Masjid Agung Bahria – Lahore

Masjid Agung Bahria – Lahore

Masjid Agung Baria merupakan masjid agung yang berada di kota Bahria, Provinsi Lahore, Republik Islam Pakistan. Masjid ini mulai dibuka pada saat perayaan Hari Raya Qurban (Idul Adha) 1433 H atau tepatnya pada tanggal 06 Oktober 2014. Pembangunan masjid ini memerlukan waktu 3 tahun mulai dari tahun 2011 sampai pada tahun 2014 dengan melibatkan hingga 1000 pekerja untuk pembangunannya.

Masjid Agung Bahria

Masjid ini merupakan masjid yang menempati posisi ketiga terbesar di Pakistan setelah Masjid Badshasi Lahore dan Masjid Raja Faisal Islamabad. Karena ukurannya sangat luas, masjid ini mampu menampung hingga 70.000 jamaah, 25.000 jamaah bisa ditampung pada ruang utama, sedangkan sisanya bisa ditampung dibangunan sekitar dan pelataran masjid.

Dengan bangunan yang sangat megah bergaya klasik, serta wilayah yang luas, tidak heran jika pembangunan Masjid Agung Bahria ini menghabiskan dana sekitar Rs 4 Miliar atua sekitar Rp. 510 miliar.

Majid Bahria dirancang khusus oleh para arsitek lokal dari Pakistan, wajar saja jika kemudian masjid terbesar ke-3 di pakistan ini disebut-sebut sebagai karya Masterpiece dari kumpulan arsitek lokal. Dari ukuran serta luas bangunannya, masjid ini masuk dalam peringkat masjid terbesar ke-7 di dunia.

Peresmian masjid dilakukan sendiri oleh Mantan Presiden Pakistan, Asif Ali Zardari, beserta para pejabat tinggi negara, serta puluhan ribu jamaah muslim sekitar, bertepatan dengan perayaan Hari Raya Idul Adha 1435 H. Selain itu, pihak tokoh agama serta tokoh masyarakat sipil dan militer juga ikut dalam peresmian tersebut.

Peresmian dilakukan setelah Sholat Idul Adha yang pada hari itu dipimpin oleh Allama Shamsul Arfeen, selesai dilaksanakan.

Walikota Bahria bersama koleganya menyatakan kebanggaannya atas berdirinya Masjid Agung Bahria dan sekaligus dinobatkan sebagai identitas asli Bahria dan Simbol kemegahan Pakistan di dunia Islam.

Sedangkan pada segi arsitekturnya, masjid ini terinspirasi oleh masjid Badshahi, masjid Wazir Khan serta masjid Syeikh Zayed. Pembangunannya ditangani oleh beberapa arsitek lokal sekaligus, misalnya Maqsood Ahmed, Nayyar Ali Dada serta Arfan Ghani.

Sejak dimulai pembangunan sampai masjid selesai dibangun, bangunan masjid ini menyita perhatian publik karena ukuran serta luasnya yang tidak lazim. Akhrinya dengan kepopulerannya, masjid ini dinobatkan sebagai Landmark bagi kota Bahria, serta menjadi tambahan ciri dari negera Pakistan.

Masjid Bahria memiliki kurang lebih 21 kubah, yang terdiri dari 1 kubah utama berukuran besar, dan 20 kubah-kubah yang berukuran lebih kecil. Selain itu, terdapat juga pelataran tengah yang sangat luas dikelilingi oleh koridor tertutup yang diapit oleh empat menara setinggi 165 kaki atau 50 meter.

Kubah utama masjid dirancang sedemikian rupa hingga memiliki ketinggian 150 kaki atau 45 meter, dengan hiasan lapisan ukiran bermotif tumbuhan, serta kaligrafi khas dinasti Mughal.

Material bangunan utama menggunakan batu merah, terutama pada bagian eksteriornya. Batu merah tersebut adalah bahan baku juga digunakan dalam pembangunan masjid Badshashi dan masjid Wazir Khan.

interior Masjid Agung Bahria

Interior yang dirancang sangat megah dan mengagumkan, dengan pduan seni bina bangunan tradisional Islam dengan kultur Islam daerah Pakistan. Kaligrafi yang sama juga di gunakan di masjid Badshahi, sedangkan keramik yang digunakan meniru keramik masjid Wazir khan. Kesengajaan ini memang ditanamkan di masjid Agung Bahria, karena kekaguman arsiteknya dengan bangunan masjid Badshahi dan masjid Wazir Khan yang sangat megah, dan tetap kokoh meskipun sudah berusia tua.