Masjid Kibuli – Kampala Uganda

Masjid Kibuli – Kampala Uganda

Masjid dengan nama “Kibuli” ini terletak di Jln. Kibuli, Kampala, Uganda. Kampala merupakan Ibukota dari Negara Republik Uganda, yaitu negara yang berada dibagian timur benua Afrika. Sebelum wilayah ini dikuasai oleh Eropa, Uganda merupakan sebuah wilayah kekerajaan dengan penguasa yang disebut dengan Kabaka dari keluarga Buganda.

Masjid Kibuli

Negara Inggris dalam ekpedisi perluasan kekuasaannya kemudian tiba didaerah tersebut dan melihat binatang “Impala” berkeliaran dengan bebas disana, lalu menyebut kawasan tersebut sebagai “Hill of Impala”. Dalam bahasa lokal sebutan itu biasa di katakan “Kazozi K’ Impala” atau “Ka Impala” atau secara singkat biasa disebut dengan “Ka mpala” yang saat ini menjadi nama dari wilayah tersebut.

Sedangkan nama “Uganda” yang saat ini melekat menjadi nama negara tersebut, berasal dari ketidakmampuan bangsa Eropa dalam menyebutkan “Buganda”, sehingga Buganda berubah menjadi Uganda.

Kota Kampala, pada masa kejayaan raja Kabaka Buganda sempat menyebar sampai ke wilayah bukit-bukit sekitar, hingga mencapai 7 bukit. Dari sini sebutan kota Kampala juga muncul yaitu “Kota Tujuh Bukit” meskipun sampai saat ini wilayah Kampala sudah lebih dari 20 bukit.

Beberapa bukit tersebut menjadi tempat-tempat penting bagi Kota Kampala pada masa itu, seperti bukit pertama yang menjadi Istana Raja Kabaka yang bernama Kasubi, kemudian bukit kedua bernama Mengo yang menjadi tempat berdirinya istana Kabara saat ini serta markas besar dari Pengadilan Tinggi Buganda. Kemudian bukit ketiga bernama “Kibuli” yang menjadi markas bagi umat islam di kota Kampala, sekaligus tempat berdirinya masjid tertua di wilayah tersebut.

Masjid Kibuli merupakan masjid tertua dan pertama kali dibangun di daerah Kampala. Disebut dengan Masjid Kibuli karena tempat berdirinya terletak di Bukit Kibuli. Karena umurnya yang sudah tua, namun keindahannya tetap terjaga, masjid ini menjadi Landmark kota Kampala. Apalagi keindahan masjid ini bisa dilihat dari beberapa bukit lainnya.

interior Masjid Kibuli

Lokasi tempat berdirinya masjid ini awalnya merupakan sebuah lahan yang dimiliki Pangeran Badru Kukungulu, yang berasal dari keluarga Bangsawan Bugunda. Beliau kemudian mewakafkan tanah tersebut beserta sebagaian besar lahan di Bukit Kibuli sebagai lahan untuk membangun masjid.

Perkembangan islam di Kota Kampala sudah dimulai pada tahun 1930, pada saat islam mulai menyebar dan Pangeran Badru Kukungulu masuk islam, beliau kemudian menawarkan wakaf tanah untuk digunakan sebagai tempat berdirinya masjid. Kemudian pembangunan dimulai pada tahun 1936, selesai dan diresmikan oleh Pangeran Aly Salomone Khan pada tahun 1951. Atas jasa Pangeran Badru Kukungulu, beliau kemudian dimakamkan di komplek Maosoleum disamping Masjid Kibuli.

Sampai saat ini, selain digunakan untuk tempat berdirinya Masjid, Bukit Kibuli juga digunakan sebagai tempat pembangunan Rumah Sakit Kibuli, Sekolah Menengah Pertama, dan Boarding School (Pondok). Selain itu juga dibangun Lembaga Pendidikan Guru, Pusat Pelatihan Politisi, Greenhil Academi, Psar Sentral, dan Kampus Islamic University in Uganda (IUIU). Kemudian dibagian bawah sisi timur bukit juga terdapat kawasan industri tua di Kampala, seperti industri minyak milik perusahaan asing.

Meskipun menjadi masjid yang pertama berdiri di Kampala, Uganda, sampai saat ini beberapa masjid juga sudah berdiri dipuncak bukit lain didaerah Kampala, seperti Masjid Gadafi yang menjadi Masjid Nasional Uganda. Dilihat dari namanya saja, Masjid Gadafi sudah jelas diadopsi dari mendiang presiden Libya, Muammar Khadafi, karena memang beliaulah yang memberikan masjid tersebut kepada pemerintah Uganda.

Masjid Keramat Kuno Singaraja – Bali

Masjid Keramat Kuno Singaraja – Bali

Masjid Keramat Kuna atau Kuno terletak di Jln.. Hasanuddin, Desa Buleleng, Kecamatan Buleleng, Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Bali, meskipun sampai saat ini belum jelas kapan tepatnya masjid ini dibangun.

Singaraja merupakan kota kecamatan dari Ibukota Buleleleng di Provinsi Bali. Mayoritas penduduk Bali memang beragama Hindu, namun ada minoritas di provinsi tersebut yang beragama Islam. Jumlah pemeluk Islam di Wilayah Singaraja sudah cukup banyak, jadi tidak terlalu sulit lagi untuk menemukan musholla maupun masjid.

Masjid Keramat Kuno Singaraja

Sejarah Islam sudah tumbuh dengan kuat pada zaman Singaraja masih berstatus sebagai kerajaan, dan negara NKRI belum terbentuk. Hal ini bisa terlihat dari masjid yang berada di sana yaitu “Masjid Keramat Kuno Singaraja”, terletak di Kanjanan, Singaraja. Sekali lagi, meskipun belum jelas secara resmi kapan masjid ini dibangun, namun dari bentuk arsitektur dan umur bangunannya kemungkinan masjid ini dibangun pada tahun 1645, sekaligus menjadikan Masjid Keramat Kuno Singaraja menjadi masjid tertua di daerah Singaraja bahkan di seluruh wilayah kabupaten Buleleng.

Saat ini, masjid ini dihimpit oleh beberapa rumah penduduk yang memadati daerah tersebut. Bahkan jalan masuk masjid hanya berupa sebuah gang kecil yang hanya cukup dilewati oleh pejalan kaki dan 1 sepeda motor.  Masjid Keramat Kuna Singaraja masih terawat dan berdiri kokoh ditengah himpitan rumah penduduk, karena masjid ini merupakan simbol dari kearifan para pemeluk agama islam yang merupakan minoritas di kawasan Buleleng.

Memang belum ada klarifikasi resmi dari pemerintah sekitar kapan sebenarnya masjid ini dibangun, namun menurut cerita tutur yang beredar, masjid ini sudah digunakan pada tahun 1654 oleh masyarakat muslim sekitar Buleleng.

Pada zaman dulu, awalnya masyarakat muslim di buleleng tinggal di pesisir pantai, namun karena abrasi air laut yang semakin meluas membuat kampung mereka tergerus. Pada akhirnya para penduduk memilih untuk berpindah ke selatan, yaitu dikampung Singaraja. Daerah Singaraja awalnya merupakan semak belukar seperti kebun dengan tumbuhan semak yang sangat lebat, kemudian masyarakat bergotong royong untuk membangun kampungnya. Selain itu mereka juga membangun bangunan berukuran 15 x 15 meter, dengan empat tiang penopang yang terbuat dari pohon kelapa, dengan atap meru. Bangunan tersebut diduga merupakan bangunan masjid yang sampai saat ini masih eksis.

Bisa di katakan masjid karena memang pada saat ditemukan, bangunan tersebut memiliki sebuah mimbar yang biasanya digunakan oleh khotib untuk berkutbah. Namun sampai sekarang belum jelas siapa yang membangun masjid tersebut, dari arsitektur kubah dan ukiran khas bali, kemungkinan pendiri masjid tersebut merupakan muslim asli daerah bali.

interior Masjid Keramat Kuno Singaraja

Masjid ini memiliki keunikan tersendiri, dilihat dari seni arsitekturnya dengan ukiran-ukiran tumbuh-tumbuhan yang melekat pada tiang maupun mimbar mengibaratkan kekayaan flora di Pulau Bali. Kemudian seni pahat yang digunakan disinyalir merupakan seni pahat Bali Utara. Kemudian, keempat tiang panyangga yang terbuat dari kayu pohon kelapa sampai saat ini tidak diganti, namun ditambah dengan ketebalannya, agar lebih kuat dan awet.

Selain itu, masjid ini juga terkenal unik karena biasanya dijadikan tempat untuk mengucapkan sumpah untuk menyelesaikan pertikaian antara penduduk, jika dirasa tidak ada yang mengaku siapa yang bersalah dari permasalahan yang terjadi.

Meski pernah mengalami renovasi, namun keaslian dari ornamen dengan pahatan bali masih melekat pada masjid ini. Kemungkinan besar masjid ini merupakan masjid yang dibangun salah satu dari wali songo, mengingat pantai utara Bali memang sangat dekat dengan pulau jawa.

Masjid Arab Ahmet – Lefkosa Cyprus Utara

Masjid Arab Ahmet – Lefkosa Cyprus Utara

Masjid Arab Ahmet merupakan salah satu masjid tua di kota wilayah Lefkosa, Cyprus Utara. Tepatnya di Sht. Salahi Sevket Sk, Lefkosa, Cyprus Utara. Lokasinya tidak jauh dari Ataturk Square, bersebelahan dengan Victoria Street.

Masjid Arab Ahmet

Nama Arab Ahmet  diadopsi dari nama Jenderal Arab Ahmad Pasha, salah satu Jenderal dari Emperium Usmaniyah / Turki Usmani / Ottoman. Beliau merupakan jenderal yang memimpin penaklukkan Cyprus pada tahun 1571,  kemudian menjadi Gubernur Pulau Rhodes, saat ini menjadi wilayah kekuasaan Yunani.

Masjid Arab Ahmet dibangun pertama kali pada abad ke-18 oleh pemerintah Turki, mengambil tempat bekas gereja Latin tua. Masjid ini merupakan salah satu masjid yang paling terkenal di Nicosia karena rancangannya yang klasik merujuk pada bangunan-bangunan masjid tua di Turki. Apalagi, hanya ada 2 bangunan masjid yang seperti ini di Cyprus, yaitu di Nicosia dan di Lapta.

Pembangunan ulang pertama kali dilakukan pada thaun 1845, kemudian pembangunan ulang hampir total dilakukan pada tahun 1990-an. Konon, material bangunan yang digunakan untuk restorasi kedua tersebut menggunakan beberapa material bekas dari runtuhan gereja dan beberapa batu pemakaman yang masih bisa digunakan sebagai lantai masjid, misalnya batu dari makam Lous de Nores (1369).

Sedangkan untuk Arsitektur bangunannya, masjid ini mengadopsi denah segi empat dengan satu kubah utama yang berukuran besar, ditambah dengan beberapa kubah yang berukuran lebih kecil disekeliling kubah utama. Desain seperti ini biasanya merupakan desain masjid pada zaman Turki Usmani, dengan menara lancip disampingnya.

Menara dengan balkoni diatas dan bentuk yang runcing terletak terpisah dari bangunan utamanya, balkoni tersebut dulunya dijadikan tempat muadzin untuk mengumandangkan adzan, karena memang pada saat itu belum ada teknologi pengeras suara.

Kemudian untuk bagian halaman masjid, dibangun satu tempat khusus untuk berwudu dengan bentuk sebuah pancuran yang berada disebuah bangunan mirip pendopo. Kemudian pada bagian taman di halaman tersebut di tanami dengan beberapa tanaman hias dan bunga-bunga yang menarik, sehingga suasana halaman menjadi sangat tenang dan indah. Para jamaah bisa dengan leluasa menikmati pemandangan sekaligus bersantai di sekitar areal masjid.

Kemudian disalah satu sudut taman terdapat beberapa makam tua, dengan ukiran bahasa Turki pada batu nisan, yang sangat umum pada masa Emperium Usmaniyah. Makam-makam kuno tersebut sampai saat ini masih terawat dengan baik. Biasanya para jamaah juga masih menyempatkan diri untuk berziarah ke makam tersebut.

interior Masjid Arab Ahmet

Salah satu makam yang biasa di ziarahi oleh masyarakat sekitara adalah makam Kami Pasha, lahir di Lefkosa tahun 1832, wafat di Lefkosa pada tahun 1913. Beliau merupakan salah satu warga Lefkosa / Nicosia yang pernah menduduki jabatan tertinggi Grand Vizer atau Gubernur pada saat kejayaan Emperium Usmaniyah.  Makam tersebut kemudian dibangun dengan lebih apik pada tahun 1927 atas perintah dari Gubernur Cyprus pada saat itu, Sir Ronald Torss. Pada makam tersebut kemudian diberikan ukiran tulisan keterangan tentang Kamil Pasha dalam bahasa Turki dengan Aksara Arab, serta Bahasa Inggris.

Selain Kamil Pasha, ada beberapa makam lagi disampingnya yang juga merupakan Grand Vizer pada masa kejayaan Emperium Usmaniyah, yaitu Ishak pasha dan Hafiz Hasan.

Selain beberapa keunikan diatas, masih ada keunikan lain yang dimiliki masjid ini, yaitu masjid ini memiliki sleembar jenggot asli dari Nabi Besar Nabi Agung Muhammad S.A.W, yang hanya dirawat dan disimpan dengan baik sampai sekarang. Selembar jenggot tersebut hanya diperlihatkan kepada publik setahun sekali dalam suatu acara peringatan hari besar Islam.

Masjid Al-Ijtihaj Lamakera, Pulau Solor

Masjid Al-Ijtihaj Lamakera, Pulau Solor

Di salah satu wilayah Timur Negara Indonesia yaitu Nusa Tenggara Timur terdapat sebuah desa yang sangat menarik. desa tersebut bernama desa Lamakera. Tepatnya berada di pantai ujung timur pulau Solor Nusa Tenggara Timur. Jika datang dan mengunjungi tempat ini jangan kaget bila disana terdapat pemandangan yang jarang dilihat dan sangat menakjubkan. Dimana tempat tersebut terkenal dengan desanya sebagai pemburu ikan paus selama berabad-abad. Tak biasanya para pemburu tersebut menjadikan paus sebagai umpan mereka. Untuk menangkap paus bukan lah hal yang mudah karena butuh nyali yang sangat besar. Profesi menangkap paus juga merupakan pekerjaan yang benar-benar langka. Selain desa Lamakera yang kebanyakan penduduknya berprofesi sebagai menangkap paus, desa Lamakera juga merupakan desa yang masyarakatnya kebanyakan menangkap ikan paus.

Masjid Al-Ijtihaj Lamakera

Selain keunikan yang dimiliki oleh penduduk desa Lamakera, ternyata di desa tersebut juga memiliki pemandangan alam yang sangat luar biasa. Ditambah dengan Pemkab Flotim yang selalu mengembangkan desa tersebut sebagai wisata bahari bagi mereka pecinta laut khususnya. Para Pemerintah Kabupaten telah memulainya sejak tahun 2015 dan hingga kini terdapat beberapa hewan langka yang hampir punah. Seperti ikan paus, lumba-lumba, hiu dan lainnya.

Mayoritas penduduk desa Lamkera adalah beragama Islam (Ada info lain bahwa 100% Muslim). Karena letaknya berada di ujung timur pulau Solor menjadikan desa ini selalu ramai oleh berbagai orang karena merupakan sebuah pertemuan arus dan mudah untuk mengunjungi laut Sawu. Penduduk disana terkenal dengan metode buruan paus yang sangat unik dan jarang digunakan oleh orang lain, yaitu hanya menggunakan tombak.

Karena mayoritas penduduk di desa Lamakera beragama islam, disana juga terdapat tempat beribadah umat muslim yang terkenal akan kemegahannya dengan gaya yang sangat modern. Masjid tersebut adalah masjid Al-Ijtihad. Masjid ini menjadi salah satu ikon bangunan Lamakera karena memiliki desain yang sangat menarik ditambah dengan menara yang menjulang tinggi. Bangunan masjid Al-Ijtihad dapat dilihat dari kejauhan karena letak desa Lamakera yang berada di bibir pantai. Tak hanya itu saja, masjid ini juga dapat terlihat menonjol dari perumahan penduduk Lamakera jika di lihat dari bukit batu yang berada di sebelah barat desa tersebut.

Pembangunan/pemugaran masjid Al-Ijtihad dimulai pada tahun 2012 dengan menggunakan danaa swadaya dari masyarakat muslim di kawasan itu. Hal tersebut merupakan upaya dan kerja keras yang luar biasa dimana semangat yang tinggi dalam perkembangan agama Islam di sebuah desa terpencil. Meskipun berada di wilayah yang jarang diketahui orang luar, namun kerja sama para masyarakat sekitar mampu membangun sebuah masjid yang sangat megah. Yang membuat masjid ini terkenal hingga Flores adalah menara masjid Al-Ijtihad memiliki ukuran tingginya yang mencapai 45 meter  dan merupakan menara tertinggi di Kabupaten Flores Timur dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

menara Masjid Al-Ijtihaj Lamakera

Masjid Al-Ijtihad memiliki ciri khas dari ketujuh pintu masjid. Karena masing-masing pintu tersebut memiliki nama sesuai dengan nama ke tujuh suku yang berada di Lamakera. Ke tujuh suku tersebut antara lain Lewoklodo, Hari Onang, Lawerang, Ema Onang, Kiko Onang, Lamakera dan Kuku Onang. Disamping memiliki menara tertinggi pada menara utama, masjid Al-Ijtihad juga memiliki empat menara lainnya di penjuru masjid.

Diketahui bahwa agama islam masuk ke wilayah Lamkera berasal dari pedagang Nusantara, salah satunya adalah pedagang dari tanah Jawa. Lalu mereka biasanya berdagang dan singgah di beberapa wilayah di Nusa Tenggara Timur sebelum melanjutkan perdagangannya ke Maluku, Makassar dan beberapa wilayah di Nusantara lainnya. Itulah awal mulanya agama islam masuk ke Lamkera sehingga saat ini mayoritas penduduknya beragama islam.

Masjid Agung Darussalam Taliwang

Masjid Agung Darussalam Taliwang

Di Nusa Tenggara Barat terdapat sebuah bangunan tempat ibadah umat muslim yang sangat menarik dan megah. Lokasinya tepat berada diJalan Bung Hatta No. 2 Kompleks KTC Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat. Nama masjid ini adalah masjid Agung Darussalam Taliwang dengan lokas yang tergabung dengan dalam kawasan komplek kantor pemerintahan yang diberi nama komplek KTC atau Komutar Telu Center Kecamatan Taliwang. Bangunan masjid ini sangat menonjol karena jika dilihat dari ketinggian arsitektur masjid terlihat jelas memiliki denah persegi delapan.

Masjid Agung Darussalam Taliwang

Pembangunan masjid Agung Darussalam Taliwang merupakan salah satu bangunan yang diutamakan bersama dua gedung lainnya yaitu gedung Graha Fitra dan gedung Sekertariat Pemerintahan Daerah (Sekda) Kabupaten.

Pembangunan masjid Agung Darussalam Taliwang selesai pada tahun 2010 pada masa pemerintahan bupati KH. Zulkifli Muhadli. Dalam pembangunanya, masjid gung Darussalam menghabiskan dana sebesar Rp. 32 miliar. Masjid Agung Darussalam memiliki luas bangunan yang mencapai 15.500 m2 sedangkan keseluruhannya masjid Agung Darussalam mencapai luas 48.500 m2. Karena masjid Agung Darussalam Taliwang merupakan masjid terbesar dan termegah di kabupaten Sumbawa Barat, masjid ini mampun menampung jamaah berkapasitas sebanyak 8000 jamaah. Masjid Agung Darussalam juga merupakan salah satu masjid yang menambah khasanah jejeran bangunan masjid megah di provinsi NTB karena sudah sejak lama trkenal dengan julukan provinsi seribu masjid.

Ketika masjid ini mulai diresmikan dan dibuka khususnya untuk melaksanakan ibadah shalat, masjid Agung Darussalam Taliwang juga telah melakukan berbagai program kerja seperti program pembinaan, penyuluhan, penelitian, bimbingan, kajian buku dan berbagai kegiatan ilmiah lainnya. Program tersebut dilaksanakan oleh pengurus masjid Agung Darussalam Taliwang.

Dilihat dari desain bangunan masjid ini, masjid Agung Darussalam Taliwang memiliki penyangga yang berjummlah 99 tiang. Angka tersebut juga menunjukkan dari 99 nama Allah SWT atau disebut dengan smaul Husna. Terdapat juga 112 anak tangga yang mencerminkan surat Al-Ikhlas sebagai surat ke 112 dalam Al-Qur’an. Disana juga akan terlihat kolam yang luasnya 5000 m2 dan bagian dalamnya terbuat dari kaca dengan merefleksikan bentuk bangunan masjid tersebut dengan dihiasi 120 titik air mancur yang sangat indah. Hal yang jarang ditemui dari beberapa masjid lainya adalah ketika para jamaah akan memasuki masjid ini mereka akan melewati sebuah jembatan penghubung yang melintasi sungai. Konsep bangunan masjid Agung Darussalam Taliwang ini menjadi cirri khas tersendiri yang dimiliki masjid tersebut.

interior Masjid Agung Darussalam Taliwang

Di bagian atas masjid terdapat sebuah kubah utama yang sangat besar ditambah dengan kelima kubah kecil lainnya disekeliling kubah utama. Kubah besar tersebut melambangkan makna tauhid sedangkan kelima kubah tersebut melambangkan sebagai rukun Islam yang berjumlah lima. Sedangkan tiang penyangga utama masjid Agung Darussalam Taliwang memiliki enam buah yang juga menyimbolkan dari Rukun Iman yang jumlahnya ada enam. Sedangkan kedua menara yang berada di sebelah kiri kanan masjid melambangkan makna dari Syahadat.

Ketika memasuki masjid ini, pengunjung dan para jamaah akan merasa lebih terpesona karena tatanan yang luas dan megah masjid Agung Darussalam Taliwang menampilkan pilar-pilar yang sangat kokoh. Cat tembok dan interior masjid didominasi warna putihh yang melambangkan kesucian dan juga terdapat warna hijau dan emas. Selain itu trlihat hiasan kaligrafi yang begitu indah nan menawan di sepanjang dinding masjid. Ditambah dengan sebuah lampu gantung yang beratnya mencapai 600 kilogram dan dipenuhi dengan 64 lampu kecil sebagai penerang ruangan masjid.

Masjid Agung Kota Poitiers – Grande Mosquee de Poitiers

Masjid Agung Kota Poitiers – Grande Mosquee de Poitiers

Masjid Agung Kota Piters atau jika dalam bahasa perancis disebut dengan “Grande Mosquee de Poitiers, merupakan masjid pertama kali yang dibangun di kota Poitiers Perancis, tepatnya di Re de la Vincenderie, Poitiers, Aquitaine-Limousin-Poitou-Charentes, Perancis.

Bangunanya sejak pertama kali dibangun memang ditujukan untuk sebuah Masjid, namun baru pada tahun 2012 lalu bangunan ini dalam tahap pengerjaan akhir, karena memang terjadi beberapa hambatan pada saat rencana pembangunan masjid dilakukan.

Masjid Agung Kota Poitiers

Kota Pointiers sampai saat ini memang dikenal dengan kota pelajar, dimana banyak sekali pelajar dari mancanegara yang sengaja data ke Kota Pointiers untuk menimba ilmu dari berbagai Universitas yang ada disana. Beberapa pelajar berasal dari benua Afrika serta beberapa negara yang berpenduduk mayoritas muslim seperti negara Timur Tengah.

Para mahasiswa muslim yang ada di Kota Pointiers kemudian membangun sebuah komunitas muslim bersama-sama, dan mendirikan sebuah bangunan masjid dari sebuah bangunan klab malam yang sudah terpakai, lalu dialihfungsikan sementara sebagai masjid. Bekas klab malam tersebut sementara digunakan sebagai tempat peribadatan komunitas muslim disana sambil menunggu pembangunan Masjid Agung Poitiers selesai dibangun.

Masjid Agung Poitiers merupakan salah satu masjid yang menjadi sorotan besar dunia pada tanggal 24 Oktober 2012 lalu, karena ada insiden yang begitu mencolok. Pada saat itu sekitar 60 orang dari kelompok ekstrim sayap kanan Perancis, mengepung dan mengambil alih bangunan masjid secara paksa, padahal pada saat itu bangunannya sedang dalam tahap akhir. Aksi dari anggota kelompok sayap kanan tersebut melakukan aksi protes terhadap pemerintah Perancis dan terhadap pengaruh dari agama islam yang mulai merebak di seluruh penjuru Poitiers. Aksi tersebut mendapatkan kecaman keras dari pihak dunia dan politikus muslim besar di dunia.

60 orang asli Poitiers dari kelompok ekstrim sayap kanan perancis tersebut menyebut diri mereka sebagai “Generation Identity”, mereka menyerbu masjid pada pukul 6 pagi, kemudian memanjat tembok hingga menuju atap dan membentangkan sebuah sepanduk bertuliskan “732 Generation Identity”. Arti dari spanduk tersebut adalah tahun 734 dimana Charles Martel maju dengan berani menghadapi serbuah tentara muslim di sebelah utara kota Poitiers.

interior Masjid Agung Kota Poitiers

Kemudian Generation Identity juga menuliskan pada website nya bahwa, mereka tidak menginginkan lagi ada imigran muslim dari luar Eropa, ataupun pembangunan masjid baru di negara Perancis.

Pada saat insiden tersebut terjadi, kelompok ekstrimis tersebut mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tidak mau meninggalkan masjid tersebut meskipun di paksa oleh pihak yang berwenang. Namun akhirnya mereka sudah meninggalkan masjid pada jam 1 siang karena sudah tercapai kesepakatan antara polisi dan kelompok yang mengaku Generation Identity tersebut. meskipun begitu, tiga orang dari kelompok tersebut tetap ditahan oleh polisi setempat.

Ternyata kecaman kerasa terhadap Generation Identity datang dari berbagai pihak termasuk dari dalam negeri Perancis sendiri yang kini di kuasai oleh Partai Komunis dan Partai Sosialis. Mereka menginginkan pembubaran Generation Identity karena dinilai telah menyebarkan kebencian antara etnis yang bisa memicu tindak kekerasan lainnya. Kemudian dari pihak pemerintah kota Poitiers sendiri juga menilai bahwa aksi yang mereka lakukan benar-benar meresahkan, karena protes yang tidak legal serta menjadi suatu bentuk tindakan kebenciak rasial.

Bahkan, Dewan Muslim Perancis (CFCM) juga mengutuk tindakan tersebut, karena dinilai sangat liar dan bisa merusak tatanan kerukunan umat beragama di Perancis, meskipun dari sisi sejarah memang umat muslim pernah menyerang Perancis pada zaman dulu.

Masjid Jami’ Kebon Jeruk – Jakarta Barat

Masjid Jami’ Kebon Jeruk – Jakarta Barat

Masjid jami’ Kebon Jeruk terletak di Jln. Hayam Wuruk, Desa Maphar, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Masjid ini merekam sejarah kiprah muslim Tionghoa di Indoneia di beberapa bagian masjid yang sangat indah dengan seni khas masyarakat Tionghoa.

Masjid Jami’ Kebon Jeruk juga menjadi salah satu masjid tua yang berada di daerah Jakarta, karena dibangun pada masa-masa penjajahan Belanda. Masjid ini dibangun pertama kali oleh Chau Tsien Hwu atau biasa dikenal dengan Tschoa pada tahun 1786 M, yaitu seorang muslim kaya berdarah Tionghoa yang hidup pada masa itu. Pada awal dibangun, masjid ini hanya berupa Surau atau Musholla yang kecil, karena memang pada saat itu masih digunakan oleh beberapa orang saja.

masjid jami' kebon jeruk

Pada samping masjid tua yang masih berdiri saat ini, terdapat makam tua bertuliskan “Hsienpi Men Tsu Now” atau jika dalam bahasa Indonesianya adalah Makam China dari Keluarga Chai. Makam tersebut adalah makam Fatimah Hwu, Istri dari Chau Tsien Hwu.

Surau atau Musholla Kecil pada masa itu, kini menjadi sebuah masjid yang besar, dan masih berdiri kokoh sampai saat ini. Masjid ini sekaligus menjadi saksi bisu tentang perjalanan masyarakat etnis Tionghoa yang berada di Indonesia, terutama di Jakarta.

Masjid Jami’ Kebon Jeruk juga menjadi masjid pertama kali yang didirikan oleh etnis Tionghoa, dan sampai saat ini sudah berumur lebih dari 200 tahun. Meskipun sudah tua, ternyata sampai sekarang masjid ini masih padat oleh jamaah yang melaksanakan sholat berjama’ah, apalagi pada waktu sholat Jum’at. Bukan hanya dari warga lokal saja yang sering datang mengunjungi masjid ini, namun wisatawan dari Pakistan, India, Arab Saudi, serta Malaysia juga sering mengunjungi masjid dengan nilai sejarah yang tinggi ini.

Karena merupakan peninggalan bersejarah yang sudah berumur ratusan tahun, pada tanggal 10 Januari 1972, pemerintah DKI Jakarta, Dinas Museum dan Sejarah menetapkan Masjid Jami’ Kebon Jeruk – Jakarta Barat ini menjadi salah satu monumen sejarah yang harus dilestarikan dan dilindungi bersama.

Menurut sejarah, Chau Tsien Hwu, Pendiri masjid ini berasal dari Sin Kiang, Tiongkok, yang mengungsi ke Indonesia karena pada saat itu terjadi penindasan dari pemerintah kepada rakyat di Tiongkok. Sesampainya di Batavia / Jakarta, Chau Tsien Hwu bersama dengan teman-temannya menemukan Musholla kecil yang sudah tidak terawat dan hampir roboh. Akhirnya mereka sepakat untuk membangun ulang Surau tersebut menjadi sebuah Masjid dengan nama Masjid Kebon Jeruk. Dinamai Kebon Jeruk karena memang pada saat itu lokasi berdirinya Masjid berada di sebuah kebun yang di penuhi dengan pohon jeruk.

interior masjid jakarta timur

Diketahui bahwa Surau yang saat ini menjadi Masjid Jami’ Kebon Jeruk telah berdiri sejak tahun 1448 Masehi. Dengan bangunan yang berbentuk bulat, memiliki 4 tiang, dan atap daun nipah, serta beberapa ukiran dibagian interior surau-nya. Sampai saat ini tidak diketahui siapa yang mendirikan surau tersebut.

Selain terkenal dengan nilai sejarahnya yang tinggi, masjid Jami’ Kebon Jeruk juga terkenal dengan kegiatan Tabligh dan Dakwah Islam di Indonesia. Masjid ini dijadikan pusat perkumpulan Jamaah Tabligh yang bahkan sampai saat ini selalu berkeliling daerah seluruh nusantara untuk terus menyebarkan syiar ajaran islam yang benar.

Hal yang unik dari masjid ini terjadi pada bulan Ramadhan, dimana banyak sekali orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru negeri, bahkan ada beberapa yang datang dari mancanegara, untuk bermukim di masjid tersebut selama bulan Ramadhan berlangsung atau biasa di sebut dengan Pondok Romadhon.

Selama bulan Romadhon tersebut mereka isi dengan kegiatan-kegiatan yang bisa meningkatkan iman, seperti Shalat Dhuha, Tahajud, Isra’, Membaca Al-Qur’an dan lain-lain. Keunikan lainnya terjadi pada saat berbuka puasa, para jamaah akan berkumpul dan menikmati hidangan secara bersama-sama pada sebuah nampan. Hal ini dimaksudkan untuk meniru Sunah Nabi Muhammad SAW, serta untuk merekatkan kebersamaan diantara para jamaah.

Masjid Sentral Adelaide Australia

Meskipun di Australia mayoritas penduduknya bukan beragama islam, namun tak menyurutkan untuk membangun sebuah tempat ibadah bagi umat muslim yang tinggal disana. Salah satunya berada di Adelaide. Adelaide sendiri adalah seuah ibukota wilayah selatan Australia yang awalnya di huni oeh pemukim bebas pada tahun 1830 di sepanjang sisi sungai Torrens. Namun saat ini Adelaide memiliki jumlah penduduk yang telah mencapai 1.28 juta jiwa dan menjadikan tempat ini sebagai kota terbesar kelima yang berada di Australia. Tak hanya itu, Adelaide juga merupakan sebuah kota pantai yang sangat terkenal dengan pemandangan alam indahnya. Tempat ini juga merupakan salah satu pilihan dan tujuan utama bagi penduduk sekitar bahkan penduduk lainnya yang berada di Australia.

masjid adelaide

Hubungan islam dan Adelaide yaitu pada tahun 1860. Hadirnya islam pada saat itu diawali dengan masuknya imigran muslim dari Afghanistan yang menunggang Onta. Pada saat itu mereka menggunakan Onta sebagai alat transportasi dan mereka juga pergi ke australia untuk mendukung aktivitas pertambangan di daerah gurun Australia. Lalu, mereka pula lah yang membangun pertama kali tempat ibadah di Adelaide yang hingga saat ini dikenal dengan nama Masjid Sentral Adelaide atau Central Mosque Adelaide. Sekarang masjid ini dikelola oleh Islamic Society of South Australia.

Perlu diketahui bahwa masjid Sentral Adelaide adalah masjid tertua di Adelaide yang telah dibangun sejak tahun 1888. Bangunan masjid ini memiliki empat menara namun dibuat pada tahun 1903. Banyak para jamaah yang datang ke masjid ini tak hanya dari muslim sekitar saja tetapi hingga dari wilayah Broken Hill dan Kalgoorlie. Mereka biasanya berkumpul di masjid Sentral Adelaide terutama pada saat bulan Ramadhan tiba. Bahkan pada tahun 1890 para jamaah masjid Sentral Adelaide telah mencapai jumlah 80 muslm Afghanistan yang memeriahkan bulan suci Ramadhan sekaligus merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Selain dikenal dengannama masjid Sentral Adelaide, masjid ini juga kadang disebut dengan Masjid Afghan atau Afghan Chapel karena memang pembangunan masjid ini dilakukan oleh muslim imigran dari Afghanistan. Pada saat pembangunannya, masjid Sentral Adelaide menghabiskan dana 150 pound dan dana tersebut dikeluarkan oleh muslim Afghan dan dibantu oleh beberapa sponsor dari kota Melbourne.

interior masjid adelaide

Dibalik pembangunan masjid yang dilakukan imigran Afghan, ternyata mereka memiliki cerita yang cukup keras. Karena pada saat ituu terdapat tindakan rasisme atas agama yang mereka anut. Tak hanya masalah agama, mereka juga harus kuat dari berbagai tindakan rasis karena warna kulit dan penampilan mereka berbeda dengan penduduk sekitar. Namun karena para imigran muslim tersebut memiliki keimanan yang cukup kuat dan tangguh dalam memegang ajaran agama islam, akhirnya mereka dapat membangun sebuah tempat ibadah umat muslim yang masih digunakan hingga saat ini. Tak hanya berharga dan menjadi suatu kebanggan umat muslim saja, ternyata bangunan masjid ini menjadi sangat berharga bagi Australia.

Jika dilihat dari ukuran masjid, masjid Sentral Adelaide tidak sebesar masjid yang berada di Indonesia. Masjid ni berdenah persegi panjang membujur ke arah kiblat serta untuk dindingnya menggunakan bahan batu bata. Namun dinding bagian dalam masjid ini menggunakan kayu. Ketika memasuki masjid ini akan terihat suasana yang sangat sederhana dan terasa hangat yang berasal dari bahan kayu. Meskipun ruangan masjid tidak dipenuhi oleh berbagai ornamen, namun dilengkapi oleh mihrab kecil dan terdapat sebuah mimbar yang juga terbuat dari kayu. Meskipun terkesan sederhana, namun masjid Sentral Adeliade ini memiliki sejarah tersendiri bagi umat muslim di Australia.

 

Masjid Melayu Kurunegala Sri Lanka

Masjid Melayu Kurunegala Sri Lanka

Tak hanya masyarakat Sri Lanka, di negara tersebut terdapat sebuah masjid yang merupakan tempat ibadah muslim melayu. Masjid tersebut bernama masjid Melayu Kurunegala atau disebut juga dengan nama Malay Jumma Mosque atau Masjid Jum’ah Melayu Kurunegala. Masjid ini telah dibangun pada masa kolonial Inggris di Sri Lanka dan merupakan sebuah bangunan tertua di Kurunegala. Tempat ini juga dahulunya merupakan sebuah tempat yang disediakan untuk umat muslim dan merupakan sebagai fasilitas mereka yang datang pertama kali kesana lalu menetap disana. Meskipun mayoritas penduduk Sri Lanka beragama Hindu dan Budha, namun beebrapa tempat ibadah umat muslim disana masih dapat ditemukan. Salah satunya masjid Melayu Kurunegala ini yang menjadi salah satu pilihan dari beberapa masjid di Sri Lanka.

masjid kurunegala di sri langka

Hal yang menarik antara Sri Lanka dan Indonesia adalah sama-sama pernah dijajah ole Belanda. Begitu pula dengan Negara Malaysia. Lebih tepatnya Sri Lanka merupakan sebuah tempat untuk pengasingan dan pembuangan bagi para tokoh yang memperjuangkan negara di Tanah Air. Bahkan beberapa dari mereka tidak kembali ke Indonesia karena penjajahan disana jatuh dan dilanjutkan oleh Inggris.

Dibalik ikatan hubungan antara Sri Lanka, Indonesia dan Malaysia pada dahulu, kini Sri Lanka juga memiliki bangunan masjid yang berhubungan dengan Muslim Melayu dari Indonesia dan juga Malaysia. Tak hanya masjid Melayu Kurunegala saja, ternyata ada beberapa masjid lainnya yang memiliki hubungan yang sama, seperti masjid Agung Colombo atau The Grand Mosque of Colombo yang dibangun oleh Muhammad Balang kaya. Beliau adalah orang kaya yang merupakan putra dari Hulu Balang Kaya berasal dari Kesultanan Goa Sulawesi Selatan. Beliau diasingkan ke Sri Lanka pada tahun 1796 oleh pemerintahan kolonial Belanda. Selain itu juga ada masjid Jumah Wekande atau disebut juga dengan The Wekande Jumma Mosque yang merupakan wakaf dari Muslim Indonesia.

Pada saat pemerintahan Inggris berkuasa di Sri Lanka, mereka ingin menebarkan pengaruhnya hingga seluruh negeri tersebut. Lalu pada tahun 1848 terdapat 30 tentara dalam satu Resimen Melayu dan dua orang staff di tugaskan untuk tinggal di Kurunegala. Pada saat itu, resimen tersebut merupakan seorang muslim yang sangat relijius. Maka dibangunlah pada tahun 1850 sebuah bangunan masjid untuk melaksanakan ibadah umat muslim.

Pada awalnya msjid yang dibangun ini sangat sederhana dengan sebuah fasad depan memiliki corak bangunan india. Sehingga terkenal dengan nama Malay Millitary Mosque atau masjid Militer Melayu pada masanya. Namun seiring berjalannya waktu, saat ini masjid tersebut dikenal dengan nama Malay Mosque, Java Palli hingga Ja Palliya.

masjid kurunegala di sri langka

Tak hanya merupakan bangunan masjid pertama d Kurunegala, masjid ini juga merupakan bangunan yang mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah setempat. Selanjutnya disusul oleh adanya masjid Jummah Al-Jami Ul Azhar yang telah dibangun oleh muslim India dan mereka pula lah yang mengelola masjid tersebut.

Disana juga terdapat beberapa muslim India karena awalnya mereka datang ke Kurunegala sebagai pedagang dan menjadi bagian dari jamaah masjid Melayu Kurunegala. Namun ternyata terdapat perbedaan budaya antara muslim melayu dan muslim indis sehingga komunitas muslim india mendirikan sebuah bangunan masjid untuk tempat ibadah mereka.

Dilihat dari bangunan luar masjid Melayu Kurunegala, masjid ini terlihat sangat sederhana dengan beberapa jendela menghiasi bangunan tersebut. Ketika akan memasuki masjid ini, pengunjung dan jamaah akan melewati sebuah tangga lalu berwudhu dan melaksanakan ibadah dengan tenang disana. Karena lokasinya cukup strategis di pinggir jalan raya, masjid ini selalu ramai setiap harinya. Terutama pada hari Jum’at dan ketika Hari Raya.

Masjid Maidan Al-Jazair Square, Tripoli

Masjid Maidan Al-Jazair Square, Tripoli

Di Libya tepatnya di ibukotanya yaitu Tripoli terdapat sebuah bangunan masjid yang sangat menarik untuk dikunjungi. Masjid tersebut bernama Masjid Maidan Al-Jazair. Sebagai ibukota dari Negara Libya, Tripoli merupakan sebuah kota terbesar di negara tersebut. Pada awalnya, Tripoli memiliki nama Tripolitania yang namanya dinisbatkan kepada wilayah di Libya. Saat ini di pusat kota Tripoli terdapat sebuah lapangan yang terkenal yaitu Al-Jazair Square dan salah satu ciri dan tanda dari bangunan yang ada di lapangan ini adalah Masjid Maidan Al-Jazair atau dikenal juga dengan nama Masjid Jamal Abdel Nasser.

masjid al jazair

Di Libya agama islam telah memerintah selama hampir 13 abad. Dalam waktu yang cukup lama tersebut islam terus berkembang meski dengan silih berganti dinasti. Karena Libya memiliki sejarah kepemerintahan yang cukup panjang, tak heran mayorits penduduk disana memeluk agama islam. Juga  ketika paska runtuhnya kekuasaan pemerintah Muammar Khadafi banyak dari kalangan masyarakat terutama dari fraksi Islam yang menyuarakan dirinya untuk bersikukuh menegakkan syariat islam bagi negara Libya. Namun ternyata ada beberapa fraksi lain yang tidak setuju dan tidak sejalan dengan keinginan tersebut sehingga sampai saat ini Libya masih terkesan merupakan sebuah Negara yang terpecah-pecah.

Dibalik berbagai permasalahan di Libya, negara ini memiliki sebuah tempat favorit masyarakat Libya. Di lapangan Al-Jazair Square juga merupakan tempat pilihan bagi masyarakat Libya untuk berkumpul dan bersantai bersama teman, sahabat atau keluarga. Tempat ini juga digukan oleh mereka untuk menyuarakan kebebasan paska keruntuhan pemerintahan Libya yang berada di bawah seorang Presiden Muammar Khadafi.

interior masjid al jazair

Dahulu sebelum masjid Maidan Al-Jazair dibangun, tempat ini adalah bangunan sebuah katedral katholik yang terkenal dengan nama Tripoli Cathedral atau disebut La Cattedrate dalam bahasa Italia. Bangunan Katedral Katholik Roma ini pertama kali dibuka dan diresmikan pada tahun 1928. Ketika membangunnya pun melibatkan seorang interior designer dari Libya yaitu Othman Nejem. Untuk mendesain bangunannya dilakukan oleh arsitek asal Italia yaitu Saffo Panteri. Dia mendesain bangunan tersebut menggunakan gaya Romanesque dan dilengkapi dengan kubah besar di bagian atapnya. Lalu dibagian menara loncengnya digunakan hiasan dan ukiran dari gaya Venetian. Pada saat itu, gereja tersebut merupakan gereja kedua setelah gereja Santa Maria degli Angel pada tahun 1870.

Lalu sekitar tahun 1970 atau 1990-an pada saat kekuasaan Muhammad Khadafi bangunan gereja katedral teresbut diubah menjadi bangunan masjid. Karena telah diubah menjadi tempat ibadah umat muslim, fungsinya pun diganti untuk berbagai kegiatan keagamaan. Pada saat perubahan bangunan tersebut masih memiliki pola awalnya meskipun perubahnnya dilakukan secara keseluruhan. Termasuk berbagai pernak pernik yang berada dalam interior bangunan gereja semuanya telah dibongkar dan diganti dengan rancangan yang baru dan sangat menarik dengan gaya Arabia.

perubahan masjid al jazair

Dilihat dari luar masjid Maidan Al-Jazair, bangunan ini sangat megah dan besar dengan cat dndingnya yang berwarna cream. Ditambah dengan sebuah taman yang tidak terlalu luas menghiasi halaman masjid Maidan Al-Jazair. Sebuah menara yang menjulang tinggi ditambah dengan kubah besar di bagian atas masjid menyimbolkan sebagai bangunan untuk melaksanakan ibadah umat muslim. Terlihat juga sebuah kubah yang ukurannya lebih kecil dari kubah utama dibagian atas atap pada pintu masjid.

Karena berada di tempat yang cukup strategis, masjid ini selalu ramai oleh beberapa jamaah dan pengunjung untuk melaksanakan ibadah atau melakukan wisata religi di masjid Maidan Al-Jazair.