Masjid Dengan Dua Arah Kiblat – Masjid Qiblatain

Masjid Dengan Dua Arah Kiblat – Masjid Qiblatain

Masjid yang terletak di Quba tepatnya di jalan Al Walid di atas sebuah bukit kecil sebelah uatara Harrah Wabrah Madinah ini sangat terkenal. Pada awalnya dikenal dengan nama masjid Bani Salamah karena masjid ini dibangun diatas bekas rumah Bani Salamah yang kira-kira 7 kilometer jika dihitung dari jarak masjid Nbawi di Madinah.

masjid Qiblatain

Bentuk bangunan masjid yang berbeda dengan masjid lainnya ini sesuai dengan namanya, yaitu masjid ini memiliki 2 arah kiblat yang menjadi saksi perpindahan arah kiblat kaum Muslim. Sejasrahnya yaiitu dahulu sebelum arah kiblat ditentukan menghadap ke ka’bah, masjid Qiblatain ini menghadap ke Baitul Maqdis di yerussalem. Namun setelah mendapatkan wahyu Allah ketika Rasulullah melaksanakan shalat bersama sahabat yang menghadap kea rah masjidil Aqsha pada waktu dhuhur.

Peristiwa tersebut terjadi pada tahun ke-2 Hijriyah di hari Senin bulan Rajab. Pada saat shalat, turun lah wahyu surat Al-Baqarah ayat 144 tentang arah kiblat untuk menghadap ke arah Masjidil Haram. Saat itu juga Rasulullah langsung memutar arah shalat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah.

Selain itu terdapat juga dua tempat imam shalat. Satu untuk imam shalat yang menghadap ke Baitul Maqdis dan satunya lagi tempat imam shalat yang menghadap ke Ka’bah. Namun saat ini tempat imam di bagian yang menghadap ke Baitul Maqdis sudah tidak dipakai. Ruangan mihrab masjid ini memiliki konsep orthogonal lalu dengan simetri adanya kubah kembar dan juga menara kembarnya. Kubah utamanyaa saat ini menunjukan arah kiblat yang sekarang menghadap ke Ka’bah sedangkan kubah satunya digunakan hanya untuk mengingat sadanya sebuah sejarah tentang masjid ini. Tempat mihrabnya berupa pasir dan tidak ada sajadah sedangkan tempat imam satunya terdapat sajadah dengan mimbar yang kusus. Karena itulah masjid ini dinamakan Masjid Qiblatain.

Masjid Qiblatain telah beberapa kali mengalami pemugaran. Pemerintah kerajaan Arab Saudi         di bawah Raja Fahd melakukan perluasan, renovasi dan pembangunan kontruksi baru tanpa menghilangkan cirri khas masjid tersebut di tahun 1987. Selain itu, pada sebelumnya Sultan Sulaiman telah memguarnya juga di tahun 893 Hijriyah  atau 1543 Masehi.

Masjid Qiblatain juga memiliki bentuk yang cukup megah dan hampir sama dengan masjid lainnya. Salah satunya adalah adanya tempat shalat khusus wanita yang telah disediakan yang letaknya terpisah dengan jamaah laki-laki yang jaraknya cukup jauh. Khususnya bagi wanita ketika ingin menunaikan shalat di masjid ini harus berjalan berputar disebelah kiri masjid. Tempat shalat yang disediakan untuk jamaah wanita ini memiliki ukuran 150 meter persegi. Namun jika ingin langsung menunaikan shalat dan langsung menuju ruangan shalat, maka dapat menaiki escalator yang sangat tinggi. Lalu ada rak yang disediakan untuk menaruh alas kaki para jamaah.

masid qiblatin interior

Bentuk kubah masjid Qiblatain ini sama halnya dengan bentuk kubah masjid lainnya terutama di Indonesia. Bahannya terbuat dari beton sehingga sangat kuat dan kokoh dan tidak diragukan lagi tentang ketahanannya. Warna kubah ini adalah putih menyesuaikan warna masjid dibawahnya yang mencerminkan kemegahan dan kesederhanaan dari bangunan masjid Qiblatain ini. Bahkan kubah ini telah bertahan hingga puluhan tahun. Selain itu, biaya untuk perawatannya juga sangat terjangkau.

Saat ini Masjid Qiblatain menjadi tempat perhentian bagi umat Muslim yang berkunjung ke Madinah salah satu alasannya adalah ingin melihat arah kiblat di masjid itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *