Masjid Agung Palembang Dengan 2 Arsitektur Megah Dan Unik

Masjid Agung Palembang Dengan 2 Arsitektur Megah Dan Unik

Masjid Agung Palembang merupakan salah satu Masjid Agung tertua di Indonesia, karena sudah memiliki usia hampir 3 abad sejak dibangunnya pada tahun 1738. Masjid ini telah di bangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo dengan memiliki arsitektur yang unik dari perpaduan 3 unsur budaya, yaitu Nusantara, Eropa, dan China. Keaslian bangunan Masjid Agung Palembang hingga hari ini masih terjaga meskipun ada tambahan dan renovasi yang telah dilakukan.

Masjid Agung Palembang

sumber : https://idea.grid.id/

Masjid Agung Palembang dulu merupakan masjid Kesultanan Palembang Darussalam karena lokasinya berada di komplek keraton Kesultanan Palembang Darussalam yang dulunya dikelilingi oleh banyak sungai, diantaranya oleh Sungai Musi, Sungai Sekanak, Sungai Tengkuruk, dan Sungai Kapuran. Hari ini Sungai Tengkuruk, dan Sungai Kapuran sudah tidak ada karena sudah ditimbun tanah oleh Penjajahan Belanda.

Masjid Agung Palembang pertama kali hanya bangunan yang berukuran 30 x 36 meter atau seluas 1080 meter persegi dengan daya tampung 1200 jamaah dan tanpa ada bangunan menara. Kapasitas masjid di atas 1000 jamaah sehingga menjadikan masjid ini sebagai Masjid Agung terbesar di nusantara saat itu.

sumber : https://www.goodnewsfromindonesia.id/

Keberadaan menara masjid di bangun di masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamudin (1758-1774). Arsitektur menara bergaya China karena mirip kelenteng pada atapnya. Setelah terjadi perang besar, di tahun 1879 dilakukan perubahan dan perluasan masjid. Salah satu di antara bangunan yang dirubah adalah gerbang serambi masuk di bongkar, kemudian ditambah serambi terbuka dengan tiang beton bulat bergaya Eropa sehingga mirip pendopo. Perluasan dan perbaikan dilakukan hingga di tahun 1999 yang berakhir dengan keberadaan bangunan kuno dan modern. Tetapi, bangunan kuno masih terjaga dengan baik hingga saat ini.

Bangunan Kuno

sumber : https://indonesianblogkita.wordpress.com/

Bangunan kuno pada Masjid Agung Palembang yaitu bangunan lama sejak masjid ini didirikan yang berada di sebelah barat dan diapit oleh dua bangunan tambahan baru di sisi utara dan selatan. Gaya arsitektur China tampak pada bangunan lama Masjid Agung Palembang yang bisa di lihat pada atapnya seperti atap kelenteng. Bangunan lama memiliki ornamen yang unik, ornamen-ornamen tersebut bisa di lihat mulai dari tiang masjid yang memiliki banyak hiasan di bagian kaki tiang dan bagian atas tiang juga memiliki hiasan motif kotak dengan pelipit setengah lingkaran. Kemudian pada mimbar, pintu atap, dinding, dan jendela masjid juga memiliki ornamen yang unik,

Ruang utama berukuran 23 × 23 m terdapat sembilan pintu dan 16 belas tiang yang terdiri atas empat tiang soko guru. Pada ruangan inilah terletak mihrab dengan dinding bagian belakang mihrab terdapat ukiran kaligrafi Muhammad dibuat berganda (Muhammad bertangkup).Di dalam mihrab yang lama terdapat lemari dan rak buku untuk menaruh Al-Quran dan buku-buku keagamaan lainnya.

Bangunan Modern

sumber : https://www.suaramasjid.com/

Bangunan modern Masjid Agung Palembang terdiri dari 4 ruangan. Ini adalah bangunan tambahan untuk menambah kapasitas jumlah jamaah. Pada ruang tambahan pertama memiliki ukuran 36 × 32 m dengan satu buah pintu masuk utama pada dinding timur dan pada bagian tengah dinding terdapat tiga buah pintu. Ruang tambahan pertama ini mempunyai atap tersendiri tidak bersatu dengan ruang utama. Kemudian ruang tambahan kedua merupakan bangunan tingkat dua berbentuk ‘U’ seperti ruang tambahan I , lantai II berfungsi sebagai tempat shalat kaum wanita dan pengajian. Ruangan ini mempunyai pintu sebanyak Sembilan buah. Selain itu terdapat tiang berbentuk bulat polos berwarna kuning gading berjumlah 32 buah, tiang dengan umpak persegi dan badan bulat mengecil hingga keatas berjumlah 26 buah dan tiang dengan dasarnya bulat ada 34 buah.

Berikutnya ruangan tambahan ketiga terletak di sisi timur masjid dan merupakan bangunan baru (tahun 1970). Ruang mempunyai tiga buah pintu dan jendela tanpa daun jendela, hanya ditutup dengan teralis bertuliskan Allah dan Muhammad. Ruangan ini merupakan pintu (jalan) masuk melalui masjid yang hanya dibuka pada saat shalat Jum’at atau shalat Ied. Dan yang terakhir ruangan ke empat yang merupakan ruangan terbuka dengan teralis sebagai dindingnya, tetapi pada bagian atasnya terdapat dinding berhiaskan motif bujur sangkar berderet dan kelopak bunga di atas bujur sangkar tersebut. Dalam ruangan terdapat menara baru dengan pintu masuk menara di sisi timur ruangan ini juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *