Masjid Bohoniki – Polandia

Masjid Bohoniki – Polandia

Masjid Bohoniki merupakan masjid yang berada disebuah desa kecil di timur laut Polandia, dan berdekatan dengan perbatasan antara negara Polandia dan Belarussia. Tepatnya masjid ini bertempat di 16-100 Bohoniki, Gmina Sokolka, Polandia, sekaligus menjadi salah satu masjid tertua di Polandia.

masjid bohoniki polandia

Saat ini area Desa Bohoniki hanya ditinggali kurang lebih 100 orang saja, namun sejarah yang terjadi pada desa tersebut sangat panjang, karena masih berkaitan pada masa kekuasaan Belarussia dan Lithuania. Belarussia dan Lithuania serta Polandia pada abad ke-14 pernah terikat dalam Persemakmuran Polandia – Lithuania.

Pada zaman dahulu, pasukan muslim Tatar yang terkenal sebagai pasukan perang terlatih, diundang oleh Raja Vytautas ke dalam negara persemakmuran Polandia – Lithuania. Pada awalnya, pasukan perang muslim Tatar menetap di Ibukota Lithuania, kemudian menyebar ke beberapa daerah di polandia dan Belarussia. Setelah negara Persemakmuran tersebut dibubarkan dan masing-masing membentuk kedaulatan tersendiri, akhirnya desa Bohiniki sampai saat ini masuk kedalam pemerintahan Polandia.

masjid bohoniki

Pada masa itu, muslim Tatar akhirnya menyebar dan menetap dibeberapa kawasan Polandia, Belarussia, dan Lithuania. Mereka membangun beberapa perkampungan dan beberapa masjid sejak beberapa abad yang lalu dan masih berdiri sampai saat ini. Salah satunya adalah Masjid Bohoniki.

Bohoniki juga merupakan satu dari dua desa yang dibangun oleh masyarakat muslim tatar dengan pemberian tanah oleh penguasa Polandia, King Jan III Sobieski, karena jasanya melawan pasukan turki. Awalnya penduduk di desa Bohiniki sampai pada angka 3000 jiwa, namun para pemuda lebih memilih untuk pergi ke pusat kota maupun luar negeri untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Karena mengandung sejarah yang lumayan panjang, akhirnya desa Bohoniki resmi dimasukkan pada Cagar Budaya Nasional pada tahun 2012 lalu oleh pemerintah Polandia.

Desa ini telah lama sekali memiliki satu masjid yang unik, karena bangunannya yang sangat tua dan hanya terbuat dari Kayu saja. arsitekturnya pun lebih mirip dengan rumah-rumah penduduk maupun gereja didaerah polandia. Diperkirakan masjid ini sudah ada sejak tahun 1873 silam.

Ironisnya, masjid ini pernah hancur lebur tak tersisa pada saat Perang Dunia II sedang berlangsung, dan berubah fungsi menjadi lapangan Rumah Sakit. Akhirnya pada tahun 1940-an masjid ini kembali dibangun dan dan di rekonstruksi kembali sesuai dengan bangunan awal.

Renovasi kembali dilakukan pada tahun 2003, agar bangunannya tetap awet, karena memang hanya terbuat dari kayu, jadi rawan untuk mengalami pengeroposan. Lalu renovasi menyeluruh dilakukan pada tahun 2005 dengan bahan-bahan bangunan yang lebih berkualitas, namun tetap tidak meninggalkan unsur aslinya, yaitu berbahan baku kayu.

interior masjid bohoniki

Jika dilihat dari penampilan luarnya, masjid ini terasa seperti sebuah miniatur rumah, karena ukurannya yang mini. Hanya beberapa puluh orang yang bisa ditampung didalam masjid seacara bersamaan. Bagian dalam masjid terdapat beberapa kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an, namun tetap menjadikan masjid ini sebagai satu masjid yang sangat sederhana.

Lalu disekliling masjid juga terdapat pohon cemara yang senantiasa menjadi penghias  lingkungan masjid, apalagi ditambah taman kecil dibagian depannya membuat tempat ini semakin indah.

Ada keunikan lain yang dimiliki Masjid Bohoniki ini, yaitu ketika orang non-muslim (kristen) mengunjungi masjid, mereka melakukan ritual dengan membuat tanda salib yang biasa mereka lakukan sebelum masuk ke gereja. Hal ini ternyata dimaksudkan untuk menghormati tempat beribadah umat islam seperti menghormati tempat ibadah mereka sendiri.

Masjid An-Nashr – Rotterdam Belanda

Masjid An-Nashr – Rotterdam Belanda

Masjid An-Nashr merupakan salah satu masjid terbesar di Kota Rotterdam. Tepatnya di Van Cittersstraat 55a, 3022 LH Rotterdam, Belanda. Saat ini masjid An-Nashr dikelola oleh kaum muslimin Maroko yang tinggal di Negeri tersebut.

masjid an nashr belanda

Rotterdam sampai saat ini dikenal sebagai kota paling ramah terhadap umat muslim, apalagi pada tahun 2009 walikota yang menjabat berasal dari kaum muslim. Sekitar 47% dari total penduduk kota Rotterdam merupakan penduduk Imigran (Berasal dari negara lainnya). Karena hal tersebut, kota Rotterdam juga disebut sebagai kota muslim terbesar di Belanda, bahkan di Eropa.

Beberapa sumber mengatakan bahwa sudah lebih dari 25% warga Rotterdam asli juga berubah memeluk agama Islam, media juga menyebutkan bahwa nanti pada tahun 2020, agama islam akan menjadi agama mayoritas di Kota tersebut, mengingat trend beragama islam sedang gencar terjadi di kota ini.

Pada tahun 2009 lalu, walikota Rotterdam merupakan pemeluk agama islam, beliau bernama “Ahmed Aboutaleb”, salah satu warga asli belanda yang memiliki garis keturunan maroko. Beliau merupakan satu-satunya walikota dari seluruh walikota yang ada di negeri belanda.

masjid yang ada di belanda

Di daerah Rotterdam, kita tidak akan kesulitan untuk menemukan makanan halal maupun masjid-masjid yang tersebar di seluruh penjuru kota. Namun hal unik terjadi disini, karena kebanyakan masjid tidak tampak seperti bangunan masjid pada umumnya, namun hanya berbentuk seperti apartemen atau kantor-kantor. Setidaknya ada 2 masjid yang memiliki bangunan khas masjid dengan menara serta kubah diatas atapnya.

Sedangkan keunikan yang diberikan Masjid An-Nashr adalah bangunannya dari luar tampak seperti gereja, karena memang dulunya bangunan yang digunakan masjid ini merupakan bekas gereja yang hanya dialihfungsikan saja, tanpa merubah bangunannya.

Bangunan masjid An-Nashr ini dulunya merupakan gereja dengan nama “Reformed Church”, kemudian pada tahun 1982, gereja tersebut dibeli oleh komunitas muslim disana, kemudian direnovasi dan di alih fungsikan sebagai masjid.

kegiatan di dalam masjid an nashr belanda

Kemudian dari tahun 2010 lalu, pihak komunitas masjid bersama-sama dengan umat muslim disana akan merencanakan pembangunan ulang masjid, agar tampak seperti bangunan masjid pada umumnya. Namun rencana tersebut masih terkendala dengan biaya, karena besar biaya yang dibutuhkan sekitar 10 juta euro.

Panitia perencanaan pembangunan masjid ini ingin menjadikan masjid An-Nashr sebagai masjid terbesar di seluruh benua Eropa, serta ingin menambahkan beberapa bangunan yang nantinya bisa dipakai sebagai tempat belajar mengajar, pertemuan , dan lain sebagainya. Namun, rencana tersebut belum bisa terealisasi karena terkendala dana.

Masjid An-Nashr dan masjid-masjid lain di Rotterdam, membuka diri bagi pihak manapun meskipun non-muslim untuk berkunjung ke masjid. Sebagai contoh pada tanggal 1 april 2005 lalu, ada 30 mahasisswa katolik yang mengunjungi masjid ini. Keramah-tamahan pun ditunjukkan oleh pengurus masjid, karena menurut mereka islam adalah rahmat bagi seluruh umat, tidak ada gunanya untuk bermusuhan satu sama lain.

Sedangkan untuk bagian arsitekturnya, masjid ini sementara tetap mengadopsi bangunan lamanya yang berupa gereja, dengan 2 tingkat. Kedua lantai tersebut digunakan untuk ruang sholat utama. Selain itu terjadi renovasi pada bagian-bagian interior masjid, seperti pada selatan dan utara masjid diberikan cekungan berbentuk kubah. Kemudian pada mihrab masjid di berikan ruangan kecil yang terbuat dari kayu. Bagian mihrab tersebut mencakup beberapa interior yaitu, mimbar untuk imam, kemudian kaligrafi-kaligrafi khas timur tengah, serta jam dinding pada bagian utara.

Sedangkan di area luar masjid, area parkirnya tidak begitu luas, karena memang terletak di pinggir jalan, kita bisa menemukan tulisan plakat “Masjid An-Nashr” dibagian depan masjid.

Masjid Agung Darussalam Palangkaraya Kalimantan Tengah

Masjid Agung Darussalam Palangkaraya Kalimantan Tengah

Di Kalimantan Tengah tepatnya d Palangkaraya terdapat sebuah masjid yang sangat megah dan besar. Masjid tersebut adalah masjid Agung Darussalam. Masjid Agung Darussalam menjadi masjid yang terbesar dan termegah di Palangkaraya. Masjid ini telah dibangun sekitar tahun 84-an diatas lahan tanah seluas 5 hektar. Masjid Agung Darussalamberada di komplek Sekolah Tinggi Agam Islam (STAIN) Palangkaraya tau lebih tepatnya berada di depan kampus STAIN.

masjid agung darusalam

Ketika akan memasuki masjid Agung Darussalam para jamaah atau pengunjung akan melewati gerbang masjid dengan dua jalur jalan yang dibelah oleh hiasan kaligrafi yang sangat menarik berbahan dasar beton serta dilapisi keramik berwarna merah putih. Tulisan kaligrafi tersebut yaitu merupakan kalimat tauhid yang didesain menggunakan model khath Khafi. Dibalik itu, ternyata pembuatannya menyimbolkan tentang ketauhidan untuk Islam dan merah putih untuk Indonesia.

Arsitektur masjid Agung Darussalam memiliki gaya sangat lokal karena kubahnya berbentuk tajam dan berlapis tiga. Pada bagian pojok teratas terdpat simbol tulisan ‘Allah’ berbingkai segilima. Selain itu, pintu masjid pun berbentuk tajam dengan lantai keramik yang berwarna merah putih. Alasan lain dari warna merah putih tersebut karena masjid Agunng Palangkaraya merupakan salah satu dari 999 masjid yang telah dibangun oleh Yayasan Amal Bakti Musim Pancasila (YAMP) yang tersebar di berbagai daerah di Nusantara. Tak jarang masjid ini juga desebut masjid Pancasila oleh para masyarakat sekitar karena memang arsitekturnya seperti itu.

kemegahan masjid agung darusalam

Tak hanya sebagai tempat untuk beribadah, masjid Agung Darussalam juga merupakan pusat pengembangan agama islam. Seperti adanya TPA, Madrasah, Tabligh Akbar, Pemberdayaan Zakat, Infaq dan lainnya. Masjid ini juga dirancang dengan fasilitas gedung serbaguna karena sangat berfungsi oleh berbagai kegiatan keagamaan.

Masjid Agung Darussalam memiliki tiga lantai terdiri dari lantai satu yang digunakan sebagai fasilitas perkantoran. Ruangan di lantai satu tersebut memiliki luas mencapai 1.017 meter persegi. Pada lantai dua dan tiga memiliki luas mencapai 2.028 meter persegi dan jika dikalkulasikan luas dari masjid Agung Darussalam seluruhnya mencapai 3.358 meter persegi. Di bagian ruangan masjid ini mampu menampung jamaah hingga 5.000 jamaah.

Tak hanya bagian ruangan masjid yang digunakan sebagai ruang shalat, para jamaah biasanya melaksanakan ibadah di halaman masjid yang luasnya mecapai 3.442,5 meter persegi. Di bagian halaman masjid dapat menampung jamaah hingga 15.0000 jamaah. Biasanya hal itu terjadi ketika hari raya atau ketika hari Jum’at karena masjid sangat penuh dan para jamaah datang berkali-kali lipat.

Terdapat juga area parkir yang telah disediakan untuk kendaraan para jamaah atau pengunjung masjid Agung Darussalam. Area parkir tersebut berkapasitas 72 untuk kendaraan roda empat dan 300 unit kendaraan roda dua dan disekelilingnya trdapat ruangan terbuka.

Pada saat pembangunan masjid Agung Darussalam disediakan hingga 15 teknisi dari Jakarta terutama ketika membangun pada bagian kubah masjid. Kubah utama masjid berdiameter 32 meter dan dirancang dengan metode terbaru sehingga terlihat sangat modern dengan desain yang begitu megah dan mewah. Untuk membangun kubah masjid menggunakan bahan yang sangat kokoh dari bahan GRC. Kubah dari jenis ini juga mempunyai berat yang sangat ringan sehingga memudahkan untuk mengangkut, meniympan dan menanganinya. Terdapat juga kubah pendamping berada di kubah utama masjid di tambah dengan adanya menara setinggi 118 meter.

interior masjid agung darusalam

Dengan kemegahan masjid terbesar di Palangkaraya ini menjadikan tempat ibadah tersebut selalu dipenuhi oleh para pengunjung khussnya para jamaah di wilayah tersebut. Terkesan sangat mewah dan modern karena hampir keseluruhan bangunan masjid tersebut berwarna putih dan berbagai hiasan menarik yang ada di masjid tersebut.

Masjid Sentral Glasgow – Skotlandia

Masjid Sentral Glasgow – Skotlandia

Masjid Sentral Glasgow atau disebut dengan “Glasgow Central Mosque”, merupakan masjid yang didirikan pertama kali di Skotlandia, Inggris Raya. Masjid ini juga merupakan masjid terbesar di daerah tersebut, tepatnya berada di 1 Mosque Avenue, Gorbals, Glasgow G5 9TA, United Kingdom.

Masjid ini berdiri dengan sangat megah di tepi selatan sungai Clyde, Distrik Gorbals, didalam wilayah Central Glasgow. Masjid ini dibangun pertama kali pada tahun 1983 dan diresmikan oleh Abdullah Omar Nasseef, Sekretaris Jenderal Organisasi Liga Muslim Dunia, pada tanggal 8 Mei 1984. Pembangunan masjid ini hanya memerlukan waktu 1 tahun saja.

Masjid Sentral Glasgow

Mayoritas penduduk muslim di daerah Glasgow pada awalnya adalah muslim yang berasal dari negara India dan Pakistan, kemudian melakukan migrasi ke Distrik Gorbals untuk mencari kehidupan yang lebih layak. Bersamaan pada waktu itu, imigran dari irlandia, italia dan beberapa komunitas yahudi juga masuk ke Glasgow.

Sebenarnya masjid Sentral Glasgow dulunya adalah masjid yang dibangun di Oxford Street pada tahun 1944, namun karena bangunan masjid tersebut sudah tidak memadai lagi dan tidak bisa menampung lebih banyak jamaah, akhirnya dibangunlah masjid yang sama atas usulan dan rancangan dari Coleman Ballantyne Partnership.

Sekarang, Masjid Sentral Glasgow dikelola oleh komunitas Jamiat Ittihadul Muslimin dengan sebutan “Glasgow Central Mosque and The Islamic Centre” dan terdaftar sebagai badan amal Skotlandia.

Masjid Sentral Glasgow ini memiliki luas tanah 16.000 meter persegi, kemudian diperluas dengan penambahan beberapa fasilitas, seperti Islamic Center yang dihubungkan langsung dengan bangunan utama masjid. Selain itu Islamic Center ini memiliki beberapa fasilitas pendukung seperti Fasilitas Olahraga , Ruang Pertemuan, kafetaria, serta perpustakaan.

Pembangunan masjid ini menghabiskan dana sekitar 3 juta Poundsterling atau senilai 5,7 miliar rupiah. arsitektur yang diadopsi adalah arsitektur gaya arabia yang bisa dilihat dari pelataran masjidnya. Pada satu sisi depan bangunan masjid terdapat taman, sedangkan pada sisi lainnya terdapat jejeran puluhan fasad dengan jendela yang melengkung.

interior Masjid Sentral Glasgow

Pelataran masjid dengan keunikan fasad dan jendela yang melengkung merupakan salah satu hal yang paling menarik pada masjid ini, ditambah dengan menara yang menjulang tinggi, serta kubah dengan kaca patri di sekelilingnya membuat cahaya matahari dapat menerangi langsung bagian dalam masjid pada siang hari.

Bangunan masjid ini menggunakan material bahan baku dari batu bata merah tua yang biasa digunakan oleh bangunan-bangunan tua di daerah Glasgow, namun tetap tidak melupakan sentuhan asli dari masjid-masjid islam bergaya timur tengah.

Pada bagian pintu masuk utama terdapat satu lengkungan unik yang dihiasi dengan kaca dengan motif flora.  Sedangkan untuk menyuarakan adzan, pengurus masjid menyiarkannya secara Live di radio khusus dengan gelombang 454.40625 Mhz.

Kemudian, masjid dengan luas 16,000 meter persegi ini dapat menampung 2000 orang jamaah pria dan 500 jamaah wanita. Saat ini ada 3 orang imam yang bertugas di masjid tersebut, yaitu Imam Omair Malik, Imam Habiburrahman, dan Imam Abdul Ghafoor.

Selain digunakan sebagai tempat untuk ibadah shalat jamaah, masjid ini juga biasanya digunakan sebagai media konsultasi umat islam sekitar dengan tiga imam masjid ini terkait dengan masalah pernikahan, rumah tangga, hukum-hukum islam dan lain sebagainya.

Layanan yang diberikan masjid ini pun juga bermacam-macam, seperti layanan pendirikan untuk semua kalangan usia, kemudian layanan pernikahan secara syariat islam, penyelenggaraan kunjungan dari berbagai sekolah, serta layanan penyurusan jenazah.

 

Masjid Navahrudak – Belarussia

Masjid Navahrudak – Belarussia

Masjdi Navahrudak terletak di Vulica Lienina, Navahrudak, Belarussia. Masjid ini memiliki nama lain “Nowogrodek”, atau “Navagradak”, atau “Novogroudok”, merupakan nama yang diambil dari salah satu kota tua yang berada di Republik Belarussia, tepatnya di daerah Baltik, Eropa Utara.  Wilayah ini juga sebelumnya masuk pada wilayah negara Persemakmurah Lituania – Polandia atau (Grand Duchy of Lithuanina).

Masjid Navahrudak

Salah satu keunikan dari kota Navahrudak ini adalah pernah menjadi ibukota dari Persemakmuran Lithuania – Polandia tersebut sejak tahun 1569 sampai tahun 1795 pada saat koalisi Persemakmuran tersebut pecah dan menjadi bagian dari kekuasaan Russia.

Kota ini seringkali dipindah kekuasaannya, mulai dari Jerman, Polandia, Russia, Belarussia. Kemudian kembali ke kekuasaan Polandia pada tahun 1939, dan berpindah lagi ke kekuasaan Belarussia pada tahun 1941.

Seiring dengan runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1990-an, pemerintah Belarussia kemudian mendeklarasikan kemerdekaannya pada taggal 25 Agustus 1991.

Sejarah penyebaran Islam diwilayah ini juga lumayan panjang, yaitu dimulai pada abad ke-14 sampai ke-16, kaum etnis Tatar di undang oleh Grand Duke of Lithuania untuk menjaga perbatasan negaranya. Pada masa itu banyak sekali etnis Tatar yang menjadi bagian dari pemerintahan pangeran Lithuania.

Sampai pada abad ke16, sekitar 100 ribu muslim etnis Tatar sudah tinggal di Belarussia, namun sebagian dari mereka menjadi tawanan perang.

Kemudian pada tahun 1994 lalu, barulah diadakan pertemuan / kongres nasional muslim Belarussia untuk pertama kalinya. Akhirnya terbentuklah Komunitas Islam Republik Belarussia dibawah kepemimpinan Dr. Ismail Aleksandrovic.

Sampai pada tahun 1997, kurang lebih ada 23 komunitas muslim yang berdiri disana, 19 diantaranya menempati wilayah barat negara tersebut.  lalu pada tahun 2002 jumlah komunitas muslim bertambah menjadi 27 komunitas.

Sebagai salah satu kota dengan sejarah Islam yang panjang, Navahrudak memiliki sebuah masjid tua yang dibangun oleh komunitas muslim Tatar pada masa itu. Masjid ini berbahan baku kayu, namun pernah mengalami kerusakan pada tahun 1990-an. Lalu dilakukan renovasi pada saat Belarussia sudah menyatakan kemerdekaannya.

Meskipun Navahrudak pernah menjadi ibukota negara, namun masjid yang pertama kali dibangun adalah Masjid Ivye atau Iwye yang sudah kita bahas pada artikel lainnya. Kemudian baru puluhan tahun kemudian dibangunlah masjid Navahrudak ini.

Masjid navahrudak dibangun pada tahun 1885, sedangkan masjid Iwye dibangun pada tahun 1792. Pada saat itu masjid ini memang hanya dibangun dengan ukuran kecil karena jamaah yang dimilikinya hanya sekitar 300 orang saja.

Masjid ini pun pernah dialih fungsikan sebagai hunian tempat tinggal pada masa kekuasaan Uni Soviet, karena sebagian besar umat muslim berpindah ke Polandia. Pada masa kekuasaan negara Tirai Besi tersebut, seluruh kegiatan keagamaan dilarang oleh pemerintah, dan semua tempat peribadatan juga ditutup, bahkan ada yang dihancurkan. Baru setelah Uni Soviet hancur, masjid ini difungsikan kembali pada tahun 1993.

interior Masjid Navahrudak

Sedangkan untuk Arsitektur bangunannya, masjid Navahrudak lebih  mirip dengan Masjid Iwye serta masjid-masjid tua lainnya di kawasan Baltik. Yaitu dibuat dari kayu dengan bantuk klasik sederhana dengan denah segi empat dengan tiga beranda di sisinya.

Tiga sisi tersebut digunakan sebagai tempat mihrab, serta tempat jamaah untuk pria dan wanita. Untuk bagian Mihrab terdapat sebuah kamar tanpa daun pintu. Kemudian bagian atasnya terdapat sebuah lingkaran dengan hiasan bulan sabit. Sedangkan diruang utama masjid dilengkapi dengan jendela kaca sebagai pencahayaan cahaya matahari pada siang hari.

Ukiran-ukiran pada bangunan masjid juga tampak hampir diseluruh bangunannya yang menjadikan khas dari masjid pada kala itu.

Seperti masjid Iwye, masjid Navahrudak juga memiliki sebuah menara yang diletakkan dipuncak atap masjid, dengan denah kubah kecil segi depan tanpa balkoni.

Masjid Madni – Bradford Inggris

Masjid Madni – Bradford Inggris

Masjid ini terletak di 101 Thornbury Rd, Bradford BD3 8SA, United Kingdom (Inggris Raya), dan diberikan nama “Masjid Madni” atau “Masjid Jamia” atau juga disebut dengan “Madni Mosque”, merupakan masjid indah dengan nuansa klasik serta menara-menara yang indah yang berlokasi di Kota Bradford.

Masjid Madni – Bradford

Lokasi tersebut juga merupakan pusat dari komunitas muslim di Bradford. Area komunitas terutama di Masjid Madni memiliki keunikan tersendiri untuk menggaet para jamaahnya, yaitu dengan ramah-tamah yang selalu ditunjukkan, serta selalu ada beberapa pengurus yang selalu siap membantu para tamu yang datang ke masjid tersebut.

Penghargaan Yang Diperoleh Masjid Madni

Karena keramah-tamahan serta kehangatan penyambutan yang diberikan lingkungan masjid, pada tahun 2007 masjid ini mendapatkan penghargaan dari pemerintah kota Bradford sebagai Model Masjid Terbaik dan Sistem Kerja Komunitas Terbaik diantara lebih dari 1000 masjid lain yang ada di United Kingdom. Penghargaan tersebut didapatkan pada saat Islam Channel mengadakan suatu kompetisi untuk seluruh masjid yang berada di Inggris Raya.

Selain prestasi diatas, ternyata masjid Madni ini juga terpilih sebagai masjid dengan menara terindah di kawasan eropa pada tahun 2010 lalu, menyisihkan 50 peserta lain, yang digelar oleh parlemen pemerintahan Eropa.

Selain menara pada masjid Madni, penghargaan juga diberikan kepada menara masjid Stockholm, Oslo, Roma, serta Granada Spanyol. Penghargaan tersebut di berikan oleh COJEP Internasional, yaitu suatu lembaga amal pemuda yang dibentuk dari kumpulan imigran Turki di negara Perancis. Selain itu COJEP juga merupakan mitra Dewan Eropa dan OSCE.

Beberapa juri yang ikut menjadi penentu dalam komptetisi diatas berasal dari multi etnis dan Rabbi Yahudi, dengan peserta sebanyak 53 menara yang tersebar di 13 negara. Kriteria masjid yang bisa diperlombakan adalah masjid yang sudah berumur , artinya hanya masjid-masjid tua yang boleh mengikuti kompetisi ini, bukan masjid yang baru dibuat dengan desain yang modern.

Keputusan para juri tidak didasarkan semata-mata pada bentuk bangunannya saja, namun menyeluruh sampai pada cara masjid tersebut berfungsi, penyambutan, serta kebersihan masjid. Perlombaan tersebut juga sekaligus menyuarakan bahwa menara masjid tidak perlu ditakuti sebagai ancaman bagi pemeluk agama lainnya.

Sekilas Tentang Masjid Madni

interior Masjid Madni

Masjid Madni dibangun pertama kali pada tahun 2008 oleh komunitas muslim di daerah Bradford yang sampai saat ini sudah menjadi komunitas yang lumayan besar. Bangunan masjid terdiri dari 3 lantai, lantai dasar sebagai lantai untuk menerima tamu dan para jemaah, serta untuk ruang sholat utama para jamaah.

Lantai bawah ini memiliki beberapa fungsi lain yaitu dilengkapi dengan ruangan kelas / madrasah yang biasanya digunakan untuk kegiatan belajar mengajar komunitas tersebut. kemudian ada juga perpustakaan yang sudah memuat ribuah buku yang bisa dibacak oleh masyarakat umum.

Lalu, lantai bawah juga bisa digunakan sebagai tempat aktifitas bagi remaja dan anak-anak yang membutuhkan ruangan yang besar, dan juga bisa juga digunakan untuk ruang olahrga panahan.

Sedangkan untuk lantai kedua, terdapat ruangan untuk sholat, ruangan kelas, serta ruangan khusus untuk pengurusan jenazah dan penshalatan jenazah.

Yang terakhir pada bagian lantai atas digunakan juga untuk menampung jamaah sholat, apalagi pada waktu sholat jum’at pada jamaah dilantai dasar akan merasa sesak. Lantai atas juga biasanya digunakan untuk peringatan-peringatan hari besar Islam.

Bangunan masjid ini merupakan bangunan yang super unik, dimana fungsi-fungsi lain juga di ikutsertakan didalam bangunannya, tidak seperti masjid lain yang hanya berfokus pada ruangan shalat saja.

 

Masjid Jami Tambora – Jakarta Barat

Masjid Jami Tambora – Jakarta Barat

Masjid Jami Tambora terletak di Jln. Tambora Masjid / Jln. Blandongan No. 11, Kelurahan Tambora, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, DKI Jakarta. Masjid yang dibangun pada sekitar abad ke-17 ini juga merupakan saksi bisu dimana negara Indonesia pernah dijajah oleh kolonial belanda.

Nama masjid “Tambora” di ambil dari  nama Gunung yang berada di pulau Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang merupakan tempat kelahiran dari pendiri masjid ini. Lokasi tempat berdiri masjid ini adalah Jln. Tambora Masjid, namun sebelumnya Jalan tersebut bernama Jln Blandongan.

tampak samping Masjid Jami Tambora

Masjid ini berlokasi ditepian kali Krukut, dan saat ini dikelola oleh Yayasan Masjid Jami’ Tambora, yang didirikan oleh Haji Memed pada tahun 1959.

Masjid ini dibangun pada sekitar tahun 1181 H / 1761 M oleh KH. Moestoyib bersama Ki Daeng dan ulama-ulama muslim pada masa itu. Beliau berasal dari Makasar, kemudian tinggal di sumbawa untuk beberapa waktu, tepatnya di Kaki Gunung Tambora.

Pada tahun 1176 H / 1756 M, KH. Moestodjib dan Ki Daeng di ciduk oleh Batavia karena melakukan perlawanan, lalu di hukum kerja paksa selama lima tahun lamanya.

Setelah hukuman tersebut selesai, mereka berdua tidak lantas kembali ke Sumbawa, namun menetap di Kampung Angke Duri (Tambora) dan bersahabat dengan ulama setempat. Akhirnya muncul ide untuk membangun sebuah masjid sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tepatnya di kali Krukut yang pada saat itu masih sangat jernih sehingga airnya bisa dipakai untuk berwudhu.

Dalam versi cerita yang lain, Masjid ini dibangun oleh H. Moestoyib bersama dengan kontraktor Tionghoa Muslim dari Makassar pada tahun 1761 M. Keduanya kemudian ditahan oleh Kolonial Belanda karena tuduhan menyeleweng dan ingin memberontak. Namun akhirnya tuduhan tersebut tidak terbukti dan mereka dibebaskan, kemudian pemerintah belanda memberikan sebidang tanah yang kemudian menjadi tempat berdirinya Masjid Tambora ini.

Setelah pembangunan selesai, seluruh kegiatan masjid ini dipimpin langsung oleh KH. Moestoyib sampai beliau wafat. Beliau dimakamkan di depan masjid demikian pula dengan sahabat beliau Ki Daeng.  Dari tahun 1256 H / 1836 M sampai 1370 H / 1950 M, kepemimpinan masjid ini selalu berganti-ganti namun tetap tidak ada keirian maupun kedengkian yang terjadi.

Kemudian pada tahun 1980, masjid ini direnovasi kembali, karena beberapa bagian bangunannya sudah hampir roboh.

Selama perjuangan kemerdekaan, Masjid Jami Tambora juga digunakan sebagai tempat pertemuan oleh para pejuang untuk melawan kekejaman belanda pada saat itu. sampai pada tahun 1945 tepatnya pada bulan Oktober, masjid ini digrebek oleh NICA, dan beberapa pemuda pun ditangkap.

Dengan sejarahnya yang begitu lama, masjid ini juga dimasukkan sebagai Cagar Budaya pada tahun 1994, dan sudah mengalami beberapa kali renovasi pada tahun 1979 dan 1980 serta 1989.

Sedangkan untuk bagian arsitekturnya, masjid ini berdenah Persegi Panjang dengan luas 435 meter persegi, dengan luas area 555 meter persegi. Pada bagian halaman masjid alasnya diganti dengan ubin, kemudian batas-batas area masjid adalah perumahan penduduk, serta Gedung SD Yayasan Masjid Jami Tambora.

Pada saat memasuki masjid, kita bisa melihat pintu masuk dengan tulisan angka berdirinya masjid yaitu 1181 H / 1761. Sedangkan gaya arsitektur yang diadopsi merupakan gaya Tionghoa, dengan ukiran-ukiran khas.

interior Masjid Jami Tambora

Sedangkan untuk empat tiang penyangganya / Soko Guru terdapat ukiran ukiran arab yang melambangkan perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam menyebarkan agama Islam.

Kemudian pada sebelah selatan masjid terdapat Aula dengan ukuran 10 meter persegi, ruang sekretariat, ruang koperasi, serta ruang marbot.  Sedangkan sebelah utara masjid terdapat sekretariat yayasan serta tempat wudhu.

Menurut cerita, dulu disekitar masjid banyak sekali makam-makam tua, namun kemudian dibongkar dan dipindahkan dengan menyisakan dua makam saja, pembongkaran dilakukan pada masa pemerintahan Gubernur Ali Sadiqin.

Masjid Iwye – Masjid Tertua di Belarusia

Masjid Iwye – Masjid Tertua di Belarusia

Daerah “Iwye” yang juga disebut dengan “Ivye” atau “Ivje” emrupakan salah satu kota yang berada di Provinsi Grodno, Republik Belarusia. Tepatnya berada di sekitar sungai Ivyanka , 158 Km dari Grodno.

Masjid Iwye

Masjid Iwye terletak di Ulitsa Sovetskaya, Ivje, Belarusia, sekaligus merupakan masjid tertua yang ada di Belarusia. Sejarah singkat mengatakan bahwa Agama Islam sudah mulai menyebar di Kota Iwye sejak abad ke-14 Masehi. Penyebar agama islam di wilayah ini adalah Muslim Suku Tartar pada saat Belarusia masih menjadi bagian dari Negara Persemakmuran Polandia-Lithuania.

Kota Iwye juga terkenal luas dengan keunikan tersendiri seperti yang dimiliki Indonesia, bahwasannya di kota ini terdapat 4 pemul agama yang hidup secara berdampingan, akur dan damai. Iwye merupakan satu-satu nya kota di Belarusia yang memiliki peninggalan sejarah tertua tentang penyebaran agama islam di negara Belarusia.

Tepatnya, masjid ini dibangun pada tahun 1884, dengan bahan baku hampir semuanya dari kayu, dan masih kokoh serta difungsikan sebagai tempat ibadah sampai saa ini. Masjid ini merupakan masjid tertua di Belarusia disusul oleh Masjid Navahrudak.

Kaum muslimin yang berada di Iwye sampai saat ini berjumlah sekitar 300 kepala keluarga. Mereka semua hidup rukun berdampingan dengan pemeluk agama-agama lainnya di kota tersebut. Setiap tahun masjid ini digunakan sebagai tempat penyelenggaraan festival muslim yang dihadiri oleh berbagai kaum muslimini dari beberapa negeri tetangga.

Pembangunan masjid yang pertama kali dilakukan pada tahun 1884 ini disponsori oleh Putri Elvira Zamoyskaya, pemilik kota Iwye pada masa itu, dan dikerjakan bersama-sama oleh kaum muslimin Tatar yang berada di kota tersebut. Sebuah plakat semacam prasasti juga ikut dibuat untuk mengenang masa-masa pembangunan masjid tersebut.

Keunikan masjid ini adalah terbuat hampir keseluruhan dari kayu, dengan bentuk bangunan yang tidak seperti umumnya masjid, melainkan hanya berupa rumah saja dengan ukuran yang lebih luas.

Kemudian bagian arsitekturnya, masjid ini memiliki denah persegi panjang seperti kebanyakan bangunan lainnya. Memanjang ke selatan, karena arah Kiblat di Belarusia adalah menghadap keselatan agak condong ke timur, dengan mihrab yang menjorok ke luar seperti pada umumnya bangunan masjid.

pintu masuk Masjid Iwye

Pada bangunan utama masjid terdapat 2 pintu yang mengarah kepada tempat sholat pria dan wannita, masing-masing dipisahkan dengan satir yang terbuat dari kain. Daun pintu tersebut diukir sedemikian rupa sehingga menghasilkan suasana antik dengan warna yang cerah.

Pada bagian lantai masjid ditinggikan sedikit dari tanah, dengan beberapa anak tangga yang disiapkan untuk akses masuk dan keluar masjid.

Sedangkan untuk bagian menaranya agak berbeda dengan menara-menara masjid buatan banga Tatar lainnya. Yaitu menggunakan pelapis dari bahan metal, dengan balkoni berbatas pagar besi, beberapa jendela, serta kubah menara yang dibuat meruncing. Pengaman Menara ini merupakan tambahan pada saaat renovasi, karena teknologi pada saat itu belum memungkinkan untuk membuat pagar teralis besi seperti itu. Pada Zamannya, Balkoni tersebut digunakan oleh muadzin untuk mengumandangkan adzan, karena pada saat itu belum ada teknologi pengeras suara. Lalu, pada puncak menara diberikan hiasan bulan sabit sama persis dengan yang ada di atap bangunan utama masjid.

Menurut Wikipedia, perkembangan agama islam di Belarusia sampai pada tahun 2009 sudah sangat pesat, terdapat sedikitnya 25 organisasi muslim yang terdaftar di kawasan Grodno Oblast. Apalagi, menurut cerita masyarakat setempat, tumbuhnya kesadaran untuk beragama membuat islam menjadi trend baru di negara tersebut.

Masjid Islamic Center Santa Ana

Masjid Islamic Center Santa Ana

Masjid Islamic Center Santa Ana terletak di 1602-1610 E First St, Santa Ana, California,  Amerika Serikat yang dibangun oleh Muslim Champa. Masjid ini memiliki perjuangan panjang, karena pada awalnya kaum muslimin Champa diusir dari kampung halaman mereka, kemudian mereka mengungsi ke Santa Ana, California Amerika Serikat dan bertahan sampai sekarang.

masjid Islamic Center Santa Ana

Pengusiran tersebut tidak lantas membuat mereka putus asa dengan agama islam, namun mereka malah terus mempertahankan keislaman mereka dan bahkan sampai saat ini mereka bisa meng-islamkan beberapa warna Amerika Latin lainnya.

Saat ini, sebuah masjid dan perkumpulan umas islam (Islamic Center) yang digunakan untuk pusat kegiatan islam mereka sudah berdiri dan digunakan bersama-sama oleh umat muslim Champa beserta Muallaf Amerika Latin.

Masjid ini merupakan masjid pertama yang berdiri didaerah Amerika Latin, dengan bahasa spanyol sebagai bahasa pengantar di masjid Islamic Center Santa Ana.

Sejarah awal perkembangan muslim Champa di Amerika Serikat dimulai pada 1980-an, satu gelombang pengungsi yang sangat besar berasal dari Kamboja datang ke Amerika Serikat untuk menghindari “Killing Fields” di negara mereka. Ladang pembantaian yang dimaksudkan adalah sebuah pembunuhan masal paling keji yang terjadi di sepanjang secarah Indoncina. Pembantaian masal tersebut dilakukan oleh Rezim Komunis Khmer Merah, yang dipimpin oleh Pol Pot.

interior Masjid Islamic Center Santa Ana

Beberapa dari pengungsi tersebut kemudian mulai menetap di Minnie Street, Santa Ana, California, dengan menyewa apartemen murah di daerah tersebut. Tepatnya pada tahun 1982, beberapa pengungsi tersebut membentuk komunitass Indo-Chinese Muslim refugee Association of The United States (IMRA), yang kemudian digunakan sebagai media perkumpulan, serta penggalangan dana agar pengungsi lain dari kamboja bisa ikut tinggal di kawasan tersebut.

Selain itu, beberapa fasilitas juga ikut didirikan seperti kursus Bahasa Inggris, Konsultasi, serta Penerjemah bagi yang tidak mampu untuk menggunakan Bahasa Inggris.

Perkembangan terus berlanjut, yaitu pada tahun 1983, IMRA menerima bantuan dana dari Kantor Federal Urusan Penempatan Pengungsi Amerika Serikat sebesar $64,000 yang digunakan untuk tunjangan kerja, serta program lain yang bisa bermanfaat untuk kehidupan mereka.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan terus berlanjut sampai pada tahun 1983, komunitas tersebut sudah menangani ribuan pengungsi lain dari Vietnam, Iran, Iraq, Afghanistan, Rusia dan lain-lain. Mereka juga sudah menyalurkan dana lebih dari $20 juta untuk pengungsi yang berasal dari amal individu maupun institusi di daerah tersebut.

Kemudian, sekitar 34 tahun berjuang untuk mengurusi pengungsi di daerah tersebut, akhirnya pada bulan Juni 2017 lalu, penduduk muslim di Santa Ana mampu untuk membeli sebuah bangunan pemulsaran jenazah yang langsung dirombak menjadi sebuah masjid. Akhirnya, masjid tersebut dinamakan dengan Masjid Islamic Center of Santa Ana (ICSA). Masjid ini diperuntukkan untuk umat muslim Champa besaerta umat muslim amerika latin lainnya.

Masjid ini tidak seperti masjid-masjid lain pada umumnya, karena memang masjid ini dulunya hanya berasal dari rumah pemulsaran jenazah, jadi bentuk bangunannya pun sama dengan bangunan sebelumnya. Hanya sebagian interior masjid yang dirubah, dengan penambahan karpet masjid, serta beberapa kipas angin dan lampu penerang. Untuk mimbar dan mihrab nya disediakan ruangan khusus tersendiri layaknya sebuah gereja.

Sampai saat ini, Warga Amerika Latin yang sudah menjadi muallaf sudah banyak sekali. Hal ini seiring dengan usaha tulus yang dilakukan oleh kaum muslim Champa dalam mengusahakan kemakmuran lingkungan secara bersama-sama.

Masjid Djama’a al-Djedid di Aljir Aljazair

Masjid Djama’a al-Djedid di Aljir Aljazair

Salah satu masjid yang terkenal di Aljazair adalah masjid Al-Jadid ataupun dalam bahasa Inggris disebut juga dengan nama The Djama’a Al-Djedid. Sedangkan masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Djama’a al-Jadid dan dalam bahasa Turki disebut dengan nama Yeni Camii. Masjid Al-Jadid memiliki arti Masjid Baru, namun meskipun memiliki arti kata ‘baru’ sebenarnya masjid di kota Aljir ini merupakan masjid yang sangat kuno, tepatnya di ibukota Al-Jazair.

Capture Masjid Djama’a al-Djedid

Masjid Al-Jadid mulai didirikan pada taun 1660 M atau 1770 Hijriyyah atau ketika saat itu Aljazair sedang dalam kekuasaan Prancis. Pada saat itu juga masjid tersebut dikenal dengan nama Mosquee de la Pecherie atau dapat diartikan dalam bahasa Indonesia memiliki arti Masjid di dermaga nelayan atau dalam bahasa Inggrisnya the Mosque of the Fisherman’s Wharf.

Dilihat dari bangunan masjid, masjid Al-Jadid memiliki kubah yang cukup tinggi hingga mencapai 24 meter. Kubah tersebut ditopang dengan empat pilar dengan dasar bundar untuk menyangganya dan dilengakapi dengan tatakan seperti umpak. Disetiap bagian penjuru masjid terdapat empat kubah setengah bundar dengan dasar octagonal yang menutupi ke empat penjuru  masjid tersebut.

Tahun pembagunan masjid Al-Jadid ini dapat dilihat dari sebuah plakat yang ditempatkan di atas pintu masuk utama masjid Al-Jadid. Disana disebukan bahwa masjid tersebut telah dibangun pada tahun 1770 Hijriah atau tahun 1660 Masehi oleh Gubernur Aljazair yang ditunjuk  Pemerintahan Dinasti Usmaniyah yang berada di Istanbul Tukri, beliau adalah Haji Habib. Hal tersbut memiliki sebuah alasan karena wilayah Aljazair pada masa itu dalam kekuasaan Dinasti Usmaniyah. Haji Habib juga merupakan anggota dari pasukan khusus Infanteri Dinasti Usmaniyah yang disebut dengan Janissary atau Yanisari atau dalam bahasa Turki disebut dengan Yeniceri. Nama itu memilik arti sebagai ‘Pasukan Baru’.

interior Masjid Djama’a al-Djedid

Pasukan Janissary merupakan pasukan yang sangat elit dan pasukan itu adalah pasukan pertama di Eropa yang dibentuk pada masa kekuasaan Sultan Murad I pada tahun 1362 hingga 1389. Pasukan elit tersebut adalah pasukan pengawal pribadi Sultan dan sudah dilatih dengan kemampuan yang sangat khusus sebagai pasukan  yang memiliki loyalitas tinggi ke pada Sultan Murad I dan sangat patuh terhadap perinta beliau.

Dilihat dari bangunanya, masjid Al-Jadid memiliki arsitektur seperti masjid-masjid Usmaniyah, baik dari bentuk struktur bngunan hingga ornamennya bergaya masjid Usmaniyah. Tetapi karena tempat masjid tersebut di Aljazair, sentuhan dari budaya lokal pun turut mempengaruhu masjid Al-Jadid.

Karena perpaduan dari gaya masjid Usmaniyah dengan budaya lokal menjadikan masjid Al-Jadid terlihat unik termasuk  juga pengggunaan beberapa elemen dari gaya asitektur Italia dan Andalusia yang pada saat itu juga sangat berpengaruh di kawasan Afrika Utara.

Masjid ini berada di ujung barat dari Place des Martyrs dan pada sisi kiblatnya bersebelahan dengan sisi utara dari Boulevard Amilcar Calbar yang merupakan sebuah tempat dimana sekitar arah 70 meter ke arah timur dari masjid ini adalah Masjid Agung Aloravid Aljazair atau The Almoravid Grand Mosque of Algeirs.

Masjid Al-Jadid memiliki lebar yang berukuran 27 meter dan panjang yang berukuran 48 meter. Banguannya sendiri sedikit miring 28 derajat menyesuaikan dengan arah kiblat. Pada bagian bawah kubah utama masjid yang berdiameter 10 meter ini terdapat mimbar atau mihrab masjid. Tembok luar dan kubah masjid AlJadid di cat menggunakan warna putih sehingga terliht keseluruhun bangunan ini berwarna putih. Namun pada menara masjid berdenah segi empat seperti gaya Afrika Utara. Dengan keunikan bangunan masjid Al-Jdid ini menjadikan masjid tersebut populer ingga ke berbagai wilayah lainnya.