Masjid Al-Alam – Cilincing Jakarta

Masjid Al-Alam – Cilincing Jakarta

Masjid yang memiliki nama “Al-Alam” ini terletak di Jln. Cilincing, RT/RW 02/04, Cilincing, Kota Jakarta Utara, DKI Jakarta. Meskipun masjid ini tidak terlalu populer seperti masjid yang memiliki nama yang sama di Marunda atau biasa dikenal dengan masjid Si Pitung, namun masjid Al-Alam Cilincing ini juga dibangun sendiri oleh Raden Fatahillah pada masa-masa perebutan Sunda Kelapa dari tangan Penjajah. Jadi kedua masjid Al-Alam yang ada di daerah jakarta tersebut merupakan peninggalan sejarah sekaligus saksi bisu tentang perjuangan masyarakat indonesia dalam membela kemerdekaannya. Sampai Saat ini Masjid Al-Alam Cilincing di kelola oleh Yayasan Masjid Al-Alam.

Masjid Al-Alam

Menurut versi sejarah yang dimiliki oleh Dinas Purbakala DKI Jakarta, masjid Al-Alam Cilincing dibangun pada tanggal 22 Juni 1527, yaitu bertepatan dengan hari jadi kota Jakarta. Karena sudah berumur hampir 5 Abad / 500 tahun, masjid ini menjadi masjid tertua di daerah Jakarta bersama dengan masjid kembarannya di Marunda yang dibangun pada tahun yang sama dan oleh orang yang sama pula.

Masjid Al-Alam pernah mengalami pemugaran pada tahun 1972, karena pada saat itu bangunan masjid sudah banyak yang keropos dan rusak. Karena khawatir bangunan tersebut roboh, dan nilai sejarah yang ditinggalkannya hilang, maka pemerintah DKI Jakarta, pada saat dipimpin oleh Gubernur Ali Sadikin, melakukan pemugaran pada bagian masjid yang rusak, serta menetapkan Masjid Al-Alam sebagai bangunan cagar budaya nasional yang harus dilindungi oleh masyarakat dan pemerintah Indonesia.

Pada saat pemugaran dilakukan, ada beberapa pergantian yang dilakukan pada bagian-bagian masjid yang sudah rusak, seperti dinding bata setinggi 1 meter. Namun kebanyakan bangunan ini dipertahankan seperti aslinya, seperti bagian atas dinding yang terbuat dari bambu.  Ditambahkan pula tempat parkir yang berada di pelataran masjid.

Pemugaran kembali dilakukan pada tahun 1989 dengan menambah beberapa fasilitas seperti tempat wudhu dan toilet, serta dilakukan perluasan serambi Timur dan Utara.

Masjid Al-Alam Cilincing memiliki 5 pintu masuk, 2 pintu di utara dan 2 pintu di selatan, sedangkan 1 pintu disisi timur. Serambi masjid berlantaikan keramik dengan warna merah hati. Kemudian pada serambi disisi lain terdapat Bedug  dan Kentongan Kayu yang biasa digunakan untuk memberikan tanda bahwa waktu sholat sudah datang. Serambi tersebut ditopang oleh sekitar 11 tiang dari kayu jati.

Ruang utama pada Masjid Al-Alam Cilincing memang tidak berukuran terlalu luas, hanya sekitar 10 meter persegi saja. ditopang oleh 4 soko guru yang terbuat dari kayu jati, kemudian muhrab yang menjorok keluar belakang masjid dengan hiasan-hiasan kaligrafi kalimat syahadat. Sebuah mimbar juga ditempatkan di sebelah mihrab, dan dibuatkan ruangan yang menjorok keluar, namun dengan ukuran yang lebih kecil.

interior Masjid Al-Alam

Bagian atap masjid masih mempertahankan desain dari dulu, yaitu berbentuk limas, tanpa langit-langit, tapi di tutup langsung dengan papan. Pada bagian dinding terbuat dari batu bata dan disangga oleh beberapa kayu. Lalu dibangian luar, atap tersebut ditutup dengan genteng berbentuk limas tumpang dua, dengan puncak yang dibentuk seperti mahkota raja.

Disalah satu sisi masjid terdapat sebuah kayu dengan ukiran tulisan yang berisi wasiat Sunan Gunung Jati. Dalam kayu prasasti tersebut, dituliskan bahwa Sunan Gunung Jati, menitipkan Tajug / Masjid serta Fakir Miskin.

Arsitektur masjid Al-Alam ini memang merupakan arsitek gaya masjid asli Nusantara Indonesia. Dengan 4 Soko Guru, atap berbentuk limas, Kayu-kayu jati yang dijadikan bagian induk penyangga, menjadikan masjid ini begitu khas dengan peradaban Indonesia.

Masjid Agung Stockholm, Swedia

Masjid Agung Stockholm, Swedia

Di Swedia tepatnya di sebuah tempat ibukotanya yaitu Stockholm terdapat sebuah masjid terbesar dan terkenal yang bernama masjid Agung Stockholm. Tak hanya terkenal dengan nama itu, masjid Agung Stockholm terkenal dengan nama Zayed bin Sultan Al Nahyan’s Mosque, Stockholm Mosque atau dalam bahasa Swedia disebut dengan nama Stockholms Stora Moske. Masjid Agung Stockholm berada di Kapellgrand 10 yang bersebelahan dengan Bjorns tradgard yaitu sebuah taman kecil di distrik Sodermalm kota Stockholm.

Nama masjid Agung Stockholm yang dikenal juga dengan masjid Syekh Zayed Bin Sultan Al Nahyan’s karena pendanaan masjid ini berasal dari penguasa Uni Emirat Arab. Masjid ini telah diresmikan pada tahun 2000 dan dikelol oleh Asosiasi Muslim Stockhold atau Association in Stockholm yang berada di bawah pimpiinan Seikh Hassan Moussa. Masjid Agung Stockholm menjadi peran penting dalam perkembangan islam disana karena sebagai titik pertemuan bagi populasi muslim di negara itu. Dengan adanya masjid juga menjadi daya tarik sendiri bagi setia umat muslim dari berbagai penjuru di wilayah Negara Swedia.

Masjid Agung Stockholm

Pada dahulunya bangunan masjid Agung Stockholm merupakan sebuah gedung pembangkit listrik kota Stockholm yang telah dibangun pada tahun 1903. Hal yang menarik adalah bahwa seorang arsitek bernama Ferdinand Boberg merancangnya seperti sebuah bangunan masjid karena ternyata dia sangat tertarik dengan bangunan masjid. Ditambah dengan bangunannya yang tinggi kokoh dengan bagian ruangan didalamnya sangat luas juga atap dan jendela-jendelanya yang sangat besar dengan bangunan tersebut mengarah ke kiblat.

Meskipun dilihat dari bangunan tersebut bergaya Art Nouveau namun ada juga sentuhan dari gaya Maroko yang sangat kental. Hal tersebut karena sang arsitek, Boberg pernah berkujung ke Maroko dan sengaja mengarahkan bangunan tersebut ke arah kiblat sepert masjid-masjd besar yang ia temui di Maroko.

Akhirnya dibangunlah sebuah tempat beribadah untuk kaum muslim yang telah di diskusikan sejak dari dua puluh tahun lalu. Sebelumnya terdapat beberapa pilihan dari gedung-gedung yang dapat dialihfungsikan sebagai masjid seperti gedung Gorgerskapets ankhus di Norrtull, Observatorielunden, Kristineberg dan berbagai gedung lainnya.

Pada buan Maret 1995 proposal pembanguan masjid telah di respon oleh Dewan Kota dan pada saat itu juga Dewan Kota menawarkan sebuah gedung bekas pembangkit listrik Katarinastationen sebagai bangunan masjid tersebut. Hal tersebut membuat para muslim disana sangat bahagia karena telah mendapatkan sebuah tempat untuk ibadah. Ditambah dengan penjualan  gedung tersebut oleh Dewan Kota Stockhom kepada pihak Asosiasi Muslim Stockholm dengan harga SEK 8 juta di tahu 1996.

Teryata ketika pebangunan masjid tersebut tidaklah mudah karena masih saja terdapat penolakan dan protes dari berbagai pihak. Namun karena sudah mendapatkan izin, mereka tetap melanjutkan pembangunan masjid tesebut dengan sangat antusias. Lalu pada tahun 1999 mulai dibangun dan selesai pada tahun 2000 hanya dalam waktu satu tahun masjid tersebut telah berdiri karena telah dibantu dengan bentuk asal bangunan bekas pembangkit listrik yang memang strukturnya seperti masjid memudahkan pembangunan tersebut.

interior Masjid Agung Stockholm

Dilihat dari arsitektur nya, masjid Agung Sockhom tidak mewah dan nyentrik karna pemerintah setempat melarang pembangunan yang berbeda dengan bangunan kota lainnya. Namun ketika mengetahui interior masjid maka sentuhan nuansa islam sangat kental. Terdapat lampu gantung Kristal yang ukuannya sangat besar dan dindingnya berwarna putih. Masjid ini juga dilengkapi dengan fasilitas perpusakaan, gymnasium, rumah makan, kantor pengurus dan lainnya. Masjid yang dapat menampung sekitar 2000 jamaah sekaligus menjadi kebanggaan umat muslim di Swedia.

Masjid Agung Covenhagen, Denmark

Masjid Agung Covenhagen, Denmark

Di Denmark terdapa sebuah tempat ibadah umat muslim yang sangat terkenal, yaitu masjid Agung Covenhagen. Meskipun di Denmark mayoritasnya bukan pemeluk agama islam, namun mereka sangat antusias terhadap kegiatan beribadah. Sebenarnya masjid Agung Covenhagen memiliki nama resmi Hamad Bin Khalifa Center yang artinya Pusat Peradaban Hamad Bin Khalifa. Diketahui bahwa nama msjid tersebut dimbil dari seorang petinggi dari Qatar karena dia lah yang mendanai dari pembangunan masjid tersebut.

Masjid Agung Covenhagen

Dari bukti bangunan masjid Agung Covenhagen merupkan sebuah keinginan yag begitu lama diharapkan oleh muslim di Denmark. Dibalik pembangunan masjid tersebut, terjadi berbagai penolakan dari berbagai pihak, salah satunya dari para elit politik terutama dari Partai Rakyat Denmark. Penolakan terjadi karena mereka sangat menentang pembangunan masjid bahkan sejak awal mula perencanaan pembangunan, mereka yang menentang memilik kebijakan anti imigran. Semakin memanas ketika ada sebuah penerbitan kartun Nabi Muhammad yang telah diekspos oleh salah satu media disana membuat terjadinya aksi protes keras dari berbagai negara terutama dari negara yang pemeluk agama islam minoritas khususnya di Denmark.

Namun meskipun banyak penolakan dan aksi keras lainnya, kerja keras umat muslim disana berbuah manis. Meskipun ketika persemian masjid Agung Covenhagen hampir tidak didapatkan kehadiran dari petinggi partai dan juga pejabat dari Denmark, namun izin pmbangunan masjid Agung Covenhagen secara resmi bahkan Pemerintah dan masyarakat disana telah menerima kehadiran Masjid Agung Covenhagen yang merupakan masjid pertama di Denmark.

Tak hanya merupakan bangunan masjid ppertama di Denmark,masjid Agung Covenhagen merupakan masjid terbesar juga di negara itu. Dibangunnya menara yng berukuran kecil di halaman depan masjid merupakan menara masjid pertama yang berdiri di negara tersebut.

Dibalik pembangunan masjid Agung Covenhagen yang penuh dengan drama, terutama serangkaian aksi protes yang bertajuk ‘ not in my backyard’ yang merupakan penolakan pembangunan masjid Agung Covenhagen sekalipun masjid tersebut dibangun di bagian halama belakang. Namun setelah melewati masa pertikaian politik yang berlangsung selama bertahun-tahun akhirnya masjid Agung Covenhagen telah dibangun dan diresmikan pada hari Kamis tanggal 19 Juni tahun 2014. Untuk membangun masjid ini membutuhkan dana sekitar 150 juta kroner atau 27,2 juta dolar Amerika.

Akhirnya dengan tanah seluas 6700 m2 yang berada di antara gedung dealer mobil dan gedung pergudangan menjadi sebuah simbol dari penerimaan masyarakat mayoritas disana unuk sebuah tempat ibadah sekitar 200.000 kaum muslim Denmark  yang sangat menginginkannya. Di dalam komplek tersebut terdapat sebuah masjid lengkap dengan menara ukuran kecil yang juga merupakan sebagai pusat kebudayaan islam, stasiun televisi hingga panti jompo. Menara masjid Agung Covenhagen hanya berukuran setinggi 20 meter dengan ornamennya bulan sabit berada di puncak menara. Pada bagian ruang utama shalat dapat menampung jamaah sekitar 900 jamaah ditambah dengan bagian balkon yang dapat menampung para jamaah wanita yang mencapai sekitar 600 jamaah.

interior Masjid Agung Covenhagen

Jika dilihat dari bagian luar masjid Agung Covenhagen maka bangunan masjid tersebut terkesan sangat sederhana dan minimalis. Namun ketika memasuki masjid ini maka pemandangannya akan sangat memukau. Dibagian interior masjid Agung Covenhagen terlihat dinding tembok dengan cat berwarna putih yang membuat ruangan masjid semakin luas dan megah ditambah dengan adanya hiasan lampu gantung mewah dibagian tengah masjid.

Itulah sekilas tentang masjid Agung Covenhagen yang merupakan masjid pertama dan terbesar di Denmark dengan  berbagai kisah perjuangan para umat muslim disana berbuah manis karena telah tercapai cia-cita para muslimin di Denmark.

Masjid Raya Birmingham, Inggris

Masjid Raya Birmingham, Inggris

Meskipun mayoritas penduduk di Inggris adalah non-Muslim namun pertumbuhan dan perkembangan Islam disana cukup menarik. Menurut data statistik tentag peningkatan jumlah mualaf di Inggris cukup signifiakn yaitu berjumlah 2,7 juta di tahun 2011 kemudian menjelang tiga tahun perkembangannya semakin pesat karena bertambah menjadi 3,1 juta tepatnya pada tahun 2014. Dilihat dari data tersebut pertumbuhan dan perkembangan agama Islam di Inggris lumayan pesat tidak lepas dari sumbangsih berbagai pusat agama dan penyebaran tentang islam di Britania Raya. Salah satu nya adalah adanya faktor dari tempat ibadah agama islam sendiri yaitu masjid. Sedangkan masjid yang sangat populer di Inggris adalah masjid Raya Birmingham.

masjid di inggris

Masjid Raya Birmingham telah resmi dibuka untuk para jamaah pada tahun 1975 dan merupakan masjid pertama di Briinngham dan masjid kedua di seluruh Inggris Raya. Masjid Raya Birmingham tak hanya menjadi salah satu tempat untuk beribadah umat muslim tetapi juga sebagai pusat pendidikan agama Islam di Briminngham. Selain itu, masjid ini juga menjadi sebuah institusi yang unik dengan tidak ada kerja sama pada sekolah Islam manapun. Namun hal itu tidak menyurutkan niat para muslim di Inggris khususnya di kota Brrimingham untuk terus belajar agama islam.

Setiap hari Jumat biasanya berbagai jamaah yang memiliki aliran berbeda diperkenankan untuk menghadiri kajian dan pelajaran islam secara mendalam dan mendengarkan khotbah. Biasanya pada hari Jumat para jamaah di masjid Raya Birmingham mencapai 4000 jamaah terdiri dari berbagai muslim dari penjuru dunia, seperti dari Arab, Pakistan, Afrika dan dari berbagai kawasan Asia lainnya. Mereka membaur menjadi satu dalam bangunan masjid yang besar dan mewah ini.

Awal pembangunan masjid Raya Birmingham ini dimulai pada tahun 1969 dan selama enam tahun masjid ini selesai secara keseluruhannya. Setelah itu masjid Raya Birmingham telah siap digunakan untuk melaksanakan ibadah dan kegiatan kegamaan. Dilihat dari arsitektur masjid, masjid Raya Birmingham memiliki satu kubah besar dari emas. Pernah dilakukan pemugaran pada tahun 1980 an dengan adanya tambahan dari beberapa serambi baru serta perluasan sederhana dengan menambahkan pintu darurat yang sangat bermnfaat.

Masjid Raya Birmingham memiliki tiga lantai yang desainnya sangat menarik dan mengesankan. Pada lantai masjid dilengkapi sebagai ruang pertemuan berbagai komunitas islam dan juga merupakan kantor kepengurusan. Selanjutnya ruangan utama masjid Raya Birmingham terlihat begitu luas dan megah untuk para jamaah laki-laki menunaikan shalat. Ruang utama tersebut dapat menampung sebanyak 3000 jamaah laki-laki dan 1500 jamaah perempuan yang telah diberikan ruang sekat tertentu secara khusus.

interior masjid birmingham

Kemegahan dan kemewahan masjid Raya Birmingham dapat juga dilihat dari lampu hias yang begitu berkilau indah meggantung dibawah kubah berdiameter 14 meter yang berada di bagian tengah ruangan utama masjid. Lampu hias itu terkesan  modern yang membuat seluruh ruangan masjid Raya Birmingham terlihat lebih istimewa.

Pada lantai dua disediakan serambi untuk melengkapi fungsionalitas masjid bagi para jamaah. Serambi tersebut juga dapat digunakan bagi non-muslim untuk mempelajari agama islam. Biasanya mereka duduk di serambi dan melihat sambil mendengarkan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh para jamaah di lantai bawah.

Tak hanya memiliki arsitetur yang sangat minimalis namun menonjolkan keindahan dan kemegahan masjid ini juga merupakan tempat untuk gerakan kemanusiaan dan sosial bagi muslim atau naon-muslim. Dengan tingkat kepeduliannya yang tinggi tak heran Masjid Raya Birmingham selalu banyak dikunjungi oleh para jamaah.

Masjid Raiziai – Lithuania

Masjid Raiziai – Lithuania

Masjid Raiziai terletak di desa Raiziai 62189, Lituania. Masjid ini merupakan salah satu dari empat masjid tua yang berada di Lithuania. Sejarah yang dimiliki masjid ini juga hampir sama dengan masjid tua lain yang dibangun oleh Kaum Muslim Tatar, yaitu Masjid Bohoniki, Masjid Forty Tatar dan Masjid Kaunas.

Dari keempat masjid yang dibangun pada masa yang hampir bersamaan, hanya masjid Kaunas saja yang berbeda dari segi arsitekturnya, yaitu lebih mirip masjid yang sesungguhnya. Sedangkan tiga yang lainnya, termasuk masih Raiziai memiliki bangunan yang simple, dengan bahan baku kayu, serta lebih mirip dengan hunian penduduk atau gereja.

masjid raiziai

Masjid tua yang berdiri didesa dengan nama yang sama ini merupakan desa yang sangat kuno, yaitu sudah ada sejak abad ke-15. Sampai saat ini Desa ini merupakan satu-satunya desa muslim yang hampir keseluruhannya beragama Islam. Bahkan sekarang mendapatkan julukan sebagai Ibukota Tatar di Lithuania.

Menurut sejarah, sebagian besar kaum muslim Tatar masuk ke wilayah Lithuania pada masa kejayaan Raja Terbesar Vytautas. Umat muslim Tatar, yang dikenal sebagai pasukan perang yang terlatih, diundang oleh Raja Vytautas untuk membantu peperangannya melawan turki pada saat itu. Kemudian mereka pun mulai menyebar dan bermukim di beberapa desa Lithuania.

Masjid Raiziai sudah berumur beberapa abad, karena umurnya yang sudah sangat lama, masjid ini kemudian diberikan gelar sebagai Cagar Budaya Nasional yang dilindungi oleh negara.

Masjid dengan Arsitektur yang hampir seperti bangunan gereja maupun hunian rumah ini berukuran lumayan kecil, meskipun memang lebih besar dari ukuran masjid Forty Tatar dan Masjid Nemezis.

Seluruh bangunannya dibangun menggunakan bahan baku kayu, berdenah segi empat, dengan bagian sisi luar bagian depan rata mirip seperti gereja di wilayah tersebut. Masjid ini dibangun tanpa menggunakan tiang penyangga atap, sehingga terasa lebih luas.

Ruangan utama masjid dibuat bersekat dengan dinding kayu, yaitu dikhususkan untuk jamaah pria, dan jamaah wanita, pintu masuknya pun juga dibuat terpisah.

Masjid ini tidak memiliki ruangan / kamar khusus untuk mihrab imam masjid, namun tetap dibuatkan sebuah gapura kecil yang di khususkan untuk imam. Kemudian disebelahnya diletakknya sebuah mimbar kayu yang biasanya digunakan untuk khotbah sholat jum’at. Sedangkan untuk bagian lantai, dibuat menggunakan ubin kayu, dan ditutupi dengan karpet berukuran besar.

interior masjid raiziai

Mimbar yang digunakan sampai saat ini sudah terbuat dari sekitar tahun 1684 yang berada di masjid Desa Bazorai. Lalu pada saat ada insiden kebakaran masjid di Desa Bazorai tersebut, kemudian mimbar ini dipindahkan ke masjid Raiziai dan dipakai sampai sekarang.

Masjid Raizai ini juga memiliki sebuah menara kecil, yang jika dilihat secara seksama akan lebih mirip sebuah Gazebo, dan ditempatkan ditas atap bagian depan masjid. Bentuknya memang tidak seperti menara masjid pada umumnya, namun malah seperti menara yang biasanya ada pada gereja. namun, agar menegaskan bahwa bangunan ini merupakan masjid adalah ditempatkannya ornamen bulan sabit sebagai simbol umat islam.

Disamping masjid juga terdapat pemakaman umum yang biasanya digunakan sebagai tempat pemakaman masyarakat muslim setempat. Beberapa makam yang ada di kompleks pemakaman ini bahkan ada yang sudah berumur ratusan tahun, namun sebagian besar sudah tidak bisa diidentifikasi lagi, karena batu alam penandanya pun sudah rusak.

Dari keseluruhan umat muslim yang berada di negara Lithuania, Desa Raiziai merupakan tempat yang menyumpang umat muslim paling besar, sekitar 15 – 20 persen dari total muslim yang ada di Lithuania.

Masjid Nurul Huda Gelgel – Masjid Pertama Di Bali

Masjid Nurul Huda Gelgel – Masjid Pertama Di Bali

Masjid Nurul Huda Gelgel merupakan masjid pertama yang berdiri di daerah bali, tepatnya berada di Jln. Waturenggong, Desa Gelgel, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali.

Gelgel merupakan suatu desa dengan keistimewaan tersendiri, yaitu mengandung sejarah panjang tentang penyebaran Islam di Provinsi Bali. Salah satu keistimewaan lain dari desa ini adalah adanya aturan bahwa yang boleh tinggal di desa Gelgel haruslah orang yang beragama Islam.

masjid nurul huda bali

Desa Gelgel kemudian menjadi pemukiman Islam serta komunitas Islam tertua yang ada di pulau Bali. Desa ini berjarak sekitar 60 Km dari Kota Denpasar, dan sampai saat ini ada sekitar 280 kepala keluarga atau sekitar 700 orang islam yang bermukim di desa tersebut.

Kampung Gelgel bisa diakses dari arah selatan Kota Denpasar, kemudian kita akan melewati sebuah perempatan jalan yang terdapat patung Prajurit Kerajaan Gelgel zaman dulu. Dari perempatan tersebut menara masjid Nurul Huda sudah terlihat.

Dulunya, nama-nama masyarakat kampung Gelgel masih menggunakan nama khas kebudayaan bali seperti : Made, Nyoman, Wayan, Ketut dan lain sebagainya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman yang terus maju, nama-nama tersebut sekarang tidak dipakai lagi, dan digantikan dengan nama-nama islam yang modern.

Dikampung Gelgel, tradisi yang berbeda sering diadakan oleh masyarakat di kampung tersebut, yaitu pentas seni musik islami yang dimainkan masyarakat sekitar dengan sebutan “Rodatan”.

Kemudian di kampung Gelgel terdapat sebuah masjid yang sudah berusia lebih dari 200 tahun, yaitu masjid yang diberi nama “Nurul Huda” Gelgel. Meskipun sekarang sudah menjadi masjid yang super megah, namun pada awal pembangunan pada abad ke-18, masjid ini merupakan musholla yang kecil.

Yang menarik dari masjid ini adalah adanya mimbar yang sudah berumur sangat tua, yang terbuat dari kayu jati asli, dengan hiasan ukiran motif tumbuh-tumbuhan, yang mencerminkan budaya pada zaman dahulu. Memang pada dunia islam, dilarang untuk menggambar sesuatu yang bernyawa seperti hewan / manusia. Mimbar dengan bentuk seperti itu umumnya bisa ditemukan dimasjid-masjid tua yang berada di pulau jawa, misalnya mimbar masjid Sendang Dhuwue, serta mimbar masjid Mantingan.

Diukiran mimbar juga terdapat suatu inkripsi / tulisan yang menyebutkan bahwa masjid ini pernah direnovasi pada tahun 1280 H / 1863 M, renovasi tersebut tepatnya dilakukan pada tanggal 7 Juli 1863 M. meskipun begitu, tahun pembangunan masjid secara pasti belum diketahui sampai saat ini. Namun yang jelas masjid ini sudah ada jauh sebelum tahun 1860-an masehi.

masjid nurul huda di bali

Sedangkan untuk arsitekturnya, sebelum dipugar masjid ini memiliki arsitektur jaman kuno tanpa kubah, seperti sebuah rumah kecil. Namun saat sudah dipugar sampai saat ini, masjid ini terlihat sangat megah dan menawan. Dengan atap bertingkat 3, tingkat pertama seperti sebuah gazebo yang bisa digunakan para pengunjung untuk melihat sekitar, lantai kedua lebih seperti ruangan kecil tempat penyimpanan alat-alat marbot, dan tingkat ketiga adalah atap kecil berbentuk persegi empat dengan kubah dari metal yang berukuran sangat kecil.

Masjid ini memiliki sebuah menara yang menjulang tinggi sampai 17 meter, yang digunakan sebagai tempat untuk menaruh alat pengeras suara, meskipun pada saat sebelumnya menara ini dipakai oleh muadzin dalam mengumandangkan adzan.

Sedangkan untuk bagian pelataran, saat ini sudah diberikan pembatas berupa gerbang dan tembok serta teralis dari besi dibentuk menyerupai kubah.

Masjid Nemezis – Lithuania

Masjid Nemezis – Lithuania

Masjid yang mendapatkan nama “Nemezis” ini terletak di Totiru G.4, Nemezis, Lithuania, dan disebut juga dengan “Nemezio Tatar Mosque”.

Masjid Nemezis merupakan salah satu dari kesekian masjid tua yang masih berdiri kokoh di Negara Lithuania. Sebenarnya masjid ini tidak memiliki nama khusus, namun karena terletak di desa Nemezis, maka nama masjid di identikkan dengan tempat berdirinya.  Masjid ini dibangun dan didirikan oleh pasukan muslim Tatar yang tinggal di Semenanjung Chrimea pada saat diundang langsung oleh Raja Vytautas ke Negaranya pada tahun 1397.

masjid lemezis

Raja Vytautas pada masa kejayaannya adalah raja terbesar dalam seluruh sejarah Lithuania. Pada masa itu kekuasaan raja Vytautas bahkan sampai wilayah yang kini menjadi Negara Polandia dan Belarussia. Sedikitnya ada 4 masjid tua yang menjadi peninggalan semasa kejayaan Raja Vytautas dan sampai sekarang masih berdiri kokoh di Polandia dan Belarussia. Keempat masjid tua peninggalan sejarah tersebut dibangun sendiri oleh kaum Muslim Tatar pada masa itu.

Pasukan Muslim Tatar pada sekitar abad ke-14 ditugaskan oleh Raja Vytautas untuk membangun sebuah desa pertahanan yang sekarang disebut dengan desa “Nemezis”, tepatnya diluar tembok kota Vilnius. Pasukan tersebut dibentuk dengan maksud sebagai pertahanan tambahan negara Lithuania dari serangan Kerajaan Jerman.

masjid lemezis

Pasukan Muslim Tatar tersebut ditempatkan tidak jauh dari Ibukota Kerajaan, karena jika sewaktu-waktu kerajaan membutuhkan bantuan, maka jarak tempuhnya tidak akan terlalu jauh. Apalagi saat itu di Desa Nemezis juga terdapat Istana musim panas yang dikhususkan bagi Raja Vytautas dan Permaisurinya, yang harus dijaga ketat.

Masjid Nemezis sendiri sebenarnya telah dbangun pertama kali pada tahun 1684, namun sempat mengalami insiden kebakaran pada tahun 1963. Baru kemudian dibangun ulang pada tahun 1909 dibantu oleh arsitek A.Soninas sebagai perancang bangunannya.

Bangunan masjid ini sangat simpel, yaitu hanya berbahan baku kayu, dan seng sebagai bahan atapnya. Pada bagian atap ditempatkan sebuah menara dengan bentuk segi gelapan, serta dilengkapi dengan ornamen bulan sabit, yaitu simbol dunia islam. Jika diperhatikan bagian menara tersebut mirip sebuah gazebo namun dilengkapi dengan sebuah kubah kecil berbahan metal. Di samping kiri masjid terdapat sebuah pemakaman tua yang sudah ada dari sekitar abad ke-14 – 16.

interior masjid lemezis lithuania

Pada masa peperangan antara Lithuania dan Uni Soviet atau khususnya Jerman, masjid ini mengalami kerusakan yang lumayan parah. Apalagi komplek masjid ini juga digunakan sebagai basis perang oleh pasukan Uni Soviet untuk membombardi Ibukota Lithuania, Vilnius.

Kerusakan masjid Nemezis pun semakin parah, apalagi ditambah dengan insiden kebakaran yang melanda masjid pada tahun 1963. Beruntung sebagian masjid masih bisa diselamatkan. Hanya bagian menara puncak saja yang terpotong, karena menjadi asal dari titik kebakaran.

Kemungkinan kobaran api tersebut memang disengaja, karena pada saat itu pemerintah Uni Soviet ingin menghancurkan masjid yang sudah tua tersebut. Namun penentangan terjadi dari masyarakat sekitar masjid tersebut. Penghancuran masjid memang di batalkan, namun pada saat itu masjid Nemezis dijadikan sebagai gudang penyimpanan biji gandum dari tahun 1968 hingga 1978.

Baru di tahun 1978, masjid ini dikembalikan ke komunitas muslim, dan akhirnya dilakukan pemugaran kembali pada tahun 1993. Kemudian dilakukan pemugaran kedua pada tahun 2009 lalu, sekaligus sebagai penetapan bahwa Masjid Nemezis masuk dalam salah satu Cagar Budaya Lithuania.

Meskipun hanya berbahan baku kayu untuk bangunannya, dan seng untuk atap, serta metal untuk menara dan kubahnya, ternyata masjid ini bisa bertahan sampai sekarang. Padahal musim di Lithuania sangat ekstrim dengan salju yang biasanya menumpuk pada musim dingin.

Masjid Kruszyniany – Masjid Tertua di Polandia

Masjid Kruszyniany – Masjid Tertua di Polandia

Masjid Kruszyniany atau biasa disebut dengan “Wooden Mosque in Kruszyniany” atau “Drewniany Meczet w Kruszynianach, terletak di Desa Kruszyniany, Polandia. Tepatnya di 16-120 Krynki, Polandia, sekaligus menjadi Masjid Tertua di Polandia.

masjid kruszyniany

Desa Kruszyniany adalah salah satu desa tua yang berada di kawasan Negara Republik Polandia. Desa ini memiliki sejarah yang panjang, dengan bukti terdapat masjid yang sudah ada sejak abad ke-16 sampai ke-17 ini. Desa ini merupakan desa muslim kedua yang berada di Republik Polandia, desa yang lain adalah Desa Bohiniki yang terletak di wilayah Gmina Krynki, yaitu perbatasan Polandia dengan Belarussia.

Desa Kruszyniany dan Desa Bohiniki memiliki hubungan yang sangat erat, dimana sama-sama dibangun oleh kaum muslim Tatar pada masa lampau. Wilayah Desa Kruzyniany merupakan pemberikan dari penguasa Polandia, King Jan III Sobieski, pada tahun 1679, sebagai imbalan atas keikutsertaan pasukan muslim Tatar dalam melawan Turki.

Desa Kruszyniany memiliki sebuah masjid tua yang berbahan utama kayu, dengan ukuran sedikit lebih besar dari masjid tua yang berada di Desa Bohiniki. Izin pembangunan masjid tersebut diperoleh dari Parlemen Warsawa pada tahun 1556 – 1557. Izin tersebut menyatakan bahwa kaum muslimin di Polandia dapat membangun masjid dilahan milik sendiri maupun dilahan pemberian kerajaan.

Masjid Kruszyniany sampai saat ini tidak diketahui kapan sebenarnya dibangun, namun dari catatan sejarah yang dibuat pada tahun 1829 menjelaskan bahwa, Masjid Kurszyniany sudah berdiri sejak abad ke-16 sampai ke-17. Masjid ini dibangun oleh seorang kapten kalvaleri dari pasukan muslim Tartar bernama “Murza Krzeczkowski”.

Sampai saat ini, hanya 2 keluarga yang masih bertahan hidup di desa tersebut dan bertugas merawat kebersihan dan keberlangsungan masjid ini. Meskipun begitu, masjid ini juga masih tetap ramai pada saat hari-hari besar agama Islam, karena kebanyakan masyarakat Tatar dari seluruh penjuru Polandia akan berkumpul bersama untuk merayakan hari besar Islam. Selain itu, masjid ini juga menjadi salah satu tempat wisata sejarah untuk orang-orang non-muslim Polandia, apalagi saat ini sudah di syahkan sebagai cagar budaya pada tahun 1960 oleh pemerintah Polandia.

Masjid dengan desain sederhana, dari bahan baku kayu tersebut terlihat tidak mirip masjid kebanyakan. Lebih mirip dengan rumah hunian penduduk ataupun gereja. Menurut beberapa cerita, memang pada saat itu, tukang kayu yang ditugaskan membuat masjid belum pernah tahu bagaimana bentuk sebenarnya masjid. Maka dari situ, bangunan masjid tua tersebut hampir mirip seperti rumah hunian dan gereja.

mimbar masjid kruszyniany

Selain itu, masjid-masjid tua lainnya, seperti dua masjid Polandia lain, dua masjid tua Belarussia, serta tiga masjid tua di Lithuania juga memiliki desain yang mirip, karena memang dibuat pada abad yang hampir bersamaan.

Kemudian, untuk bagian arsitektur bangunan, Masjid Kruszyniany ini memiliki bentuk denah persegi panjang, dengan ukuran 10 x 13 meter, kemudian dilengkapi dengan dua pintu bagian depan yang dikhususkan untuk jamaah pria dan wanita.

Pada bangunan masjid terdapat dua menara yang dibangun mengapit bagian sisi depan masjid, kemudian ditambah dengan satu menara yang berada diatas atap masjid yang merupakan ciri khas masjid pada masa itu.

Masjid Kruszianiany ini mengalami renovasi sekitar tahun 1846, bisa diketahui dari salah satu tulisan yang berada pada ruangan shalat wanita. Renovasi selanjutnya dilakukan pada tahun 1900 dengan penambahan interior masjid, dan yang terakhir adalah pada tahun 1957 dengan renovasi hampir seluruh bangunan.

Masjid Kaunas – Lithuania

Masjid Kaunas – Lithuania

Masjid Kaunas terletak di Totoriu, 6, Kaunas, Lithuania. Kota ini merupakan kota terbesar kedua di Lithuania, setelah Vilnius yang menjadi ibukota negara saat ini. Kota ini memiliki luas 157 km persegi, dengan jumlah penduduk mencapai 321 ribu jiwa. Ada dua sungai yang melewati Kota Kaunas, yaitu sungai Nemunas dan Neris yang menjadi saksi bisu insiden berdarah yang terjadi di kota tersebut.

masjid kaunas

Sejarah kelam Kota Kaunas dimulai pada saat negara tersebut menjadi wilayah Negara Commonwealth Polandia dan Lithuanian (negara persemakmuran Lithuania dan Polandia), namun akhirnya kota Kaunas manjadi bagian dari Kekaisaran Rusia.

Pelaku kekejaman berdarah di kota Kaunas adalah pasukan Napoleon yang berasal dari Perancis, Penyerbuan dilakukan sebanyak 2 kali, dengan jalur melewati Kota Kaunas. 2 kali kota kaunas ini mengalami kehancuran total yang merenggut ratusan bahkan ribuan nyawa.

Di Kota Kaunas sudah terdapat komunitas kecil umat Islam yang berasa dari kaum muslimin Tatar sejak beberapa abad lalu. Komunitas kaum Tatar tersebut kemudian membanung sebuah masjid bernama “Kaunas” sesuai dengan kota didirikannya. Lokasinya tepat di pusat kota, disamping taman Ramybes Park, dan diapit oleh dua ruas jalan yaitu Jalan Traku dan Jalan Vytautas.

Dari beberapa masjid tua yang berada di Negara Lithuania, hanya masjid Kaunas saja yang berbentuk seperti masjid pada umumnya, berbahan beton dan mempunyai desain masjid sesungguhnya. Sedangkan lainnya hanya berbentuk seperti hunian rumah maupun seperti gereja dengan berbahan baku kayu.

Biaya pembangunan masjid ini sebagian besar diberikan oleh pemerintah Luthiania, karena pemerintah sangat menghargai kaum muslim Tartar yang sebelumnya pernah membantu mereka dalam peperangan.

Pembangunan masjid ini dilakukan pada tahun 1930, dan bertepatan dengan peringatan 500 tahun wafatnya Raja Vytautas, Raja Terbesar Lithuania. Pada saat itu, pemerintah Lithuania mengadakan beberapa acara yang dimaksudkan untuk memeriahkan peringatan tersebut, kemudian masyarakat muslim Tatar mengajukan pembanguan masjid dan mendapatkan persetujuan serta bantuan dari pihak pemerintah.

interior di masjid kaunas

Sebelum memiliki masjid Kaunas, masyarakat muslim Tatar melakukan seluruh ibadahnya di gedung komunitas yang dibangun oleh Haji Alexander Ilyasevich.

Setelah mendapatkan izin dan sebagian besar dana berasal dari pemerintah, sedangkan sisanya berasal dari dana bersama, pembangunan masjid pun dilaksanakan. Proyek pembangunan masjid tersebut ditangani oleh arsitek bernama Adolfas Netyksa dan temannya Vaclovas Michnevicus.

Proses pembangunan pun berjalan selama 3 tahun lamanya, kemudian diresmikan pada tanggal 15 Juli 1933 dengan nama “Vytautas Didysis Mosque”.

Arsitektur yang diadopsi adalah arsitektur masjid Tatar, serta masjid Arab namun dengan ukuran yang tidak terlalu besar, karena populasi muslim disana memang masih sangat sedikit.

Bangunan luar masjid memang lebih mencolok dan berbeda dengan masjid-masjid tua lainnya yang berada di Lithuania. Dengan bentuk kubah utama setengah lingkaran yang lumayan besar, diapit oleh 4 kubah kecil di setiap penjurunya membuat masjid ini menjadi masjid pertama dengan kubah masjid asli.

Mihrab pun dibuat di sisi kiblat masjid, dengan ruangan kecil yang sisi-sisinya terbuat dari kayu, sedangkan disampingnya diletakkan mimbar kayu dengan kubah kecil diatas, serta ornamen bulan sabit, serta beberapa kaligrafi.

Kemudian ruang sholat utama untuk pria memiliki ukuran sebesar 90 meter persegi, sedangkan ruang sholat untuk wanita memiliki luas 45 meter persegi. Selain itu, ada beberapa fasilitas yang diberikan masjid, misalnya ruang pengurusan jenazah dan ruang peralatan masjid.

Masjid ini dihiasi dengan total cat warna putih pada bagian utama serta pada bagian menara, ditambah dengan cat biru laut pada bagian kubah-kubah kecil yang mengelilingi kubah utama.

Masjid Forty Tatar – Lithuania

Masjid Forty Tatar – Lithuania

Masjid ini terletak di Forty Tatar Village, Vilnius District, Lithuania. Masjid ini juga merupakan salah satu masjid yang dibangun oleh kaum muslim Tatar pada saat bertempat dikawasan Lithuania untuk membantu peperangan yang terjadi antara Lithuania dan Uni Soviet.

Lithuania sendiri sebelumnya memang kalah dalam peperangan dan menjadi salah satu negara bagian dari Uni Soviet yang berada di daerah Baltik, utara Benua Eropa. Lithuania disebut-sebut dengan satu-satunya negara yang memiliki masjid pada saat itu sampai pada tahun 2009. Barulah pada tahun 2009 beberapa masjid dan perkumpulan umat islam (Islamic Center) dikawasan Baltik baru boleh di dirikan.

masjid forty tatar

Masjid ini juga mirip masjid Nemezis yang tidak memiliki nama asli, namun hanya diberikan nama sesuai dengan tempat berdirinya. Masjid Forty Tatar, memang didirikan pada tahun 1556 di desa Forty Tatar, namun mengalami kehancuran pada masa peperangan. Dan akhirnya dibangun kembali pada tahun 1819.

Masjid ini sudah berumur sangat tua, yaitu dari abad ke-15 tepatnya pada tahun 1558. Namun pada saat itu masjid ini sempat terbakar tak tersisa saat Napolean menyerbu ke Rusia. Lalu umat muslim di daerah Forty Tatar membangun kembali masjid tersebut pada tahun 1815 dan bertahan sampai saat ini. Masjid ini kemudian menyandang julukan sebagai “Masjid Tertua” di Lithuania.

Pada masa kekuasaan Uni Soviet, seluruh masjid di daerah Lithuania dilarang untuk digunakan, serta seluruh aktifitas keagamaan apapun juga dilarang, mengingat Uni Soviet merupakan negara dengan paham komunis.  Namun kaum muslimin di sekitar masjid tetap bersikeras menggunakan masjid ini meskipun dengan sembunyi-sembunyi. Kemudian baru pada tahun 1980-an setelah Uni Soviet runtuh, masjid ini dikembalikan kepada masyarakat sekitar untuk kembali digunakan sebagai tempat peribadahan.

Setelah terbengkalai selama puluhan tahun, masjid ini mengalami kerusakan hampir total. Lalu pada tahun 1993, masjid ini dipugar kembali agar bisa digunakan dengan nyaman. Pada tahun 1996, masjid ini menerima sertifikat sebagai cagar budaya nasional dengan nomor pengesahan 1768. Batu prasasti juga dibuat untuk mengenang umur masjid yang sudah mencapai 6 abad.

Masjid Forty Tatar saat ini menjadi satu-satunya masjid yang ada di wilayah Desa Forty Tatar, dan digunakan oleh sekitar 120 orang muslim yang sebagian besar merupakan keturunan dari pasukan muslim Tatar pada masa Kaisar Vytautas.

Disamping masjid ini pun juga terdapat kompleks pemakaman tua yang biasa disebut dengan Mizaras dan sudah berumur ratusan tasun.

Sedangkan untuk bagian arsitekturnya, masjid Forty Tatar memiliki denah segi empat, dan mirip seperti masjid Nemezis. Yaitu menggunakan kayu, kemudian dengan dinding papan. Yang membedakan antara masjid Forty Tatar dan masjid Nemezis adalah tidak adanya menara serta desainnya hanyalah seperti rumah hunian penduduk sekitar. Namun, tetap diberikan kubah metal dipuncak atapnya, sehingga bisa dibedakan mana rumah hunian dan mana masjid Forty Tatar.

interior masjid forty tatar

Kubah masjid Forty Tatar memiliki denah segi delapan, dengan sebuah tatakan bundar yang semuanya berbahan kayu. Kubah tersebut memang hampir mirip seperti sebuah menara kecil dengan ornamen bulan sabit yang merupakan ciri khas simbol dunia islam. Masjid ini tidak memiliki mihrab seperti kebanyakan masjid pada umumnya, hanya disisi kiblat diletakkan mimbar kayu berukuran kecil.

Meskipun ruangan sholat sangat kecil, namun untuk tempat sholat pria dan wanita tetap dipisahkan secara permanen diberi sekat dinding yang terbuat dari kayu. Ruangan sholat wanita memang berada disisi ruang utama sholat, namun tetap terpisah dengan pintu akses yang berbeda.

Masjid ini memang lebih mirip dengan rumah pohon, karena tidak ada cat yang menghiasi dinding-dindingnya. Kayunya dibiarkan dengan warna alaminya.