Runtuhnya Kesultanan Banten

Runtuhnya Kesultanan Banten

Runtuhnya Kesultanan Banten dimulainya dengan kehancuran pasukan kesultanan Banten di Cirebon yang telah dikuasai oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1680 M. Runtuhnya Kesultanan Banten disebabkan oleh Pangeran Martawijaya (Sultan Sepuh Syamsuddin) yang telah bersekutu dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) untuk mendapatkan tahtanya dengan menyetujui beberapa syarat yang telah diajukan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Kekalahan Pasukan Kesultanan Banten di Cirebon

runtuhnya kesultanan banten

sumber : https://muslimobsession.com/

Kekalahan pasukan gerilya Banten salah satu faktornya adalah terjadi konflik internal di kesultanan Banten. Dan kekalahan pasukan gerilya Banten ini menjadi proses awal runtuhnya kesultanan Banten. Apalagi konflik internal ini dibarengi permusuhan dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang telah bersekutu bersama Pangeran Martawijaya (Sultan Sepuh Syamsuddin).

Perjanjian 1681

Perjanjian 1681 merupakan perjanjian antara pihak Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dengan penguasa Cirebon. Dalam perjanjian tersebut telah disepakati keduanya dan ditandatangi oleh kedua belah pihak. Pada perjanjian 1681 pihak Belanda diwakili oleh Jacob van Dijk dan Joachim Michiefs. Perjanjian bersekutu ini memiliki tujuan untuk memonopoli perdagangan di wilayah Cirebon, Komoditas perdagangan yang ingin dimonopoli adalah komoditas lada, kayu, beras, gula, dan Jati. Dalam perjanjian ini kesultanan di Cirebon menjadi protektorat Belanda (wilayah dibawah naungan Belanda). Perjanjian 1681 juga membatasi perdagangan penduduk, membatasi pelayaran penduduk, dan memastikan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mendapatkan hak di Cirebon.

Perang Saudara

sumber : https://www.boombastis.com/

Runtuhnya kesultanan Banten juga dipicu oleh perselisihan di dalam internal kesultanan Banten karena perebutan kekuasaan antara Sultan Ageng dengan putranya Sultan Haji. Konflik ini menjadi potensi besar bagi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) untuk memanfaatkannya demi tujuan runtuhnya kesultanan Banten. Dengan memberikan dukungan kepada Sultan Haji maka terjadilah perang saudara.

Pada perang saudara ini Sultan Ageng harus keluar dari istananya dan pindah ke sebuah kawasan Tirtayasa. Pada tahun 1682 kawasan Tirtayasa. juga telah dikuasai oleh Sultan Haji bersama VOC. Selanjutnya, Sultan Ageng bersama putranya Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf yang berasal dari Makasar pindah ke arah selatan pedalaman Sunda. Hingga tahun 1683 Sultan Ageng akhirnya tertangkap dan ditahan di Batavia.

Ditangkapnya Sultan Ageng bukan menjadi akhir dari perlawanan kepada VOC. Perlawanan kepada VOC masih terjadi yang dilakukan oleh Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf. Akhirnya Belanda bisa menawan Syekh Yusuf pada tahun 1683. Kemudian Pangeran Purbaya menyerahkan diri kepada Belanda.

Cengkraman VOC Kepada Kesultanan Banten

sumber : https://www.radarbanten.co.id/

Runtuhnya kesultanan Banten terbukti nyata setelah dukungan VOC kepada Sultan Haji berhasil. Dan saatnya VOC minta kopensasi atas dukungan tersebut. Diantara kompensasinya adlah wilayah Lampung menjadi kekuasaan VOC. Kemudian VOC memiliki hak monopoli perdagangan Lada di Lampung. Tidak hanya itu saja, kerugian perang yang dialami VOC harus juga diganti oleh Sultan Haji.

Kekuatan VOC mulai tampak mencengkeram kesultanan Banten setel meninggalnya Sultan Haji pada tahun 1687. Mulai runtuhnya kesultanan Banten tampak terlihat saat pengankatan para sultan Banten harus persetujuan dari pihak Belanda di Batavia. Akibat perang saudara ternyata masih membekas dan membuat semakin runtuhnya kesultanan Banten dengan kondisi pemerintahan yang tidak stabil. Perlawanan rakyat kepada kesultanan Banten terus terjadi hingga kesultanan Banten meminta bantuan kepada Belanda untuk meredam perlawanan dari rakyat.

Runtuhnya Kesultanan Banten

Runtuhnya kesultanan Banten tercatat pada tahun 1859. Dan pada tahun 1808 hingga 1810 pihak Hindia Belanda memerintahkan untuk membangun jalan raya pos dengan tujuan mempertahankan Pulau Jawa dari serangan pasukan Inggris. Dalam pembangunan jalan raya tersebut pihak Hindia Belanda memerintahakan sultan Banten untuk memindahkan ibukotanya ke wilayah Anyer. Selain diperintahkan untuk memindahkan ibukota, sultan Banten juga disuruh untuk menyediakan tenaga kerja dalam pembangunan pelabuhan yang ada di Ujung Kulon.

Namun, perintah Hindia Belanda tersebut ditolak oleh sultan Banten. Sehingga pihak Hindia Belanda marah dan menyerang kesultanan Banten. Kemudian pihak Hindia Belanda menangkap sultan beserta keluarganya dan ditahan di Puri Intan (Istana Surosowan), kemudian dipenjarakan di Benteng Speelwijk. setelah terjadi runtuhnya kesultanan Banten, selanjutnya pihak Belanda mengasingkan Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin ke Batavia.

Setelah runtuhnya kesultanan Banten, pihak Hindia Belanda mengumumkan bahwa wilayah kesultanan Banten menjadi wilayah kekuasaan Hindia Belanda dan melepaskan Lampun dari wilayah kekuasaan kesultanan Banten. Runtuhnya kesultanan Banten resmi pada tahun 1813.

Agama Masyarakat Banten

Runtuhnya kesultanan Banten menjadi menarik untuk membahas agama masyarakat Banten sebelum kesultanan ini berdiri. Agama awal masyarakat Banten sangat terpengaruh oleh agama kerajaan disekitar wilayah tersebut, yaitu Hindu – Budha. Dalam Babad Banten, diceritakan peran besar Sunan Gunung Jati bersama Maulana Hasanuddin dalam berdakwah secara intensif kepada pimpinan wilayah Banten dan masyarakatnya.

Kesultanan Banten ini berdiri karena Islam sudah menjadi agama mayoritas masyarakat Banten setelah disentuh oleh dakwah Sunan Gunung Jati bersama Maulana Hasanuddin. Runtuhnya kesultanan Banten menjadi hal yang menyedihkan. Karena kesultanan ini dulu dibangun dengan dakwah Islam oleh Sunan Gunung Jati bersama Maulana Hasanuddin hingga menjadi sebuah pemerintahan Islam di wilayah Banten.

Dahulu Kadi menjadi sebuah lembaga penting dalam pemerintahan Kesultanan Banten, Kadi bertanggungjawab untuk menyelesaikan sengketa rakyat di pengadilan agama, juga dalam penegakan hukum Islam. Dalam pemerintahan Banten dahulu umat Islam memiliki toleransi tinggi kepada umat lainnya. Komunitas agama lainnya juga dibolehkan membangun sarana peribadatan mereka, dan ini terbukti sekitar tahun 1673 berdiri beberapa klenteng di kawasan sekitar pelabuhan Banten.

Pemerintahan Banten

JIka ditinjau lokasi pusat pemerintahan Banten dahulu berada antara dua buah sungai yaitu Ci Banten dan Ci Karangantu. Pada lokasi tersebut merupakan pusat pemerintahan dengan beberapa bangunan khas kesultanan Islam seperti pasar, alun-alun dan Istana Surosowan. Sedangkan disisi utara istana juga di bangun Masjid Agung Banten dengan menara berbentuk mercusuar yang dulunya berfungsi sebagai menara pengawas. Runtuhnya kesultanan Banten yang tersisa bangunan dari pemerintahan ini yang masih berfungsi hingga kini adalah Masjid Agung Banten. Sehingga masjid Agung Banten ini merupakan salah satu warisan dari Kesultanan Banten.

Warisan Sejarah Islam di Nusantara

sumber : https://news.okezone.com/

Setelah runtuhnya Kesultanan Banten, wilayah Banten menjadi bagian dari kekuasaan kolonialisasi Hindia Belanda. Setelah runtuhnya kesultanan Banten, pada kekuasaan Hindia Belanda di tahun 1817, wilayah Banten menjadi karisedenan hingga tahun 1926. Setelah ditahun itulah wilayah Banten menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat. Kejayaan Kesultanan Banten di masa lalu menginspirasikan masyarakat Banten untuk menjadikan kawasan Banten sebagai satu kawasan otonomi. Dan setelah era reformasi pemerintahan Indonesia menjadikan kawasan Banten sebagai provinsi tersendiri yang ditetapkan sah melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000. Selain itu penduduk Banten merupakan satu kumpulan etnik tersendiri dengan perpaduan berbagai antar-etnis yang sudah pernah ada pada masa kejayaan Kesultanan Banten. Keberagaman penduduknya menjadikan Banten sebagai salah satu kekuatan dominan yang ada di Nusantara.

Demikian sedikit penjelasan singkat tentang perjalanan runtuhnya kesultanan Banten. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua untuk mengambil nilai-nilai kebaikan yang ada dalam perjalan sejarah kesultanan Banten.

 

12 Comments

  1. Kubah, gimana sih peran VOC bisa kuat banget di kesultanan Banten? Mereka pake strategi apa ya?

  2. Menurutku, kekalahan Banten itu bukan cuma soal militernya loh, tapi juga strategi dan diplomasi yang kurang jitu.

  3. Data tentang perjanjian 1681 itu bener ya? Kayaknya banyak versi deh, harus hati-hati ngukur kebenarannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *