Masjid Al Safar Masjid Singgah Terbesar

Masjid Al Safar Masjid Singgah Terbesar

Masjid Al Safar sesuai dengan namanya, yaitu masjid yang berfungsi sebagi masjid untuk tempat singgah bagi musafir. Namun keberadaan masjid ini sempat menjadi kontroversi karena arsitektur banguan masjid yang tidak seperti bentuk masjid pada umumnya.

sumber : https://www.skanaa.com/

Masjid ini yang berlokasi di rest area KM 88 ruas jalan tol Purbaleunyi arah Jakarta merupakan lokasi yang sangat strategis sebagai tempat singgah untuk melepaskan kepenatan di jalan dengan melakukan ibadah, atau hanya sekedar menikmati pemandangan bangunan Masjid Al Safar.

Sejarah Pembangunan Masjid Al Safar

Pembangunan Masjid ini adalah salah satu optimalisasi pelayanan dan peningkatan mutu bagi para pelanggan dari PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Masjid yang memiliki luas area sekitar 6.687 meter persegi, terdiri dari bangunan masjid seluas 1.411 meter persegi, dan sisanya dengan luas 5.276 meter persegi difungsikan sebagai fasilitas pendukung Masjid Al Safar seperti taman, kolam, tempat wudhu dan toilet masjid.

sumber : https://kumparan.com/

Proses pembangunan Masjid ini dilakukan sejak tanggal 11 Maret 2014 yang dilakukan oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Sebelum dilakukan pembangunan Masjid ini perlu kita ketahui siapa yang merancang Masjid Al Safar, ternyata yang merancang Masjid ini adalah seorang Walikota Bandung saat itu yaitu Ridwan Kamil. Sebelum menjadi pejabat publik, Ridwan Kamil adalah seorang arsitek dengan perjalanan pendidikan arsitektur dimulai dari Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian melanjutkan S2 ke Amerika Serikat di University of California, Berkeley mengambil program Magister of Urban Design pada tahun 2001. Selepas lulus Ridwan Kamil sempat bekerja di berbagai firma di negeri Paman Sam sebagai arsitek profesional. Setelah pulang ke tanah air, Ridwan Kamil mendirikan konsultan perencanaan, arsitektur, dan desain yang bernama Urbane. Dan Konsultan Urbane inilah yang merancang desain Masjid Al Safar. Ridwan Kamil juga menjadi dosen Jurusan Teknik Arsitektur di ITB, serta Senior Urban Design Consultant di perusahaan yang berbasis di Hong Kong, Amerika Serikat, dan Singapura.

Masjid Al Safar adalah masjid yang terbesar yang ada di rest area tol. Masjid yang menghabiskan dana sekitar 10 M ini memiliki kapasitas jamaah 1.200 jamaah. Pada 19 Mei 2017, PT Jasa Marga Tbk dengan Ridwan Kamil yang waktu itu menjabat sebagai Walikota Bandung meresmikan Masjid Al Safar. Masjid ini semakin hari semakin banyak pengguna jalan tol yang singgah untuk beristirahat serta melakukan ibadah sholat. Area masjid yang menarik membuat para pengguna jalan tol yang singgah bisa lepas dari kepenatan ramainya jalan raya.

Ketika malam hari Masjid Al-Safar tidak dipenuhi dengan pencahayaan yang terang, hanya beberapa lampu sorot saja pencahayaannya agar kesan estetik masjid tampak. Lampu sorot berbentuk bulan bintang sebagai simbol Islam ini bisa berubah-ubah warnannya.

Bagian-bagian Masjid Al Safar

Gerbang dan Mihrab Berbentuk Trapesium

masjid al safar

sumber : https://www.liputan6.com/

Gerbang dan Mihrab menurut Ridwan Kamil bukanlah bentuk segitiga, tetapi bentuk trapesium dengan memiliki empat sudut. Pada mihrab masjid terdapat sebuah ornamen yang berbentuk bulat yang menggantung bukanlah dirinya yang mendesain dan memasang ornamen tersebut, tetapi pihak kontraktorlah yang memasangnya yaitu pihak PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Yang menjadi kontroversi adalah ketika mihrab yang berbentuk trapesium tadi jika diberi ornamen bulat yang menggantung akan seperti simbol mata satu yang bermakna simbol dajjal. ‘All Seeing Eye’ alias mata satu adalah simbol utama dalam sebuah kelompok illuminati dan mereka banyak mendalangi berbagai peristiwa didunia. Jadi tambahan ornamen pada mihrab Masjid Al Safar adalah sabotase dari karya Ridman Kamil yang ia sendiri mengakuinya tidak ada gambar ornamen tersebut pada rancangannya, dan ornamen itu dipasang juga selepas proyek Masjid Al Safar sudah selesai dibangun.

Bangunan Masjid Berbentuk Mirip Peci

Bangunan Masjid Al Safar ujung depan dan ujung belakang berbentuk mengerucut, kemudian sisi kanan dan kiri masjid sejajar dengan dinding mirip gabungan dari bebberapa segitiga. Kebanyakan orang menyebutnya mirip ikat kepala khas orang Sunda. Masjid desain modern ini memang sangat menarik dilihat dari sisi eksterior dan interior masjid. Desain mirip topi merupakan alasan masjid tidak menggunakan kubah. Kawasan masjid yang sangat tepat menjadi rest area memang dengan sengaja didesain menjadi sebuah bangunan ikonik yang tidak ekseklusif karena sebagaimana fungsi Masjid Al Safar yaitu sebagai tempat singgah dan melakukan ibadah.

Interior

Interior Masjid Istiqlal juga mengeruct di bagian atap depan dan belangkang masjid. Karena Masjid Al Safar tanpa kubah, maka interior masjid tidak ada tiang sebagai penopang atap masjid. Selain itu menurut perancang Masjid Al Safar bahwa tiang dalam interior masjid menjadi gangguan kesempurnaan shof sholat sehingga tiang masjid ditiadakan dan ruang sholat utama menjadi tampak besar.

Mezanine

sumber : https://www.idntimes.com/

Mezanine adalah suatu tempat atau ruang tambahan yang letaknya berada di antara lantai dan plafon jika dalam interior masjid biasanya difungsikan sebagai tempat jamaah perempuan. Namun sebelum pembangunan mezanine sempat terhenti dengan bersama terhentinya pembangunan masjid Al Safar seluruhnya. Baru di tahun 2017 pembangunan dilanjutkan oelh kontraktor berbeda yaitu PT Jasa Marga Property., meskipun perusahan tersebut anak perusahaan dari PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Area wudhu

Area wudhu dan kamar mandi Masjid Al Safar sangat luas. Selain itu didepan area wudhu terdapat kolam ikan yangjuga luas yang dihiasi dengan air mancur. Setelah sholat duduk dipinggir kolam sangat asyik sambil menikmati pemandangan area masjid yang menarik. Selain itu didalam masjid juga bisa menikmati pemandangan dari kaligrafi bertulisakan Arab yang berwarna hijau.

Masjid Al Safar Terinspirasi Bentuk Alam

Bentuk alam yang tidak beraturan menjadi inspirasi bagi Ridwan Kamil untuk merancang bentuk Masjid Al Safar. Teknik lipatan seperti origami Jepang menjadi metode yang diterapkan dalam merealisasikan bentuk tidak beraturan tadi. Agar bisa berbelok sebuah lipatan akan membentuk segitiga, selain itu dengan membuat lipatan akan bisa membuat sebuah bentuk tidak beraturan berdiri.

Masjid Al Safar Mendapat Nominasi

Desain Al-Safar bersaing dengan masjid-masjid unik lainnya seperti Masjid Agung Jawa Tengah, Masjid Minor Uzbekistan, Masjid Sancaklar Turki, Masjid Komunitas Ghana hingga dua masjid rancangan Ridwan Kamil dan Urbane sendiri yakni Masjid Raya Sumatera Barat, dan Al Irsyad, Bandung Barat. Akhirnya Masjid Al Safar mendapatkan penghargaan dari Abdullatif Al Fozan Award for Mosque Architecture. Al Fozan adalah sebuah lembaga non-profit dari Arab Saudi yang memiliki tujuan mendorong ide-ide baru dalam desain masjid diseluruh dunia mulai dari perencanaan, desain, dan teknologi untuk membentuk identitas sebuah arsitektur masjid di abad ke 21.

Melalui laman Urbane Indonesia Masjid Raya Sumatera Utara, Masjid Al Irsyad, dan Masjid Al Safar mendapatkan nominasi dari Abdullatif Al Fozan Award for Mosque Architecture.

Pengelola Masjid Al Safar

sumber : https://www.industry.co.id/

Pengelolaan Masjid Al Safar adalah PT Jasa Marga (Persero) Tbk. karena ini bagian dari pelayanan jalan tol Purbaleunyi arah Jakarta sehingga para pengguna jalan tol bisa menkmatinya dengan singgah di area Masjid Al Safar di KM 88 ruas jalan tol Purbaleunyi arah Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *