hijau dari ribuan keramik buatan tangan dari para seniman yang sangat berbakat dan kreaif. Pada bagian mihrab masjid tingginya mencapai 10 meter dan berbentuk cerukan ke dalam tembok dengan ornamen sarang lebah menggantung seperti stklaktit di bagian sisi atasnya. Yang berbeda dengan masjid-masjid Usmaniyah adalah tidak terdapat dua pilar besar di sisi kiri kanannya.

Bagian mihrab itulah yang sangat indah dan menonjol dengan hiasan keramik. Ditambah dengan sebagian besar dari interior masjid Yesil dihiasi dengan  keramik buatan tangan membuat masjid ini unik dan berbeda dengan masjid lainnya pada saat era Usmaniyah.

interior masjid hijau

Tak hanya itu saja, pada bagan khusus muadzin dan area khusus Sultan dihiasi juga menggunakan keramik buatan tangat tersebut. Namun motif pada area Sultan adalah motif bunga. Hasil kerja keras dan bakat yang dimiliki oleh para seniman tersebut menjadikannya sebuah mahakarya yang telah dibuat oleh para seniman yang kreatif tersebut.

Selain itu, keunikan lain yang dimiliki masjid Yesil adalah denahnya berbentuk huruf ‘T’ yang terbalik sehingga jika dibagi ke beberapa bagian ruangan didalam masjid terbagi menjadi tig bagian, yaitu ruang utama, ruang sayap kiri dan ruangan sayap kanan. Sedangkan dibagian tengah masjid terdapat sebuah pancuran untuk para jamaah berwudhu dan terbuat dari bahan batu pualam.

Itulah gambaran dari masjid terkenal yang berada di Turki dengan keindahan dan kemegahan keramik buatan tangan dari para seniman berbakat.

Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)

Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)

Jakarta yang merupakan ibukota dari negara Indonesia sudah tentu merupakan salah satu kota yang ramai, penu dan juga sibuk setiap saat. Tak heran jika kota metropolitan tersebut memiliki berbagai bangunan gedung perkantoran yang sangat tinggi. Penduduk di Jakarta pun sangat padat karena mereka banyak yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia untuk mencari pekerjaan di Jakarta. Dibalik hiruk pikuk suasana yang sagat ramai di Jakarta ditambah dengan pemandangan berupa bangunan perkantoran yang berjejer, terdapat sebuah pemandangan tempat ibadah umat muslim yang sangat menarik, yaitu Masjid Jakarta Islamic Center.

jic

Fakta yang menarik bahwasanya lokasi pembangunan masjid Jakarta Islamic Center ternyata dulu merupakan sebuah tempat terlarang. Tepatnya tempat prostitusi atau lokalisasi Karamat Tunggak di wilayah Jakarta Utara. Namun, masa kelam lokasi tersebut kini telah berubah menjadi masa yang sangat cerah karena telah adanya bangunan sebagai Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam di jakarta dan salah satu masjid Jakarta Islamic Center dengan memancarkan berbagai nilai keimanan dan ketaqwaan yang sangat menyejukkan nurani umat manusia.

Pembangunan Islamic Center ini berasal dari mahakarya sang arsitek terkenal yaitu Prof. Muhammad Nu’man yang juga berjasa atas karyanya terhadap masjid-masjid seperti masjid Amir Hamzah, Masjid At-Tin, masjid Syekh Yusuf di Cape Town Afrika Selatan dan masjid lainnya. Lalu dibuatlah rencana yang sangat matang pada tahun 2002 dan dilakukannya studi banding ke Mesir, Iran, Inggris dan Perancis. Lalu setelah berbagai usaha dan kerja keras, pada tanggal 4 Maret 2003 masjid Jakarta Islmic Center telah resmi dibanun yang berada di atas lahan seluas 109.435 m2 dan luas bangunan masjid ini mencapai 2200 meter. Masjid Jakarta Islamic Center dapat menampung jamaah hingga 20.680 jamaah sekaligus.

masjid islamic center

Tetapi dengan adanya Jakarta Islamic Center tidak hanya merubah lokasi dulunya yanng sanat buruk namun Jakarta Islamic Centerndiharapkan menjadi simbol kebangkitan Islam di Asia dan Dunia. Hal itu didapatkan dari berbagai kelengkapan fasilitas, fungsi kediklatan dan fungsi bisnis yang dapat mengebangkan peradaban Islam.

Ternyata di komplek Jakarta Islamic Center tak hanya masjid saja yang melengkapi komplek tersebut. terdapat fasilitas-fasilitas pendukung termasuk komplek gedung perkantoran, perpustakaan, aula dan beebrapa fasilitas pendukung lainnya. Berbagai bangunan disana terkesan sangat megah dan modern yang menjadikannya komplek Islamic Center terbesar di Indonesia. Hingga ini Jakarta Islamic Center juga sanga populer dan aktif berbagi kegiatan serta suasana disana melalui situs yang mereka kelola.

Dilihat dari arsitektur masjid Jakarta Islamic Center, masjid ini memiliki desain Usmaniyah Turki dari segi ukuran masjid yang dapa terlihat dari kejauhan. Seperti halnya masjid era Usmaniyah yang selalu memiliki bangunan masjid tinggi besar ditambah dengan ara pelataran yang luas. Seolah-olah masjid ini menghadirkan Masjid Usmaniyah Turki di Jakarta dengan rasa Nusantara yang sangat khas.

interior jic

Hal yang berbeda dengan masjid Usmaniyah adalah tidak ada tiang penyanggah masjid di ruang utama. Sebagi gantinya, masjid ini menggunakan elemen-elemen dekoratif khas Betawi pada bagian langt-langit masjid. Selain itu dibagian sana terdapat warna yang didominasi biru di seluruh langit-langit. Pada bagian kubah dilengkap dengan jendela transparan yang membentuk pola menara kecil. Pada siang hari pemandangan disana terlihat sangat luar biasa karena masuknya cahaya matahari melalui jendela tersebut.

Masjid Jakarta Islamic Center yang sanga megah dan bear semakin terlihat mewah dengan halam luasnya dan warna masjid tersebut dicat putih memberikan kesan modern dan luas. Tak perlu pergi ke Turki, datang mengunjungi masjid Islamic Center dapat mengobati keingin tahuan pada masjid Usmaniyah.

Masjid Zagan Pasha – Balikesir Turki

Masjid Zagan Pasha – Balikesir Turki

Masjid Zagan Pasha atau dalam bahasa turki “Zagnospasa Cami” merupakan masjid yang sangat bersejarah yang terletak di Balikesir, bagian barat laut negara Turki. Tepatnya di Karesi, 10100 Balikesir Merkez, Turki.

Masjid ini diberi nama Zagan Pasha, karena memang dibangun oleh Zagan Pasha pada tahun 1461. Beliau juga merupakan tokoh yang sangat penting pada masa pemerintahan Muhammad Al-Fatih, Sang peankluk Konstantinopel.

Zagan pasha pada masa itu pernah menjabat sebagai Grand Vizer atau saat ini disebut dengan Perdana Menteri pada tahun 1453 – 1456, lalu menjabat sebagai Kapudan Pasha, yaitu sebuah jabatan tertinggi di angkatan lau Emperium Usmaniyah pada tahun 1463 s/d 1466. Lalu majid ini juga terkenal sebagai penyampaian kutbah terkenal dengan ‘Balikesir Khutbah’ oleh Mustafa Kemal Ataturk.

masjid zagan

Perlu diketahui bahwa Zagan Pasha yang digunakan pada msjid ini adalah seorang tokoh sentral dalam kesuksesan Muhammas Al-Faih dalam meaklukan kota Konstantinopel pada tahun 1453. Beliau juga merupaka seoran perwira militer yang sangat tegas dan ambisius untuk menaklukan kota kota tersebut. Zagan Pasha sangat patuh dan memiliki loyalitas tinggi kepada Al-Fatih pada saat ia menjadi seorang pangeran. Bahkan pada tahun 1446 ketika Al-Ftih diasingkan, agan Pasha pun setia menemaninya dan sekelbalinya dari pengasingan Zagan Pasha masih menunjukkan prestasi serta ketangguhan dirinya sebagai perwira tinggi pada masa itu.

Pada saat penaklukan Konstantinopel, Zagan Pasha pertama kali menerobos tembok benteng pertahanan Konstantinopel. Dengan perjuangan dan semangatnya yang tinggi salah satu pasukan dari Zagan Pasha yaitu Ulubath Hasan berhasil mencapai ke puncak menara pengawas benteng kota Konstantinopel. Zagan Pasha juga berperan penting dialam pengepuangan tersebut, dengan seni tempur serta pembersihan ranjau pada area pertahanan Konstantinopel. Pada akhirnya Al-Fatih dapat menguasai Konstantinopel dengan bantuan saran dari Zagan Pasha.

Dilihat dari bangunannya, masjid Zagan Pasha memiliki gaya seperti masjid-masjid Usmaniyah. Denah masjid Zagan Pasha terbentuk segi empat dan dibangun menggunakan batu Ashlar yaitu pengolahan batu alam seccara umum dibentuk kotak-kotak.

Masjid Zagan Pasha dihiasi dengan satu kubah utama yang dikelilingi oleh empat kbah berada di tiap-tiap samping masjid. Ketika akan memasuki masjid ini maka akan terdapat sebuah pintu dengan masingmasing dua daun pintu di sisi utara, timur dan sisi barat. Pada bagian selatan merupakan bagian kiblat masjid bagi mihrab dan mimbar masjid Zagan Pasha.

interior masjid zagan

Terdapat tiga beranda yang tertutup dengan jendela-jendela pada tiga sisi masjid depan pintu. Ditambah sebuah atapnya yang beratap joglo terbuat dari kayu dan ditutup dengan lapisan tembaga serta terdapat dua tiang batu penyeangga yang terbuat dari batu pualam bersegi empat.

Masjid Zagan Pasha memiliki satu menara yang tinggi dan lancip, khas dari bangunan masjid Turki, yang berada di sudut barat laut masjid. Menara ini merupakan tambahan dan merupakan hadiah dari Hci Hafiz Efendi yang berasal dari Arabacogullari, yaitu seorang bangsawan di kota Balikesir.

Sedangkan untuk bagian pelatarannya, terdapat dua bangunan yang di gunakan sebagai tempat berwudhu, berupa gazebo beratap kubah kecil yang biasa disebut dengan shardivans. Dibagian barat laut pelataran masjid, terdapat shardivans lain sebagai makam Zagan Pasha. Kemudian disekitar makam beliau juga terdapat makam keluarganya yang masih sangat terawat sampai sekarang.

Salah satu keunikan dari Masjid Zagan pasha Balikesir ini adalah terdapat jam matahari, yaitu berupa sebuah meja  dengan jarum penunjuk dari kotak kaca. Sampai saat ini jam matahari tersebut masih ada dan terawat dengan baik.

Masjid Besar Bujang Salim – Krueng Geukuh Aceh Utara

Masjid Besar Bujang Salim – Krueng Geukuh Aceh Utara

Masjid Besar Bujang Salim atau Masjid Raya Bujang Salim mendapatkan gelar masjid Percontohan Nasional yang terletak di Jln. Ramai Keude Krueng Geukueh, Desa Beringin Dua, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh.

Masjid Raya Bujang Salim juga merupakan masjid pertama yang dibangun dikawasan kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Lokasi masjid ini merupakan wakaf tanah dari seorang bangsawan kerajaan Nisam Teuku Rhi Bujang, atau Teuku Bujang Slamat bin Rhi Mahmud, lalu lebih dikenal dengan sebutan Bujang Salim. Beliau juga dikenal sebagai seorang pahlawan pejuanng kemerdekaan, maka dari itu nama masjid ini juga mengadopsi nama dari beliau.

masjid di aceh

Masjid Raya Bujang Salim seringkali disebut sebagai kembaran dari Masjid Raya Baiturrahman yang terletak di Kutaraja Banda Aceh, karena memang hampir keseluruhan arsitektur bangunannya sangat mirip. Perbedaan yang paling mencolok adalah bagian kubahnya, jika di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh memiliki tujuh kubah, Masjid Raya Bujang Salim hanya memiliki lima buah kubah saja.

Masjid Raya Bujang Salim juga telah menerima penghargaan dari Kementerian Agama RI pada awal tahun 2016, sebagai “Masjid Percontohan Nasional”.  Karena itu masjid ini menjadi salah satu Landmark Provinsi Aceh bersama dengan Masjid Baiturrahman Banda Aceh.

Sejarah Masjid Bujang Salim dimulai pada saat masa penjajahan belanda, dibangun pada tahun 1921 untuk memperkuat semangat persatuan dan kesatuan dalam mempertahankan Aceh sebagai bagian dari Republik Indonesia. Sebelumnya, masyarakat Kecamatan Dewantara hanya mengerjakan seluruh ibadahnya dirumah masing-masih, atau pada shalat jum’at hanya berkumpul di musholla yang sangat terbatas. Hal tersebut kemudian di ketahui oleh Bangsawan Kerajaan Nisam yang bernama Teuku Rhi Bujang, atau dikenal dengan Bujang Salim. Kemudian beliau mewakafkan sebidang tanah yang boleh digunakan sebagai tempat berdirinya masjid. Beliau juga merupakan pria pemberani yang kerap menentang penjajahan kolonial Belanda yang keji.

gerbang masuk masjid

Bujang Salim kemudian merancang dan mewakafkan sebidang tanah dengan ukuran 20 x 15 meter. Namun, sebelum pendirian masjid dimulai, Bujang Salim sudah diasingkan ke pulau Papua karena menentang kolonial Belanda. Bahkan beliau kemudian diasingkan ke Australia, agar pengaruhnya yang kuat bisa memudar. Namun yang terjadi malah sebaliknya, masyarakat setempat kembali meneruskan pembangunan masjid yang sudah digagas Bujang Salim sampai selesai.

Pembangunan diteruskan oleh Uleebalang asal Dewantara, yaitu Ampon Hanafiah, yang berhasil menyelesaikan pembangunan masjid yang sederhana berukuran 20 x 15 meter. Setelah selesai, masyarakat setempat kemudian sepakat untuk mengadopsi nama Bujang Salim menjadi nama masjid tersebut.

interior masjid bujang

Kemudian pada tahun 1980, masjid ini kemudian diperluas menjadi 40 x 30 meter, oleh Tgk H A Gani. Lalu pada tahun 1990, statusnya menjadi Masjid Besar Bujang Salim, karena selain masjid tersebut merupakan masjid pertama yang dibangun di kecamatan Dewantara, lokasinya juga berada di pusat kecamatan.

Lalu, masjid tersebut kemudian diperluas kembali pada tahun 1996 atas usulan masyarakat setempat dengan ukurang 60 x 30 meter. Perluasan bukan hanya pada ukuran bangunan utamanya saja, namun juga pada pekarangan masjid menjadi 95 x 80 meter, dari 50 x 30 meter. Serta ditambahkan pula menara dibagian depan masjid. Renovasi terakhir tersebut menghabiskan dana sebesar Rp. 12 miliar.

Masjid Raya Bujang Salim tidak hanya memiliki ukuran yang besar saja, namun juga terdapat keindahan yang terpancar dari eksterior maupun interior bangunannya. Masjid dengan luas 1650 meter persegi tersebut, dapat menampung 2500 jamaah sekaligus.

Masjid Jami’ Ulu – Bursa Turki

Masjid Jami’ Ulu – Bursa Turki

Masjid Jami’ Ulu atau biasa disebut dalam bahasa turki dengan “Ulu Cami” terletak di Murat Aklar Nalbantoglu Mahallesi Ulucami Caddesi No.2, Osmangazi, Bursa, Turki. Masjid ini terletak di kota tua bernama Bursa, yaitu kota diturki yang memiliki sejarah yang penting bagi negara Turki.

Bursa juga merupakan kota terbesar ke 4 setelah Kota Istanbul, Ankara, dan Kota Izmir. Kota ini juga merupakan tempat kelahiran bagi Emperium Usmaniyah / Turki Usmani / Ottoman. Lokasi Kota Bursa yang cukup dekat dengan Konstantinopel atau yang saat ini disebut dengan Istanbul, menjadikan kota ini sebagai kota yang strategis dan direbutkan oleh penguasa Arab maupun Seljuk. Karena memang dulu kota Konstantinopel merupakan kota pusat perdagangan yang sangat besar.

masjid jami' ulu

Kota Bursa pertama kali menjadi kekuasaan bangsa muslim Seljuk pada tahun 1075, kemudian 22 tahun setelah itu pasukan Crusaders (Pasukan Perang Salib) merebut kota ini dari tangan umat muslim Seljuk. Setelah itu kota Bursa selalu menjadi perebutan antara Pasukan Crusaders dan juga Muslim Seljuk.

Kemudian, bangsa Turki mengungsi di daerah Anatolia sepanjang abad ke-12 sampai ke-13, lalu menumbuhkan pemerintahan-pemerintahan kecil yang dipimpin oleh panglima perang. Dari situ lahir Ertugrul Gazi yang juga menjadi pemimpin salah satu pemerintahan kecil di dekat kota Bursa.

Cerita berlanjut pada tahun 1317, Usman yang merupakan salah satu anak dari Ertugrul Gazi menyerang kota Bursa untuk merebutnya dari kekuasaan Crusaders waktu itu.akhirnya kota Bursa jatuh ke dalam kekuasaan Usman tepatnya pada tahun 1326.

Usman inilah yang selanjutnya menjadi pencetus dari berdirinya Emperium Usmaniah, atau yang disebut dengan Ottoman karena ketidakmampuan orang barat menyebut nama Usman atau Osman. Kota Bursa kemudian dijadikan Ibukota Emperium Usmaniyah selama 39 tahun sampai pada tahun 1365.

masjid jami' ulu

Ibukota Turki Usmani kemudian dipindahkan ke kota Edirne selama 90 tahun lamanya, lalu akhirnya dipindahkan ke kota Istanbul setelah Sultan Mehmet II berhasil merebut kekuasaan Byzantium di Konstantinopel pada tahun 1453.

Istanbul kemudian menjadi Ibukota terakhir dari Turki Usmaniyah selama 469 tahun, sampai Turki Usmani dibubarkan pada tahun 1922 oleh Kemal Attaturk. Akhirnya Kemal Attaturk kembali mendirikan negara turki yang kita kenal saat ini dan menjadikan kota Ankara sebagai Ibukota Turki sampai hari ini.

Kemudian, Masjid Agung Bursa atau Bursa Ulu cami merupakan masjid yang dibangun dengan perpaduan budaya Seljuk dan Usmaniyah pada sekitar tahun 1396-1399. Ali Neccar kemudian diperintahkan untuk menjadi arsitektur utama dalam pembangunan masjid tersebut oleh Sultan Yildirim Bayezid I. Pembangunan masjid ini merupakan Nadzar dari sang sultan jika berhasil memenangkan Battel of Nicopoloi yang terjadi pada tahun 1396.

interior masjid jami' ulu

Awal mulanya, Sultan Yildirim Bayezid I mengatakan sebuah Nadzar bahwa akan membangun 20 masjid, jika memenangkan peperangan tersebut. Namun akhirnya dirubah menjadi Masjid dengan 20 kubah, karena itu desain masjid Ulu sampai saat ini memiliki total 20 kubah masjid.

Masjid Agung Ulu juga merupakan masjid yang terbesar yang berada di Bursa, sekaligus dijadikan Landmark untuk arsitektur Seljuk, karena memang sebagian arsitektur bangunannya mengambil dari bangsa Seljuk. UNESCO pada tahun 2014 juga telah menetapkan masjid Ulu sebagai warisan budaya dunia, dan menyebut masjid ini sebagai salah satu masjid terpenting dalam peradaban muslim.

Bangunannya berbentuk persegi panjang dengan luas 2200 meter persegi. Ciri khas dari masjid ini adalah memiliki 20 kubah dibagian atapnya, sesuai janji Nadzar sang sultan. Kubah-kubah tersebut ditopang oleh 12 tiang yang berukuran besar. Untuk ornamen-ornamen yang ada pada masjid ini kebanyakan berasal dari Kaligrafi arab bergaya Timur Tengah.

Masjid Hagia Sophia – Istanbul Turki

Masjid Hagia Sophia – Istanbul Turki

Masjid yang memiliki nama “Hagia Sophia” ini terletak di Sultan Ahmet Mahallesi, Ayasofya Meydani, Istanbul, Turki. Hagia Shopia atau juga disebut dengan Aya Sofia adalah sebuah bangunan tua yang berumur hampir 5 abad dan memiliki sejarah yang panjang.

Bangunan Hagia Sophia merupakan bangunan yang sangat penting, karena memang memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, arsitektural yang memukau, serta keagungan yang terlihat dari seni bangunan seperti Dome.

masjid sophia

Hagia Sophia memang sebuah nama yang sering digunakan untuk sebuah bangunan tua, namun nama terssebut ternyata sangat identik dengan Kota Istanbul turki, karena memang Hagia Shopia di Istanbul sudah berumur hampir 500 tahun. Hagia Shopia saat ini difungsikan sebagai museum saja, awal diberlakukannya sebagai museum adalah pada tahun 1935. Sebelumnya, fungsi bangunan tua Hagia Sofia adalah sebagai tempat beribadah umat muslim.

Perubahan fungsi tersebut dimulai pada saat runtuhnya Emperium Usmaniyah dan digantikan dengan Republik Turki yang dibangun oleh Mustafa Kemal Pasha, atau biasa dikenal dengan Attaturk.

masjid sophia

Kota Istanbul pada zaman dahulu merupakan salah satu kota terpenting dunia, karena letaknya di garis batas benua Eropa dan Asia. Sehingga kedua peradaban tersebut sering keluar masuk dari kota Istanbul, apalagi kota Istanbul juga pernah berjaya dan hancur pada abad yang sama. Banyak sekali peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada di ko Istanbul, termasuk masjid Hagia Sophia.

Sebelum digunakan sebagai masjid, bangunan Hagia Sophia sebelumnya menjadi Gereja Terbesar yang pernah dibangun oleh Dinasti Romawi Timur di Konstantinopel, dan pernah tiga kali dibangun pada lokasi yang sama.

Gereja pertama dibangun oleh Kaisar Konstantios (337-361) pada tahun 360, kemudian Gereja kedua  dibangun pada masa kekaisaran Theodosios II (408 – 450), kemudian pembangunan yang terakhir dibangun oleh Isidoros (Milet) dan Anthemios (Tralles) atas perintah dari Kaisar Justinianos (525-565). Bangunan ini dibangun di tempat yang sama, karena sebelumnya memang hancur akibat peperangan yang terjadi.

Kemudian pembangunan terakhir dilakukan oleh Muhamad Al-Fatih, tepatnya pada tanggal 23 Maret 1453, setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel. Akhirnya nama Konstantinopel diganti dengan Istanbul, kemudian melakukan perbaikan perbaikan bekas tempat peribadatan umat lain di wilayah tersebut, termasuk masjid Hagia Sophia.

interior masjid sophia

Renovasi dilakukan dengan memperbaiki eksterior dan interior bangunan agar lebih mirip dengan Masjid. Lalu menambahkan empat menara di Masjid Hagia Sophia ini atas rancang bangun dari Mimar Sinan. Namun pembangunan menara tersebut tidak serentak dilakukan pada satu masa saja, pada masa Al-Fatih dibangun sebuah menara di sisi selatan, kemudian pada masa Sultan Salim II, dibangun di timur laut. Lalu pada masa Sulta Murat III dibangun dua menara sekaligus, pada sisi utara dan barat laut. Kemudian mengganti semua ornamen yang berbau kristen dengan ornamen islam, seperti pada puncak kubah yang semula ornamennya berbentk salib, menjadi ornamen bulan sabit.

Pada saat runtuhnya Emperium Usmaniyah, dan dirubah menjadi Republik Turki dibawah kepemimpinan Mustafa Kemal Attarturk, Hagia Sophia kemudian dialihfungsikan menjadi Museum pada tanggal 1 Februari 1935, dan sejak saat itu seluruh aktifitas muslim terhenti di Hagia Sophia.

Upaya mengembalikan fungsi Hagia Sophia sebagai masjid baru-baru ini dilakukan oleh Presiden Erdogan, tepatnya pada tahun 2013. Namun respon yang buruk datang dari beberapa warga turki yang tetap menolak keputusan tersebut.

Akhirnya pada tahun2016, Hagia Sophia kembali diizinkan menjadi tempat beribadah umat muslim selama bulan suci Ramadhan saja. Setelah Ramadhan selesai, Hagia Sophia difungsikan kembali sebagai Museum.

 

Masjid Raya Eyup Sultan – Istanbul

Masjid Raya Eyup Sultan – Istanbul

Masjid Raya Eyup atau dalam bahasa turki Eyup Sultan Cami masuk dalam salah satu masjid tertua di Republik Turki, yang bertempat di Merkez Mh, Kalenderhane Cd No. 1, Eyup, Istanbul, Turki. Masjid ini menurut sejarah merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Emperium Usmaniyah / Turki Usmani / Ottoman setelah menguasai Konstantinopel pada tahun 1453. Nama Konstantinopel pada saat itu langsung diganti dengan Istanbul.

masjid sultan ayyup

Masjid Eyup Sultan pertama kali dibangun pada tahun 1458 oleh Muhammad Al-Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel sebagai penghormatan kepada Sahabat Rosulullah SAW, bernama Ayub Al-Anshari r.a. Bangunan masjid tersebut sempat mengalami kerusakan yang lumayan parah, akibat dari bencara gempa bumi yang terjadi sekitar akhir abad ke-17. Kemudian masjid ini dibangun ulang pada tahun 1800 oleh Sultan Selim III, yaitu penguasa Emperium Usmaniyah ke-28, dengan gaya khas Baroque.

Masjid Eyup Sultan ini dibangun untuk mengenang salah satu sahabat Rosullah SAW yang bernama Abu Ayub Al-Anshari Khalid bin Zaid. Beliau gugur pada saat penyerbuan pertama kali ke Ibukota Romawi Timur (Byzantium) Konstantinopel pada tahun 668 atau pada saat Bani Umayyah masih dalam masa keemasannya.

masjid sultan ayyup

Kemudian pada tahun 1453 atau sekitar 784 sejak gugurnya Abu Ayub dalam pengepungan Konstantinopel pertama kali oleh Bani Umayyah, Emperium Usmaniya dibawah komando Sultan Muhammad Al-Fatih kemudian menyerbu Konstantinopel dan berhasil menaklukkannya. Setelah menaklukkan konstantinopel, Muhammad Al-Fatih merubah namanya menjadi Istanbul dan menjadikannya sebagai ibukota Emperium Usmaniyah pada saat itu.

Kemudian, pada tahun 1485, atau sekitar 32 tahun setelah penaklukkan konstantinopel, Muhammad Al-Fatih membangun Masjid Eyup Sultan beserta Maosoleum diatas kubur Abu Ayub. Pembangunan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Sahabat Rosullah SAW tersebut, karena beliau merupakan salah satu pahlawan yang gugur pada saat pengepungan pertama kali.

Masjid ini semakin memiliki nilai sejarah tinggi, karena pada saat itu masjid Eyup juga digunakan sebagai tempat untuk pengucapan sumpah / pelantikan Sultan baru di Emperium Usmaniyah. Tidak sampai disitu saja, beberapa Sultan juga dimakamkan di komplek masjid ini, beberapa diantaranya adalah : Ziya Osman Saba dan Sokollu Mehmet Pasa. Masjid ini juga merupakan satu-satunya masjid yang berhimpitan dengan Maosoleum serta pemakaman luas di Istanbul.

interior masjid sultan ayyup

Masjid Eyup Sultan, sampai saat ini terbuka untuk umum bagi muslim maupun non muslim yang ingin berkunjung. Namun pada saat waktu sholat fardhu, masjid ini tertutup untuk umum. Kunjungan kepada komplek maosoleum dan masjid ini tidak dipungut biaya sama sekali, namun jika ada donasi dari para pengunjung akan diterima dengan baik.

Salah satu hal menarik dari masjid ini, sekaligus menjadi penarik para wisatawan adalah adanya cetakan telapak kaki Nabi Muhammad SAW diatas batu marmer dengan bingkai yang terbuat dari perak.

Bagian dalam masjid di hiasi dengan Interior yang sangat megah dengan warna keemasan. Lampu gantung yang megah juga dipasang dibagian bawah kubahnya yang berukuran sangat besar, kemudian lantainya ditutupi dengan karpet oriental yang menghampar diseluruh lantai ruangan. Sedangkan untuk hiasan pada Maosoleum / makam Abu Ayub, diberikan dinding hias dari keramik dari beberapa periode dengan jumlah total 400 keping keramik. Terdapat juga sebuah teralis yang terbuat dari perak murni yang dipasang didepan makam Abu Ayub.

Nama Abu Ayup selain digunakan sebagai nama masjid, dan nama maosoleum , ternyata juga digunakan sebagai nama dari distrik yang berada diwilayah tersebut.