Masjid Besar Tegalkalong di Sumedang Jawa Barat

Masjid Besar Tegalkalong di Sumedang Jawa Barat

Di Sumedang Jawa Barat terdapat banyak masjid dengan salah satu alasan sebagai penyebaran agama islam. Salah satu masjid tersebut adalah Masjid Besar Tegalkalong yang menjadi tempat ibadah umat muslim khususnya diwilayah tersebut. Arsitektur yang melekat dari masjid Besar Tegalkalong Sumedang tak lepas dari sejarah yang terjada pada zamannya. Masjid Besar Tegalkalong Sumedang termasuk salah satu masjid yang unik karena memiliki perpaduan antara Islam dan Tionghoa. Berlokasi di Jalan Sebelas April, Kelurahan Talun, Kecamatan Sumedang Utara ini letaknya tidak jauh dari pusat kota yang hanya berjarak sekitar satu kilo meter.

masjid agung sumedang

Pada dulunya daerah Tegalkalong merupakan ibukota dari Kota Sumedang setelah dipindahkan dari Dayeuh Luhur pada tahun 1600-an. Hingga pendopo yang berada di Kecamatan Sumedang Utara pun kononnya merupakan peninggalan pada masa itu. Dikisahkan pada sekitar tahun 1678 tepatnya pada bulan Oktober  pernah terjadi serangan kedua kalinya oleh Kesultanan Banten setelah serangan pertamanya gagal pada bulan Maret 1678. Kali itu Kesultanan Banten mempersiapkan kekuatan lebih besar dan bergabung dengan pasukan Bali. Alhasil Sumedang banyak yang menjadi korban dalam pertempuran karena pada saat itu Pangeran Panembahan beserta rakyat Sumedang sedang melaksanakan ibadah shalat Ied. Waktu itu terjadi pada hari raya Idul Fitri pasukan yang dipimpin oleh Cilikwadara dan Cakrayuda membuat Sumedang dilanda masa kelam. Kerabat dari Pangeran Panembahan pun menjadi korban peperangan ini sedangkan beliau mencari perlindungan dan selamat di Indramayu. Kemudian Pangeran Panembahan memindahkan pusat pemerintahan Sumedang ke Regolwetan setelah konflik tersebut mereda.

Terlihat desain masjid yang menarik berasal dari pagarnya bewarna hijau dan di dinding bercat warna putih. Sedangkan atap masjid memiliki kemiripan dengan Masjid Agung Sumedang dengan adanya atap tumpang tindih yang berjumlah tiga tingkat dan pada bagian puncak terdapat mustaka seperti bunga yang sedang mekar. Bangunan masjid Tegalkalong tidak terlalu tinggi dengan jarak dari pintu ke langit-langit hanya sekitar 30 cm. luas bangunan masjid Tegalkalong pun sekitar 378 meter persegi yang dapat menampung jamah hingga berjumlah sekitar 600 jamaah. Hal yang unik dari masjid ini adalah tidak terdapat kubah seperti ciri khas masjid pada umumnya sehingga banyak yang mengira bahwa bangunan tersebut adalah bangunan pemerintahan biasa. Terlebih lokasi masjid Besar Tegalkalong tepat berada di depan kantor Kecamatan Sumedang Utara.

iinterior masjid agung sumedang

Masjid Besar Tegalkalong pernah mengalami beberapa kali renovasi seperti yang telah disampaikan oleh Dewan Keluarga Masjid (DKM) Tegalkalong, Bachren Syamsul Bachri. Namun ciri khas pada masjid tersebut yaitu atap yang bertumpang dan mustaka tetap dibiarkan tidak ada perubahan sama sekali. Salah satu alasan dari renovasi masjid Besar Tegalkalong adalah dikarenakan kapasitas daya tampung masjid Besar Tegalkalong sudah tidak memenuhi jamaah yang melaksanakan ibadah. Masjid Besar Tegalkalong diubah dengan nama masjid Besar Al-Falah Tegalkalong pada tahun 1985.

interior masjid agung sumedang

Di masjid tersebut juga terdapat berbagai aktivitas dilakukan disana salah satunya adalah pengajian ibu-ibu yang ada setiap hari senin dan hari sabtu pukul 14.00 WIB. Tak hanya itu saja, pada kamis malam juga biasanya ada pengajian yang dilaksanakan oleh bapak-bapak dan di hari sabtunya pada waktu subuh selalu diramaikan dengan pengajian. Pada akhir bulan juga biasanya diselenggarakan pengajian yang dihadiri oleh  masyarakat Kecamatan Sumedang Utara.

Masjid Chaqchan di Pakistan

Masjid Chaqchan di Pakistan

Di kawasan Khaplu terdapat sebuah masjid yang sudah sangat tua yang dibangun oleh Syed Ali Hamdani pada 1314 M dan selesai pada tahun 1384 M. pembangunan masjid itu bertujuan sebagai dakwah di daerah Khaplu. Syed Ali Hamdani sangat dihormati di wilayah tersebut sebagai waliullah. Masjid tersebut dinamakan Masjid Chaqchan yang selalu ramai didatangi oleh orang-orang yang akan melaksanakan ibadah shalat atau belajar kepada beliau. Selain itu tak sedikit dari mereka datang ke masjid Chaqcan untuk menikmati keindahan masjid dan pemandangan di sekitar masjid tersebut. Di Gligit, Baltistan terdapat bangunan warisan sejarah masa lalu yang salah satunya merupakan sebuah masjid kuno dengan gambaran arsitektural unik seni islam kuno.

salah satu masjid unik di pakistan

Pada awalnya Islam masuk ke kawasan Baltistan adalah hasil dari penyebaran dakwah yang dilakukan oleh seorang sufi yaitu Syed Ali Hamdani pada tahun 1314 M hingga 1384 M. Lalu dakwahnya dilanjutkan oleh Syed Muhammad Nurbakhhsh pada tahun 795 H hingga 859 H dan merupakan murid dari Khawaja Ishaq Khatlani yang juga beraliran sufi. Bahkan penduduk disana awalnya adalah orang-orang yang menganut agama Budha namun pada akhirnya mereka masuk agama Islam seiring dengan penyebaran dakwah di tempat tersebut. Beberapa ilmu Islam yang diajarkan pada mereka berupa Qur’an dan Sunnah, Syed Muhammad Nurbakhsh juga menulis buku fiqh dan usuluddin.

Pada hidupnya Syed Ali Hamdani menulis buku yang berjumlah 170 buku sama halnya dengan Syed Nuhannad Nurbakhsh  yang telah menulis setengah lusin buku dalam bahasa Parsi dan Arab. Hingga akhirnya pengaruh dari kedua guru besar ini menyebar hingga ke kawasan Kashmir hingga ke Tajikistan dan Iran. Hingga sekarang materi ajaran beliau masih dapat ditemukan di perpustakaan ‘Barat’ di Khaplu dan di perpustakaan Islam Shuffa di Madrasah Shah Hamdani.

keunikan di masjid chaqchan pakistan

Sebagian besar bahan bangunan masjid menggunakan kayu tak heran masjid Chaqchan telah mengalami beberapa kerusakan termakan usia. Dalam masjid itu juga terdapat banyak ukiran kayu yang sangat indah dengan ukiran Tibet menggunakan kayu pilihan. Agar masjid Chaqchan tidak ambruk maka Aga Khan melakukan restorasi total dan mengembalikan kepada bentuk asli semula. Selain itu, restorasi ini dilakukan agar salah satu warisan budaya ini tidak hilang dan tetap berdiri kokoh sebagai pusat peribadahan umat islam.

Dilihat dari luar masjid Chaqchan tidak terlihat sebagai tempat beribadah umat muslim. Pondasinya berasal dari kayu berupa susunan batu alam dan semen sangat kental dengan sentuhan seni tradisional Tibet. Bahkan bentuk bangunan serta ornament-ornamen di masjid Chaqchan identik dengan peribadahan Budha di Tibet. Sangat wajar karena 700 tahun lalu wilayah ini banyak dihuni oleh penduduk beragama Budha.

Hiasan lainnya yang melekat di masjid Chaqchan adalah ukiran kayu yang terdapat pada seluruh fasad bangunan dibagian dalam dan luar. Ukiran tersebut berbentuk geometris dan floral yang beraneka warna warni dapat ditemukan di dinding bagian luar dan dalam masjid. Selain itu ada hal unik di masjid Chaqchan yaitu dua lantai yang dipakai di musim yang berbeda. Pada musim dingin para jamaah menggunakan lantai dasar sedangkan pada musim panas bagian lantai atas digunakan para jamaah untuk melaksanakan ibadah shalat.

interior masjid chaqchan

Terdapat empat tiang kayu yang berfungsi untuk menopang struktur bangunan atap masjid Chaqchan. Di keseluruhan plafon ini juga terdapat ukiran geometris warna warni yang begiru indah dan mempesona. Ukiran tersebut hanya ada di bagian plafon dan dinding masjid namun tidak ditemukan pada bagian jendela dan pintu masjid. Di dalam masjid ini ada mihrab yang bentuknya kecil yang berupa ceruk dan dipenuhi oleh hiasan geometris. Mimbar disediakan disebelah mihrab dan juga terbuat dari kayu dengan satu anak tangga ditinggikan dari permukaan lantai dan ditinggikan lagi untuk tempat duduk sang khatib.

Masjid Ketchaoua di Aljazair

Masjid Ketchaoua di Aljazair

Di kota Aljir ibukota Aljazair terdapat sebuah masjid yang menjadi landmark yang terkenal yaitu Masjid Ketchaoua. Masjid Ketchaoua berdiri di derah Casbah di kota Aljir dan pembangunannya berawal ketika kekuasaan Dinasti Umasniyah pada abad ke 17. Masjid Ketchaoua juga merupakan warisan budaya dunia yang telah terdaftar oleh UNESCO. Dilihat dari arsitektur masjid bangunan ini memiliki paduan gaya Maroko dan gaya Byzantium di Romawi Timur.

Pada awalnya bangunan masjid ini didirikan pada tahun 1612 tapi fungsinya dialihkan menjadi Katedral St Phillippe di tahun 1845. Peralihan fungsi tersebut dilakukan pada masa penjajahan Perancis pada tahun 1962 dan pada tahun yang sama juga fungsiinya dikembalikan lagi sebagai masjid. Meskipun peralihan masjid ini dalam rentang waktu yang lama yaitu dalam kurun waktu empat abad namun masjid Ketchaoua masih menunjukan kemegahannya. Masjid ini pun menjadi salah satu objek wisata yang paling penting dan menarik di Aljazair.

masjid katsyawah

Peralihan masjid menjadi Katedral St. Phillipe ini terjadi ketika Perancis pada saat itu menjajah Aljazair. Pada tahun 1840 sebuah lambang salib resmi di letakkan di bagian puncak bangunannya oleh Marshal Sylvain Charles Valee. Dan pada tahun 1962 Aljazair memperoleh kemerdekaannya saat itu juga fungsi bangunan tesebut kembali untuk beribadah umat Muslim. Sebuah upacara resmi dilaksanakan yang dipimpin oleh Tawfiq Al Madani seorang Menteri Urusan Pelabuhan dan diselanggarakan di Ben Badis Square. Kejadian tersebut digambarkan sebagai ‘Penaklukan kembali keaslian Aljazair sebagai simbol yang tertinggi dari integritas nasional’. Tak hanya itu saja, di Casbah terdapat sisa reruntuhan Citadel, beberapa bangunan tua lainnya  serta reruntuhan perkotaan tradisional pada masa lalu.

Bangunan masjid ini mempunyai arsitektur yang sangat menarik. Di bagian pintu masuk utama dilengkapi dengan 23 anak tangga dan terdapat portico berornamen yang ditopang oleh empat kolom bercorak hitam terbuat dari batu marmer. Sedangkan di dalam masjid terdapat kolom-kolom yang terbuat dari batu marmer berwarna putih. Ditambah dengan keindahan menara dan langit-langitnya berhias dengan sentuhan seni plester semen bergaya Moor.

interior masjid ketchaouah

Saat ini masjid Ketchaoua terlihat jelas dari lapangan Casbah ditambah pemandangan laut di sisi depan dan terdapat dua menara yang mengapit pintu masuk.  Pemandangan yang memukau akan terlihat karena adanya sentuhan gaya Moor dan Byzantium yang sangat menarik. Dibagian dalam masjid ada makam dari San Geronimo pada saat masa penjajahan Perancis berlangsung ketika masjid ini berfungsi sebagai Katedral.

Masjid Ketchaoua memiliki sejarah yang tak dapat dipisahkan dengan kota kuno Casbah. Bangunan masjid tersebut berdiri megah di anak tangga pertama Casbah yang mengarah ke lima gerbang distriknya para aristocrat. Mereka merupakan orang kaya, keluarga kerajaan, para pebisnis dan poliiitikus di masa itu.

Pada tahun 2009 dilakukan restorasi perbaikan terhadap menara masjid, ruang tengah dan pembatas tangga oleh Departemen Warisan Budaya Aljazair. Pelaksanaan restorasi tersebut di rencanakan selesai dalam waktu satu tahun. Proses tersebut dilakukan secara tergesa-gesa karena salah satu menara di masjid Ketchaoua terancam runtuh.

Ketika berada di Aljazair sangat direkomendasikan untuk mengunjungi masjid Ketchaoua disamping melaksanakan ibadah. Karena keindahan masjidnya sudah dapat terlihat dari bagian luar apalagi jika memasuki masjid tersebut akan terasa lebih takjub dengan berbagai hiasan-hiasan menarik. dengan kemegahan masjid ini tak heran masjid Ketchaoua diabadikan dalam salah satu seri perangko di Aljazair.

Masjid Nasional Akbar Surabaya

Masjid Nasional Akbar Surabaya

Selain Jakarta sebagai pusat ibu kota negara Indonesia terdapat juga kota besar dan terkenal. Kota tersebut populer dengan nama kota Pahlawan yang pernah menjadi tuan rumah perhelatan Unity Cup. Dalam ajang tersebut adanya pertandingan sepak bola bertujuan untuk merekatkan dua bangsa Indonesia dan Malaysia. Semakin terhibur dan menyenangkan ketika Indonesia menang melalui tim Persebaya Surabaya Vs Kelantan FA.

masjid agung al akbar

Selain menjadi salah satu kota metropolitan, Surabaya memiliki beberapa bangunan megah yang menjadi landmark kota Pahlawan. Ada jembatan Suramadu yang merupakan jembatan terpanjang di Nusantara menghubungkan Surabaya dan Madura.  Selain itu ada juga bangunan masjid Nasional Al-Akbar Surabaya menambah deretan landmark kota Surabaya.

Didirikan pada lahan seluas 11,2 hektar dan memiliki luas bangunan 28.509 meter persegi, masjid Nasional Al-Akbar Surabaya mampu menampung para jamaah berkapasitas hingga 59.000. Pembangunan masjid Al-Akbar mempunyai tujuan sebagai Islamic Center dengan adanya multidimensi misi religious, cultural dan edukatif. Lokasi masjid Nasional Al-Akbar tepatnya berada di kawasan Pagesangan, jalan Masjid Al-Abar Timur No. 1 Surabaya dan berada di tepi jalan tol Surabaya-Malang. Ketika datang ke Surabaya dari arah bandara udara Internasional Juanda masjid Nasional Al-Akbar Surabaya akan menyambutnya dengan keindahan dan kemegahan yang terdapat di bangunan tersebut.

Atas gagasan H. Soenarto Soemoprawiro yang menjabat sebagai walikota Surabaya pada saat itu untuk membangun masjid Nasional Al-Akbar. Pada tanggal 4 Agustus 1995 dilakukan peletakan batu pertama oleh Wakil Presiden RI H. Try Sutrisno namun pembangunan masjidnya dimulai pada bulan September 1996. Lalu bertepatan dengan hari Pahlawan pada tanggal 10 Nopember 2000 masjid Nasional Al-Akbar diresmikan oleh Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid. Jika dilihat dari ukuran bangunan masjid, masjid Nasional Al-Akbar menjadi masjid terbesar ke dua di Indonesia setelah masjid Istiqlal di Jakarta dan merupakan masjid yang memiliki mihrab terbesar di Indonesia.

interior masjid agung al akbar surabaya

Pemerintah Kabupaten Surabaya menyediakan lahan bangunan untuk pembangunan masjid ini ditambah dengan lahan sawah  milik penduduk yang keseluruhannya mencapai 11,2 hektar dan fasilitas penunjang yang mencapai 22.300 meter persegi dengan rincian panjang 147 meter dan lebar 128 meter. Dalam membangun masjid Nasional Al-Akbar Surabaya di desain oleh tim dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan bekerja sama dengan para ahli yang sudah berpengalaman membangun masjid-masjid besar di Indonesia. Untuk langkah awal pembangunan masjid dilakukan dengan loading test agar mengetahui kekuatan beban tanah dan penentuan arah kiblat yang disahkan oleh pemuka-pemuka agama dari Departemen Agama. Agar pembangunannya lancar maka Departemen Perhubungan dan Departemen Pekerjaan Umum membuka jalan tol menuju masjid tersebut agar alat-alat berat dapat melewatinya karena tidak mungkin melewati ruas jalan di pemukiman penduduk.

Dibutuhkan waktu selama tiga bulan untuk menyelesaikan proses pemancangan bagi pondasi karena tiang pancangnya tidak kurang berjumlah 2000. Kubah masjid Nasional Al-Akbar memiliki kubah yang unik karena bentuknya menyerupai setengah telur dengan 1,5 layer yang tingginya mencapai 27 meter, dengan menumpu pada atap piramida 2 layer setinggi 11 meter. Selanjutnya masjid ini memiliki 45 pintu dengan daun pintu ganda yang artinya dibutuhkan daun pintu sebanyak 90 buah yang ukuran lebarnya 1,5 meter dan tinggi 4,5 meter. Di bagian dinding dan lantai dilapisi oleh marmer yang terbuat dari Lampung agar ruangannya terasa sejuk. Hiasan kaligrafi yang cantik terbuat dari kayu jati memberikan nuansa islami yang sangat menarik. Menara masjid Nasional Al-akbar memiliki satu menara yang tingginya mencapai 99 meter. Dengan kebesaran dan keindahan masjid Nasional Al-Akbar sangat dianjurkan bagi pengunjung untuk datang ke tempat beribadah yang terkenal di Surabaya.  masjid agung al akbar surabaya

Masjid Nurul Iman di Padang Sumatera Barat

Masjid Nurul Iman di Padang Sumatera Barat

Di Padang Sumatera Barat adat istiadatnya begitu kental dengan syariat Islam dengan keindahan alam yang sangat luar biasa. Masyarakat Minangkabau memiliki falsafah ‘hidup bersanding adat, adat bersanding Syara’, Syara’ bersanding Kitabullah’, tak heran mereka sangat memegang teguh ajaran agama Islam dan sangat mudah ditemukan beberapa masjid di berbagai tempat di Padang. Salah satu masjid yang menjadi pusat perhatian di kota Padang hingga menyebar ke kota lainnya adalah masjid Nurul Iman. Masjid tersebut sangat terkenal karena memiliki bentuk bangunan masjidnya merupakan yang terbesar di kota Padang. Lokasi masjid Nurul Iman tepatnya berada di Jalan Imam Bonjol dan Jalan MH Thamrin di pusat kota Padang.

masjid nurul iman padang

Dilihat dari awal pembangunan masjid hingga beberapa kali mengalami kerusakan dan pembangunann renovasi masjid Nurul Iman, ternyata masjid ini memiliki sejarah yang cukup berliku. Pembangunan dimulai pada tanggal 26 September 1958, namun pada masa orde lama pembangunan masjid Nurul Iman begitu lamban sampai akhirnya terbengkalai hingga pada tahun 1966 pembangunan masjid ini kembali dibantu oleh pemerintah. Selanjutnya pada saat itu Gubernur Harun Zain yang menjabat dari tahun 1967 hingga 1977 melanjutkan kembali pembangun masjid Nurul Iman. Dalam pembangunannya, masjid ini menghabiskan biaya sekitar Rp. 300 juta yang berasal dari para jamaah, sumbangan pemerintah dan Presiden Soeharto yang menjabat pada saat itu juga memberikan sumbangan sekitar 40 juta untuk membantu pembangunan masjid Nurul Iman.

Pada tahun 1976 masjid Nurul Iman sudah di fungsikan untuk dilaksanakan shalat jum’at meskipun proses tahap akhir belum selesai sepenuhnya. Kemudian kejadian mengerikan terjadi dua tahun setelah masjid difungsikan, tepatnya pada tanggal 11 November 1976 pukul 22.20 terdapat ledakan bom yang merusak bagian masjid ini. Menurut pihak keamanan kota Padang, sebenarnya bom tersebut dirancang untukk meledak pada saat pelaksanaan ibadah shalat Jum’at keesokan harinya, namun bom tersebut meledak lebih awal di malam hari sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

interior masjid nurul iman

Akibat dari ledakan bom tersebut mengakibatkan kerusakan dibagian masjid yang menyebabkan loteng masjid di lantai satu berantakan sepanjang 30 x 2 meter, jendela kaca di beberapa bagian pecah serta ventilasi lantai dua telah hancur selebar satu meter persegi. Pada saat itu juga masjid ini ditutup untuk proses penyelidikan namun ketika sholat jum’at akan tiba masjid ini kembali dibuka untuk umum.

Beberapa tahun pembangunan renovasi ini terbengkalai dan ketika berada dibawah pemerintahan Gubernur Gamawan Fauzi masjid Nurul Iman akhirnya dapat berdiri kokoh dengan arsitektur yang berbeda. Dibutuhkan sekitar 18.4 miliar rupiah dana dari APBD untuk melakukan renovasi total masjid An-Nur. Dan akhirnya pada tanggal 7 Juli 2007 proses renovasi total masjid An Nur diresmikan oleh wakil presiden, M. Jusuf Kalla.

Masjid Nurul Iman memiliki desain seperti halnya masjid megah dan mewah lainnya berhias kubah yang sangat besar di bagian utama masjid dan dilengkapi dengan menara yang sangat menjulang tinggi. Masjid ini terdiri dari dua  lantai yang disangga 30 tiang dan 16 tiang terdapat ditengah masjid sebagai tiang penyangga utama. Konsep bangunan masjid ini diambil dari konsep arsitektur masjid Attin di Taman Mini Indonesia Indah. Terlihat kubah dan menara berwarna hijau yang dihiasi oleh motif bintang segi lima di ornament dinding masjid. Sedangkan pada kubah masjid bermotif ketupat yang memiliki makna keindahan nilai-nilai kemoderatab bangunan masjid yang berada di Turki.

Masjid Saint Petersburg Rusia

Masjid Saint Petersburg Rusia

Meskipun di Rusia mayoritas penduduknya beragama non-islam, di negara ini terdapat sebuah masjid dengan bangunan yang sangat unik dan menarik. Sejarah mengatakan bahwa dahulu di era rezim komunis Uni Soviet benar-benar menghancurkan semua kehidupan beragama. Salah satu bangunan yang dijadikan kepentingan rezim tersebut adalah masjid-masjid yang berada di Rusia. Bangunan tersebut ditutup dan dibiarkan tidak terawat tetapi tetap digunakan oleh rezim tersebut untuk berbagai keperluan mereka. Pada saat itu masjid Saint Petersburg digunakan rezim Uni Soviet sebagai gudang dan terlihat tidak terurus. Saint Petrsburg merupakan sebuah ibukota Rusia yang pada saat itu masih berupa kekaisaran. Namun pada era Uni Soviet kota ini bernama Leningrat yang namanya dinisbatkan kepada Vladimir Lenin seorang pendiri Uni Soviet. Kota ini juga disebut-sebut sebagai kota yang terindah di Rusia dengan beberapa gedung menjulang tinggi dengan arsitektur indah dan menawan. Dan masjid Saint Petersburg adalah salah satu bangunan yang merupakan keindahan di kota tersebut.

indahnya masjid petersburg.

 

Pada tahun 1913 masjid Saint Petersburg dibangun oleh Nicholas II di kota Saint Petersburg. Didirikannya masjid ini bertujuan untuk memperingati 25 tahun atas Abdul Aht Khan, Emir Turkistan yang telah berkuasa di Bukhara. Perencanaan dibangunnya masjid ini sudah digagas oleh komunitas muslim Saint Petersburg sejak tahun 1880 namun izin pendiriannya baru dikeluarkan di tahun 1906. Sebelumnya pembangunan masjid ini ditentang oleh beberapa masyarakat karena lokasinya berada tepat di sebrang benteng Peter & Paul. Tetapi ketika Tsar Nicolas memberikan izin pembangunan tersebut pada tanggal 3 Juli 1907 seketika penentangan tersebut hilang dengan sendirinya.

Dana sebesar 750 ribu rubbels dibutuhkan untuk pembangunan masjid Saint Petersburg yang didapatkan dari sponsor orang kaya, seperti Ahun Ataulla Bayazitov yang menjadi ketua komite pembangunan masjid. Sedangkan untuk pembelian lokasi serta biaya pembangunan kesuluruhan masjid di danai oleh Said Abdoul Ahad Amir Buharskiy Emir dari Bokara. Pembangunan masjid Saint Petersburg membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu selama 10 tahun.

Arsitek yang mendesain ini pun dipilih dari berbagai segi dan dimenangkan oleh tiga orang non-muslim, mereka adalah arsitek Nikolai Vasilyev, Stepan Krichinskiy dan Alexander von Gogen. Pada tanggal 3 Februari 1910 dilakukan peletakan batu pertama yang dihadiri oleh tokoh agama dan beberapa tokoh masyarakat antara lain Amir Buharskiy, Hrusin Novikov Ahun Ataulla Bayazitov.

ukiran di setiap sudut di masjid petersburg rusia

Desain dari bangunan masjid Saint Petersburg termotivasi dari arsitektur Masjid Tamerlan’s yang berada di kawasan Asia Tengah. Kubah Besarnya terinspirasi oleh bangunan maosolium Gur Emir yang berada di Samarkand yang didirikan pada abad ke 15. Bangunan masjid ini terlihat lebih alami karena dindingnya berwarna abu-abu tua dibandingan dengan bangunan lain disekelilingnya. Bagian fasad depan dihias dengan kaligrafi Al-Qur’an yang begitu indah dan sangat cantik. Pada bagian interior dan eksterior masjid melekat arsitektur tradisional islam dengan beberapa kolom yang menyanggah lengkungan-lengkungan dibawah kubah yang ditutup pualam berwarna hijau. Terdapat juga lampu yang sangat besar pada bagian utama masjid dan juga berhias kaligrafi Al-Qur’an. Pada ruang mihrab dihiasi dengan keramik-keramik berwarna biru dan tembok masjid dipenuhi oleh berbagai ornamen sangat indah.

Masjid Saint Petersburg memiliki dua menara yang tingginya mencapai 49 meter lengkap dengan kubahnya yag berukuran 39 meter. Kubah masjid ini dirancang seperti sarang madu yang terlihat begitu menawan dengan ornamen berbentuk hexagonal dengan dominasi berwarna biru. Masjid Saint Petersburg  dapat menampung jamaah hingga sebanyak 5000 jamaah.

Masjid Agung Sultan Badaruddin II di Palembang

Masjid Agung Sultan Badaruddin II di Palembang

Terdapat sebuah masjid yang merupakan konservasi bangunan kuno peninggalan kejayaan pada masa lalu  di Palembang Sumatera Selatan. Masjid yang usianya sudah tua yaitu lebih dari dua abad menjadikan masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II begitu berkharisama dan dicintai oleh berbagai orang-orang khususnya diwalayah sana. Ketika berkunjung ke masjid ini untuk melaksanakan shalat atau hanya ingin melakukan wisata religi akan mengobati sedikit kerinduan terhadap kejayaan Kesultanan Palembang di masa lalu. Masjid Agung Sultan Badaruddin II merupakan bangunan masjid yang bersejerah dari penghancuran besar-besaran oleh peninggalan Sultan pada saat pemerintah kolonial Belanda.

masjid sultan mahmud badaruddin.

Lokasi masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II masuk dalam wilayah Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I kota Palembang. Tepatnya berada di pertemuan antara Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman sedangkan gerbang utaama masjid berhadapan langsung dengan bundaran air mancur yang menarik dan menjadi titik nol km di Palembang. Inilah salah satu keunikan yang dimiliki masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II yang jarang dimiliki oleh masjid lain pada umumnya.

Keindahan bangunan masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II dapat dilihat dari atas Jembatan Ampera, yaitu jembatan yang diabadikan sebagai lambang provinsi Sumatera Selatan sekaligus sebagai landmark kota Palembang. Msjid yang merupakan kebanggaan warga Palembang ini berada di pusat kota yang memudahkan bagi siapa pun untuk mengunjunginya.

masjid agung sultan mahmud badaruddin

Dinamakan masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II karena merupakan sebuah penghormatan dan untuk mengenang jasa-jasa Sultan Mahmud Badaruddin II. Beliau adalah seseorang yang sangat gigih dalam melawan pasukan Inggris dan Belanda hingga beliau pernah diasingkan ke Ternate di Maluku Utara dan wafat pada tanggal 26 September 1852  lalu dimakamkan di Ternate. Beliau adalah seorang Sultan yang sangat disegani dan dicintai oleh rakyatnya yang berkuasa di Kesultanan Palembang Darussalam mulai dari tahun 1803 hingga tahun 1821.

Sultan Mahmud Badaruddin II lahir di Palembang pada tahun 1767 memiliki nama asli Raden Hasan Pangeran Ratu. Atas jasanya yang begitu berharga, Sultan Mahmud Badaruddin diberikan kehormatan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasioanl bahkan gambar wajahnya diabadikan dalam uang kertas Republik Indonesia.

Perlu diketahui bahwa awalnya masjid ini merupakan masjid Kesultanan Palembang Darussalam. Tak sedikit masyarakat menyebutnya sebagai masjid Sultan. Namun namanya diubah menjadi Masjid Agunh Palembang dan pada tahun 2003 terjadi perluasan besar-besaran kemudian Presiden Megawati Soekarno Putri meresmikan masjid ini sebagai masjid Nasional.

interior juga sangat luas

Sejarah awal dari pembangunan masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II dimulai dengan peletakan batu pertama kali yang dilakukan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau dikenal juga dengan nama Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikramo. Peletakan batu tersebut terjadi pada tanggal 1 Jumadil Akhir 1151 H atau bertepatan dengan tanggal 1738 M yang berada di belakang Benteng Kuto Besak di dalam komplek Keraton Kesultanan Palembang Darussalam.

Lalu pada tanggal 28 Jumadil Awal 1161 H atau 26 Mei 1748 M. karena masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II dibangun sudah sangat lama bangunan masjid ini tidak memiliki menara. Tetapi pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin yang menjabat dari tahun 1758 hingga 1774 dibangun menara disebelah barat yang terpisah dengan bangunan masjid. Masjid ini dipengaruhi oleh gaya arsitektur Indonesia, China dan Eropa yang dibagian pintu masjid sangat tinggi dan besar berasal dari gaya Eropa. Sedangkan bentuk atap masjid utama yang mirip dengan kelenteng memiliki gaya arsitektur China.

Masjid Agung Karawang

Masjid Agung Karawang

Dibalik kemegahan masjid Agung Karawang ternyata terdapat sebuah sejarah panjang penyebaran agama Islam di wilayah provinsi Jawa Barat. Sheikh Hasanuddin atau dikenal juga dengan Sheikh Quro merupakan seseorang yang berperan penting dalam berkembangnya syiar islam di Karawang dan wilayah Jawa Barat. Namun perlu diketahui bahwa bangunan masjid Agung Karawang saat ini bukan lagi bangunan asli yang dulu pertama kali didirikan oleh Sheikh Quro. Hal itu karena dilaksanakan renovasi, perbaikan hingga pembangunan kembali yang dilakukan oleh Bupati Karawang waktu dahulu hingga Bupati di era Kemerdekaan.

masjid agung karawang

Pada tahun 1633 hingga 1677 M Bupati Karawang yaitu Adipati Singaperbangsa memiliki kantornya di daerah Udug-udug. Tetapi karena berbagai pertimbangan kantornya dipindahkan ke pelabuhan Karawang. Di tempat ini terdapat pasar, masjid Agung dan beberapa sarana penunjang lain sehingga tempat ini selalu ramai setiap waktu. Telah dibangun sebuah alun-alun yang ditanami 2 pohon beringin dibagian kanan kiri di dekat masjid Agung. Sesaat setelah itu, Adipati Singaperbangsa menjadikan bangunan masjid ini lebih indah dan direnovasi selaras dengan kantor kabupaten yang baru dibangun.

Pada waktu itu Bupati Karawang merupakan bawahan dari Sultan Agung yang memiliki tekad tinggi untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan di pulau Jawa dan disekitarnya. Kota Karawang juga dipersiapkan menjadi pusat penyerangan tentara Mataram terhadap tentara VOC atau kompeni Batavia. Selain itu, Karawang juga menjadi kota lumbung padi sebagai pusat logistik pada saat peperangan tersebut. Adipati Singaperbangsa melaksanakan tugas pemerintahannya secara baik dengan memfungsikan masjid Agung Karawang sebagai tempat ibadah dan sebagai tempat berkumpulnya para pejuang kemerdekaan. Beliau melaksanakan tugas tersebut selama hampir 44 tahun kemudian wafat pada tahun 1677 M dan dimakamkan di Manggung Ciparage.

Selanjutnya Bupati digantikan oleh Panatayuda I, Panatayuda II dan Panatayuda III namun tidak melanjutkan perbaikan terhadap masjid Agung Karawang. Panatayuda I atau juga disebut dengan Raden Anom Wirasuta menjabat pada tahun 1677 hingga 1721 M memiliki kantornya di Waru dekat Loji, Pangkalan. Sedangkan Panatayuda III atau Raden Martanegara menjabat dari tahun 1732 hingga tahun 1752 berkantor di tempat yang sama dengan Raden Anom Wirasuta.

Kepemerintahan dilanjutkan oleh Bupati Karawang V yaitu Raden Muhammad Soleh atau Panatayuda V yang memerintah dari tahun 1752 hingga 1786 M. pada masanya kantor Bupati dipindahkan kembali ke Babakan Rekayasa. Selain itu, Bupati V dikenal juga dengan ‘dalem nalon’.  Raden Muhamad Soleh wafat dan dimakamkan dekat masjid Agung dan di tahun 1973 atas persetujuan dari berbagai sesepuh jenazahnya dipindahkan dan dimakamkan kembali di komplek makam Bupati Karawang Desa Manggung Jaya Cilamaya.

ruangan di dalam masjid agung karawang

Masjid Agung Karawang memiliki arsitektur khas Indonesia dalam skala yang lebih besar. Masjid ini memiliki atap yang bersusun tiga dengan empat sokoguri utama menopang atap masjid. Bagian plafon masjid sengaja terbuka agar memudahkan udara masuk dan juga  berfungsi sibagai masuknya sinar matahari. Terdapat bangunan dua lantai berbentuk mazenin yang cukup luas bagi para jamaah  di bagian dalam masjid.

Masjid Agung Karawang memiliki pilar yang berjumlah 6 menyimbolkan enam rukun Islam. Terdapat juga hiasan kaligrafi di sisi mihrab bagian kiri dan kanannya juga berada di bagian dinding dalam masjid. Kaligrafi dan lkisan geometris menambah keindahan sisi mihrab masjid Agung Karawang. Diseblah masjid ada bangunan kecil tempat menyimpan beduk dan kentongan yang berukuran besar. Masjid ini selalu ramai oleh para jamaah sekitar apalagi ketika di bulan Ramadhan.

Masjid Agung Darul Muttaqien Purworejo Jawa Tengah

Masjid Agung Darul Muttaqien Purworejo Jawa Tengah

Di Purworejo tepatnya di sebelah barat alun-alun kota Purworejo terdapat sebuah masjid yang terkenal. Masjid tersebut adalah masjid Agung Darul Muttaqien yang populer karena memiliki bedug terbesar di dunia. Dengan adanya beduk yang sangat besar menjadikan daya tarik sendiri bag wisatawan yang berkunjung ke masjid agung Darul Muttaqien. Beduk besar yang memiliki ukuran sangat besar dan umurnya sudah sangat tua sama dengan usia dari masjid Agung Darul Muttaqien.

masjid darul muttaqin purworejo

Pembangunan masjid Agung Darul Muttaqien dimulai pada tahun 1834 M ketika masa pemerintahan Bupati Purworejo pertama yaitu Kanjeng Adipati Arya Cokronegoro I. Masjid Agung Darul Muttaqien menjadi salah satu masjid yang hingga kini masih berdiri kokoh dan menjadi kebanggan bagi masyarakat Purworejo di Jawa Tengah.

Masjid ini berdiri diatas tanah seluas 8.825 meter persegi dengan bangunan utamanya berukuran 21 x 21 meter, serambi masjid 25 x 21 meter dan sayap kiri kanannya berukuran 6 x 21 meter. Dilihat dari luar masjid Agung Darul Muttaqien memiliki arsitektur Jawa berbentuk Tanjung Lawakan Lambung Teplok atau mirip dengan desain masjid Agung yang berada di Keraton Kota Solo. Atap masjid ini tumpang tiga, pada atap pertama disebut dengan panilih yang artinya syariah, atap kedua disebut sebagai penangkup artinya toriqoh sedangkan atap ketiga adalah brunjung yang artinya hakekat. Pada masjid tersebut terdapat juga mahkota yang memiliki makna ma’rifat.

interior masjid agung darul muttaqin

Ketika memasuki masjid, akan ditemukan papan dengan tulisan Jawa dan Arab dengan arti ‘ RAA Cokronagoro Ping I Mas Pateh Cokrojoyo Purworejo: 1762’. Bagian atap masjid ditopang oleh empat soko guru dan 12 soko rowo persegi yang dihubungkan dengan balok gantung rangkap dari kayu Jati Bang yang berusia ratusan tahun. Warna hijau menghiasi soko guru tersebut dengan hiasan geometris dan bersiri di atas umpak. Sedangkan soko rowo berbahan batu bata dengan bagian bawahnya dilapisi keramik yang berwarna hijau.

Pada masa pemerintahan Bupati Cokronegoro I mulai dibangun beberapa bangunan yang digunakan sebagai kepemerintahan berpusat di alun-alun. Masjid Agung Darul Muttaqien selesai dibangun pada tanggal 2 bulan Besar Tahun Alip 1762 atau 16 April 1834 M. terdapat beberapa alasan mengapa bangunan masjid ini terletak di kota Purworejo. Salah satu alasannya adalah kota tersebut dikelilingi oleh perbukitan yang hijau dan sejuk yaitu bukit Menoreh di sebelah timur, bukit Geger di sebelah utara dan disebelah barat terdapatt gunung Pupur. Selainn itu terdapat juga dua aliran sungai yang bernama kali Bogowonto dan kali Jali yang memiliki latar belakang Gunung Sumbing.

Masjid Darul Muttaqien memiliki khas tersendiri karena beduknya berukuran sangat besar dan menjadikan beduk tersebut beduk terbesar di dunia. Beduk itu pun memiliki nama beduk Pandawa atau beduk Pendow dan disebut juga dengan beduk Kyai Bagelan.

bedug besar di masjid agung darul muttaqin

Beduk pendowo dibuat pada tahun 1834 M sama halnya dengan didirikan pertama kali masjid Agung Darul Muttaqien. Tabung bedugnya berbahan kayu jati termasuk 120 paku disekelilingnya pada sisi depan dan 98 paku sekeliling sisi belakang. Saat ini beduk Pandowo diletakkan di sebelah dalam serambi masjid. Jika ingin mendengarkan suara beduk ini disarankan datang pada waktu menjelangnya shalat fardhu dan pada saat menjelang shalat Jum’at.

Masjid Agung An Nur di Riau

Masjid Agung An Nur di Riau

Riau yang notabene merupakan penghasil  migas terbesar di Indonesia merupakan  kota yang terkenal sangat religious. Riau juga pernah menjadi rumah bagi Kesultanan Islam yang pernah berjaya di masa lalu dan sangat wajar jika di kota Pekanbaru sebagai ibukota Riau terdapat berbagai masjid megah nan mempesona yang akan membuat siapapun yang melihatnya berdecak kagum. Terdapat 5.229 masjid di Riau pada tahun 2009 dan salah satu dari masjid tersebut ada Masjid An Nur yang terkenal dengan kemegahan dan keindahannya. Tepatnya masjid An Nur berlokasi di jalan Hang Tuah di Kecamatan Pekanbaru.

masjid agung annur riau-pekan baru

Masjid An Nur dibangun pada tahun 1968 tepatnya pada tanggal 19 Oktober atau tanggal 27 Rajab 1388 H, hingga saat ini masjid tersebut merupakan salah satu masjid yang termegah di Indonesia. Jika dilihat dari arsitektur bangunan masjidnya, terdapat pengaruh dari gaya Melayu, India, Turki dan Arab. Setelah selesai dibangun masjid ini diresmikan oleh Arifin Ahmad yang merupakan seorang Gubernur Riau dan pada tahun 2000. Masjid An Nur direnovasi secara besar-besaran oleh Gubernur Saleh Djasit. Jika dilihat saat ini bangunan masjid yang mewah dan megah bukanlah bangunan asli pada awal dibangun tapi merupakan hasil dari renovasi total terhadap masjid An Nur.

masjid agung annur riau

Pada tahun 2000 pembangunan renovasi masjid secara kesuluruhan dilakukan, bagian luas masjid bertambah tiga kali lipat yang sebelumnya memiliki luas 4 hektar menjadi 12.6 hektar. Luasnya lahan tersebut sangat berguna dan bermanfaat bagi seluruh jamaah yang datang mengunjungi masjid ini, termasuk adanya kawasan tanah hijau dan lahan parkir yang sangat luas.

Masjid ini pernah menjadi kampus bagi Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif Kasim Pekanbaru pada awal pendirian masjid An Nur hingga tahun 1973. Kini IAIN Sultan Syarif Kasim telah berubah menjadi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Pekanbaru. Universitas tersebut dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk belajar menuntut ilmu Islam khususnya di bidang Ushuluddin.

Jika diamati sekilas masjid An Nur memiliki arsitektural seperi bangunan Taj Mahal di India. Perancangan desain masjid ini dilakukan oleh Ir. Roeseno dengan ukuran 50 x 50 m terletak dalam satu pekarangan yang luasnya mencapai 400x 200 m. Karena lahan yang luas dimiliki bangunan masjid An Nur, jamaah yang ditampung masjid ini dapat mencapai jumlah sekitar 4.500 orang.

Selain itu masjid An Nur memiliki tuga buah tangga tersusun dari satu buah tangga berada di bagian muka dan 2 bagian tangganya berada di samping masjid. Ditambah dengan adanya 13 pintu dibagian atas dan 4 buah pintu dibagian bawah. Tak ketinggalan adanya tulisan kaligrafi yang begitu indah diitulis oleh seorang kaligrafier ternama yaitu Azhari Nur yang berasal dari Jakarta pada tahun 1970. Bangunan masjid An Nur dilengkapi oleh berbagai fitur-fitur modern abad ke 21 dan kubahnya yang berukuran besar serta ke empat menara yang menjulang tinggi di setiap penjuru masjid.

interior masjid agung annur riau

Dibagian lantai bawah masjid difungsikan sebagai tempat sekertariat pengurus masjid, manajemen serta ruangan kelas untuk pelaksankan pendidikan Islam. Karena masjid ini sangat luas dan memiliki 3 lantai maka dibuat eskalator untuk para jamaah dan pengunjung sehingga mempermudah perjalanan naik ke lantai dua. Terdapat pula beberapa fasilitas pendidikan menunjang lainnya mulai dari Play Group  hingga SMA, perpustakaan, aula, ruang pertemuan hinga ruang kelas dan kantor tersedia lengkap di masjid An Nur. Selain itu, masjid An Nur  juga memiliki Radio Penyiaran Komunitas yang bernama LPK An Nur FM dengan frekuensi 107.7 MHz.