Masjid Jami’ Al-Riyadh Kwitang – Jakarta

Masjid Jami’ Al-Riyadh Kwitang – Jakarta

Masjdi yang diberi nama “Al-Riyadh” ini terletak di Jln. Kembang VI RT/RW 001/002 Kwitang, Senen, Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Diwilayah Kwitang sendiri terdapat dua lokasi yang sangat bersejarah dalam perkembangan ajaran agama Islam di Batavia (Nama Jakarta pada masa penjajahan Belanda). Kedua saksi sejarah yang masih ada hingga saat ini adalah Masjid Ta’lim Kwitang, Masjid Jami’ Al-Riyadh.

Masjid Jami’ Al-Riyadh Kwitang

Perang seorang Habib (keturunan langsung dari Rosulullah) juga tidak luput dari perkembangan islam di daerah kwitang.Habib Ali Alhabsyi Bin Habib Abdurrahman Alhabsyi telah menyebarkan agama islam di Kwitang selama beberapa waktu lamanya sehingga beliau dijuluki dengan Habib Kwitang.

Masjelis Ta’lim Kwitang juga tercatat sebagai majelis Ta’lim tertua di Indonesia dan masih aktif hingga sekarang dengan ribuan jamaah sebagai anggotanya. Majelis tersebut ternyata juga berperanpenting sebagai pemersatu pejuang Indonesia yang ingin merebut kembali kemerdekaannya.

Sejarah Masjid Al-Riyadh Kwitang

Majid Jami’ Al-Riyadh Kwitang didirikan pada tahun 1938 Masehi oleh Habib Ali Al Habsyi. Dilokasi inilah Habib Ali beserta dengan santri serta penduduk setempat mulai bergotong royong untuk membangun majlis taklim ri rumah beliau. Tempat / kediaman Habib Kwitang tersebut kemudian diberi nama Baitul Makmur.

Pada tahun-tahun kedepannya, nama Baitul Makmur tersebut sempat berganti selama berkali kali seperti pada tahun 1950 menjadi Unwanul Falakh. Akhirnya pada pertangahan abad ke-19, nama masjid tersebut dirubah secara resmi dengan nama “Masjid Al-Riyadh. Namun masjid ini lebih dikenal dengan nama Masjid Kwitang.

Hingga pada tahun 1960-an, Habib Ali selalu memberikan ilmunya kepada para santri. Kemudian beliau juga membangun satu Islamic Center Indonesia dan ditempatkan di rumahnya. Masjid ini sebenarnya pernah resmi diresmikan ulang oleh Bung Karno pada tahun 1963 lalu, dan diberi nama “Baitul Ummah”, namun kebiasaan yang sudah mengakar di masyarakat muslim disana tidak menyebutkan Baitul Ummah, namun tetap menggunakan nama Masjid Jami’ Al-Riyadh.

Pada masa perjuangan kemerdekaan melawan penjajah belanda, selain digunakan sebagai sarana syiar Islam, masjid ini juga dipakai oleh pejuang NKRI dalam penyusunan strateginya, maupun pada mekanisme dan rencana serangannya.

Arsitektural Masjid Jami’ Al-Riyadh Kwitang

interior Masjid Jami’ Al-Riyadh Kwitang

Bangunan Masjid Kwitang ini terdiri dari dua lantai, ditambah sebuah menara besar yang dibangun disisi kanan bagian depan masjid. Lantai pertama biasanya digunakan sebagai tempat shoalt utama, dan bahkan masih dapat menampung keseluruhan jamaan meskipun pada bulan Ramadhan. Sedangkan lantai kedua / atas, hanya dikhususkan pada sholat hari raya Idul Fitri. Selain digunakan untuk Sholat Ied, ternyata lantai dua bukan hanya dibiarkan saja, namun tetap dimanfaatkan sebagai tempat diselenggarakannya pendidikan madrasah yang dikelola oleh pengurus Masjid Jami’ Al-Riyadh.

Pada bagian dalam kita bisa menemukan banyak sekali tiang-tiang penyangga atap yang berbentuk persegi. Karena memang berada di tengah-tengah pemukiman yang sangat padat, masjid ini jadi tidak memiliki halaman yang luas, karena keterbatasan tanah yang kita miliki.

Dibagian dalam bangunan utamanya akan terasa sanagat lega, karena efek yang diberikan bentuk mihrab dengan atap yang sangat tinggi.  Namun, mihrab tersebut tidak digunakan sebagai ruangan khusus Imam Sholat, karena sajadah pemimpin negara tersebut terletak dibelakang mihrabnya.,Sedangkan untuk bagian mimbarnya terbuat dari kayu-kayu pilihan yang masih awet hingga kini. Jika kita memasuki ruangan masjid ini, kita akan disuguhi dengan pemandangan yang indah dan menentramkan.efek yang diberikan memang menjadi kesan yang luas, sehingga jika kita ingin beriktikaf akan menjadi lebih tenang lagi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *